Tenggelam dalam Timeline

Timeline Media Sosial
Kecanduan Gadger (Sumber: Media Sosial dari pixabay.com)

Di tengah malam, ribuan bahkan jutaan orang di dunia masih terjaga, dan kebanyakan dari hal ini bukan dikarenakan oleh penyakit insomnia loh, melainkan dikarenakan jari-jari yang tidak bisa berhenti menggerakkan layar ponsel, serta kedua mata yang masih terbuka lebar untuk membaca huruf-huruf yang muncul di layar ponsel.

Semakin lama seseorang menghabiskan waktu dengan menjelajah di media sosial, akan ada banyak sekali konten-konten viral yang dikonsumsi, dan tanpa disadari lama-kelamaan konten tersebut dapat berubah menjadi konten yang berisi tentang berita-berita negative yang sedang viral, contohnya seperti konten tentang perselingkuhan atau tindakan asusila.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dengan banyaknya mengkonsumsi berita-berita negative itu, seseorang dapat mengalami kecemasan dan emosi yang berlebih. Nah, dari fenomena tersebut, apa sih sebenarnya yang sedang terjadi? Yuk kita cari tahu dan bahas bersama!

 

Doomscrolling

Fenomena ini biasa disebut juga “doomscrolling”, yaitu kebiasaan mengonsumsi konten negatif di media sosial secara berlebihan hingga menyebabkan kecemasan dan kegelisahan. Rasa cemas dan gelisah ini diperkuat oleh algoritma dari media sosial yang terus menampilkan dan merekomendasikan konten kontroversial dan emosional yang dapat menarik perhatian publik dan membuat seseorang betah untuk terus membaca.

Timeline, yang awalnya dimaksudkan untuk menghubungkan, sekarang menjadi jurang yang menenggelamkan penggunanya dalam spiral informasi yang tidak bisa dihentikan.

Mujahiddin, dkk. (2017) menyebutkan terdapat sekitar 79 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia dan sekitar 66 juta orang yang mengakses media sosial melalui perangkat mobile. Dengan banyaknya jumlah pengguna aktif di media sosial, ini mempengaruhi bagaimana banyaknya informasi masuk ke dalam timeline para pengguna media sosial.

Doomscrolling bukanlah sekadar kebiasaan buruk, ini adalah jerat psikologis yang dibuat oleh algoritma media sosial. Setiap kali kita membuka aplikasi, otak kita dipenuhi dengan dopamin, yang menghasilkan banyak informasi baru, bahkan jika informasi itu negatif.

Kecanduan dihasilkan oleh siklus ini: kita cemas tentang apa yang terjadi di dunia, lalu membuka media sosial untuk “memastikan”, yang hanya memperburuk kecemasan. Lebih buruk lagi, kebiasaan ini menghabiskan waktu yang berharga untuk beristirahat, bersosialisasi, atau mencapai tujuan personal.

Baca juga: Waspada Kecanduan Gawai, Nomophobia Mengancam Kesehatan Mental!

 

Apa yang Akan Terjadi Jika Seseorang Mengalami Fenomena Doomscrolling?

Bagaimana doomscrolling berdampak pada kesehatan mental tidak bisa kita anggap sebagai sesuatu yang sepele. Selama bertahun-tahun, paparan konten negatif meningkatkan respons stres tubuh, meningkatkan kadar hormon kortisol, yang dapat menyebabkan depresi dan gangguan kecemasan kronis.

Menurut Satici, dkk. (2023) kebiasaan ini dapat membuat individu menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mendengarkan, menonton, atau terus-menerus menelusuri berita mengenai peristiwa yang mengkhawatirkan melalui internet yang dapat menimbulkan perasaan cemas, khawatir, ketidakpastian terhadap masa depan, kesedihan, bahkan kemarahan.

 

Faktor yang Membuat Seseorang Mengalami Doomscrolling 

FOMO (Fear of Missing Out) menjadi salah satu faktor pendorong utama doomscrolling. Menurut Sharma et al., (2022) doomscrolling memiliki hubungan positif dengan penggunaan media sosial secara umum, passive use, fear of missing out (FOMO), problematic social media use, serta anxiety.

Di era informasi yang cepat ini, banyak orang merasa perlu selalu mengikuti perkembangan berita agar tidak ketinggalan percakapan atau dianggap tidak tahu apa-apa oleh orang-orang di sekitar mereka. Ketakutan ini mendorong kita untuk mengecek jadwal berkali-kali setiap hari, bahkan saat kita seharusnya fokus pada pekerjaan atau waktu bersama keluarga.

Ironisnya, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk scrolling, semakin kita merasa tertinggaldan tidak produktif, yang menyebabkan kecemasan. FOMO menciptakan ilusi bahwa kita harus tahu segalanya. Namun, kebanyakan informasi yang kita konsumsi tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari kita dan tidak bermanfaat.

Desain scroll tak terbatas juga memperburuk fenomena ini karena menghilangkan titik perhentian. Dikarenakan timeline tidak memiliki “akhir”, otak kita tidak pernah menerima sinyal untuk berhenti. Akibatnya, kita terus mencari informasi baru dengan harapan menemukan sesuatu yang menenangkan, tetapi yang kita temui malah lebih banyak berita yang mengganggu.

Sa’i, dkk. (2025) mengatakan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu kecemasan sosial, gangguan tidur, dan tekanan untuk selalu terhubung. Cahaya biru dari layar ponsel dapat mengganggu produksi hormon melatonin, yang membantu individu untuk tidur, sementara konten yang memicu emosi kuat membuat seorang individu tetap terjaga dan sulit tidur.

Tidak mengherankan jika banyak orang yang melakukan doomscrolling sebelum tidur mengalami kesulitan untuk tertidur,tidak tidur dengan nyenyak, atau bangun dengan perasaan tidak segar di pagi hari. Kurang tidur terus menerus menyebabkan terbentuknya lingkaran setan: stres dan kelelahan membuat kita lebih mudah terpapar konten negatif dan lebih sulit untuk mengontrol mengendalikan emosi.

Kita juga kurang produktif di siang hari, membuat kita merasa tidak berdaya, dan kembali mencari pelarian di media sosial, yang merupakan siklus buruk yang tanpa disadari terjadi berulang.

 

Pencegahan Doomscrolling

Namun, mengidentifikasi masalah merupakan langkah pertama menuju perubahan. Ada sejumlah pendekatan praktis yang dapat membantu kita mengontrol kebiasaan doomscrolling.

  1. Tetapkan batasan waktu yang jelas untuk penggunaan media sosial menggunakan fitur screen time atau aplikasi pihak ketiga.
  2. Membuat jadwal khusus untuk mengecek media sosial, misalnya tiga kali setiap hari, dan hindari membuka aplikasi di luar jadwal tersebut.
  3. Memeriksa konten dengan hati-hati. Jangan ikuti atau coba untuk mute akun yang sering membagikan konten negatif atau memicu kecemasan, dan ikuti akun yang memberi inspirasi atau pengetahuan positif.
  4. Matikan notifikasi di aplikasi media sosial agar kita tidak tergoda untuk memeriksa setiap pemberitahuan.

 

Tenggelam dalam timeline adalah pilihan, bukan takdir. Mengikuti jadwal adalah pilihan, bukan keharusan. Kita masih bisa keluar dari pusaran itu, meskipun ada algoritma yang membuat kita scroll dan platform media sosial mengambil keuntungan dari perhatian kita.

Media sosial adalah alat yang netral, ia bisa menjadi sumber inspirasi, informasi, dan koneksi yang bermanfaat, atau menjadi sumber kecemasan, waktu yang terbuang, dan penderitaan psikologis. Selalu ada berita baru, dan masalah baru untuk diperhatikan. Namun, waktu yang kita miliki terbatas, kesehatan mental yang kita miliki amat berharga, dan kehidupan nyata kita tidak akan menunggu sementara kita sibuk tenggelam dalam dunia digital.

 

Penulis: Nadya Aulia Zhafira (G1C124016)
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

Dosen Pengampu :

  1. Agung Iranda, S.Psi., M.A.
  2. Annisa Dianesti Dewi, S.Psi., M.Psi. Dr.
  3. Nofrans Eka Saputra, S.Psi., M.A.
  4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M,Si.
  5. Ayu Ulivia, M.Pd.

 

Referensi

Mujahiddin, M. Said Harahap (2017). Model Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Pemuda. https://doi.org/10.30596/interaksi.v1i2.1200.

Sa’i, M., Nugroho, P. A., & Umar, I. (2025). Remaja di era digital: Menangkal efek negatif doomscrolling dan fomo terhadap siswa SMP Ihyaussalafiyah Surabaya. IJoEd: Indonesian Journal on Education, 1(4), 402-410. https://ijoed.org/index.php/ijoed

Satici, S. A., Gocet Tekin, E., Deniz, M. E., & Satici, B. (2023). Doomscrolling Scale: its Association with Personality Traits, Psychological Distress, Social Media Use, and Wellbeing. Applied Research in Quality of Life, 18(2), 833–847. https://doi.org/10.1007/s11482-022-10110-7

Sharma, B., Lee, S. S., & Johnson, B. K. (2022). The Dark at the End of the Tunnel: Doomscrolling on Social Media Newsfeeds. Technology, Mind, and Behavior, 3(1). https://doi.org/10.1037/tmb0000059

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses