Teologi Pantar: Konsep Penggembalaan Berbasis Budaya di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi

Teologi Pantar: Konsep Penggembalaan Berbasis Budaya di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi
Membuat pantar (sumber: https://pakpaklirik.blogspot.co)

Abstrak

Pantar adalah menara di kebun atau sawah masyarakat Pakpak, berfungsi sebagai tempat pengawasan terhadap serangan hama, seperti burung pipit.

Filosofi pantar ini relevan dengan pelayanan gereja masa kini: pelayan Tuhan sebagai penjaga ladang Tuhan—umat-Nya—dengan Yesus Kristus sebagai pusat menara penjagaan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pantar sebagai simbol pelayanan yang kokoh, tinggi, dan strategis menggambarkan keteguhan dan kewaspadaan dalam pelayanan gereja.

Tulisan ini memperkenalkan “Teologi Pantar” sebagai pendekatan kontekstual dalam pelayanan di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).

Kata kunci: pantar, tinggi, penjaga, hama, gangguan, penuai,warga jemaat.

Pendahuluan

Gereja Kristen Protestan Pakpak yang disingkat dengan GKPPD adalah salah satu gereja lokal atau gereja suku yang berkantor pusat di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Sepanjang sejarah permulaan HKBP di Tanah Pakpak, sampai pertengahan tahun 1965 tepatnya bulan Juli, denominasi gereja bernama GKPPD adalah HKBP yang berada di Kabupaten Dairi dahulu dan Kuta Karangan, Provinsi Aceh.

Pada tanggal 25 Juli 1965 sampai tahun 1995 berubah menjadi HKBP Simerkata Pakpak, yang diawali dengan pendirian gereja HKBP Simerkata Pakpak 3 Maret 1963 di Sumbul, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, disusul pendirian HKBP Simerkata Pakpak Sidikalang tahun 18 April 1965.

Dalam kurun waktu 1963 sampai 1995, HKBP Simerkata Pakpak mengalami peningkatan, mulai dari resort-resort, lalu menjadi Distrik Simerkata Pakpak dan kemudian menjadi HKBP Simerkata Pakpak Otonom (HKBP SPO) yang dipimpin oleh Wakil Eporus.

Pada tanggal 6 Agustus 1995 resmi menjadi satu gereja sinode yang diresmikan secara de jure oleh Oppui Eporus HKBP Pdt. DR. P.W.T. Simanjuntak dengan pimpinan pusat bernama Bishop.

Namun, sebelumnya sebagian gereja HKBP SPO telah memisahkan diri menjadi GKPPD yang diproklamirkan tahun 1991 di HKBP Simerkata Pakpak Padang Bulan Medan, bishop dan sekjennya adalah Pdt. J. Solin, S.Th dan Sakkap Manik.

Sejak mandiri (menjunjung Lupo) tahun 1995 sampai dengan 2025 Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi sudah berusia 30 tahun.

Jika HKBP Simerkata Pakpak 30 tahun berarti usia gereja yang didalamnya orang-orang Pakpak (percaya) sudah 60 tahun.

Adakah perbedaan yang positif dalam dua kurun waktu tersebut dari HKBP sebagai asalnya? Jawabnya diserahkan kepada saudara-saudara seiman dalam wadah GKPPD!

Denominasi gereja yang relatif muda ini kiranya semakin intens melayani umatnya, bersimbol budaya Pakpak yang masih terus eksis hingga saat ini, agar berubah dari yang duniawi menjadi sakral karena agama (bukan hanya Kristen) memisahkan yang sakral dan yang profan.

Agama sebagai kontrol sosial sebagaimana diuraikan oleh Bryan S. Turner yang mendapat tempat dalam misi ini.

Tujuan tulisan ini adalah untuk memperkenalkan sebuah ide atau gagasan untuk peningkatan pelayanan seluruh pelayan GKPPD dalam debut perkembangan zaman dan teknologi komunikasi yang semakin canggih.

Gagasan ini murni dari hasil perenungan pribadi sebagai manusia yang percaya kepada Kristus yang berprofesi ganda yaitu pegawai negeri sebagai guru dan sebagai petani pada umumnya, yang mendapat tugas sebagai hamba Tuhan (sintua) di GKPPD resort Sidikalang sejak tahun 1999.

Ide ini selaras dengan tujuan Allah di dalam Alkitab, seperti yang dituliskan oleh John R.W. Stott (1974), “Sebab tema hakiki seluruh Alkitab dari awal sampai akhir ialah, bahwa tujuan Allah dalam sejarah adalah memanggil orang-orang untuk menjadi suatu umat bagi-Nya; bahwa umat ini adalah suatu umat yang suci , yang dipisahkan dari dunia untuk menjadi milik-Nya dan untuk mematuhi-Nya; dan bahwa panggilan umat ini ialah untuk menjadi setia kepada identitas-Nya, artinya, suci atau lain dalam segala wawasan dan tindak tanduknya.”

Penulis menawarkan pendekatan ini untuk memanggil orang-orang Pakpak dan warga GKPPD dan menjaga agar warga jemaat tersebut tidak tergoda dengan keinginan duniawi dan dogma yang lain.

Menjaga umat dalam tulisan ini diibaratkan seperti “muro” dalam budaya bertani yang mendarah daging bagi masyarakat/warga GKPPD.

Muro adalah bekerja menjaga padi di sawah atau ladang (padi gogo) juga tanaman lain agar tidak diserang hama burung atau hewan.

Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) yang memisahkan diri dari HKBP mempunyai gambaran sebagai berikut:

Pertama, latar belakang pemisahan gereja ini adalah untuk menyesuaikan dengan budaya suku Pakpak/Dairi. Dalam hal ini ditetapkanlah bahasa yang digunakan GKPPD adalah Bahasa Pakpak/Dairi.

Kedua, Manajemen gereja yang mandiri sesuai konsep budaya Pakpak/Dairi. Hal ini adalah hal yang lumrah, karena setiap individu ingin menerapkan gaya kepribadian, tidak harus diatur oleh pihak lain.

Tetapi dalam hal ini GKPPD mengadopsi system gereja yang ditinggalkannya bulat-bulat. Hal ini terlihat dari adanya dua jenis sinode yaitu sinode periode dan sinode kerja. Rapat pendeta, biro dalam organisasi kepemimpinan.

Ketiga, Tata Ibadah diadopsi dari gereja asalnya yaitu HKBP dengan menerjemahkan agenda HKBP ke Bahasa Pakpak/Dairi.

Dan lagu atau nyanyian ibadah adalah terjemahan dari BE HKBP, namun sudah ditambah suplemen dari terjemahan lagu Rohani yang sudah biasa dinyanyikan dan gubahan para tokoh seniman GKPPD sebanyak 111 nomor.

Buku Ende yang berisi Ende Suplemen diterbitkan tahun 2016 saat Pd. Elson Lingga M.Th sebagai Bishop GKPPD.

Keempat, Dogma juga diadopsi dari HKBP yang menganut aliran Luteran, tetapi kenyataannya konvessi HKBP belum pernah dipaparkan di GKPPD.

Diperlukan terobosan baru yang menjadikan denominasi gereja yang baru ini memiliki ciri khas tersendiri, bukan hanya dari fisik bangunan tetapi juga dari segi pelayanan, yang bersumber dari budaya kita, agar tidak terkesan hanya menciptakan denominasi baru tetapi juga menghasilkan buah.

Diperlukan pelayanan baru yang berciri budaya yang kaya dalam budaya Pakpak dan salah satu ialah; budaya bertanam padi.

Proposisi-proposisi bersumber dari bertanam padi ini misalnya: Dalam bertanam padi ada masanya menjaga burung (muro). Kalau padi sudah mulai mengeluarkan bulir petani akan mendirikan menara (pantar). Penjaga padi akan tetap awas dari atas pantar selama menanti bulir padi siap dipanen.

Dari proposisi-proposisi ini muncullah proposisi baru: Suka duka menjaga padi di atas pantar sangat banyak untuk dikenang. Dan muncullah lagu “Pantar Silang” dahulu dan ide “Teologi Pantar” sekarang.

Adapun rumusan masalah dalam tulisan ini adalah: Apa hakekat dari Teologi Pantar yang diajukan untuk diterapkan dalam pelayanan di GKPPD?

Penulis menggunakan metode reflektif yaitu perenungan dari pengalaman sebagai anggota komunitas gereja dan anggota komunitas petani.

Hasil perenungan dihubungkan dengan Alkitab dan beberapa buku yang ada kaitannya yang berguna dan sangat baik diterapkan dalam pelayanan di GKPPD.

Hasil dan Pembahasan

Pantar adalah menara penjagaan yang dibangun sangat sederhana namun kuat terhadap gangguan angin dan hewan besar di tengah ladang atau sawah yang berisi tanaman yang harus dijaga misalnya padi, ubi yang cukup luas dan datar atau tidak datar.

Hal ini dimaksudkan untuk dapat melihat jelas ke seluruh penjuru untuk memantau gangguan apa yang terjadi di sudut paling jauh sekali pun.

Dikala hujan ataupun panas penjaga akan duduk di pantar sambil mengamati seluruh sisi dari ladang.

Pantar di sini sama seperti menara di kebun anggur yang terdapat dalam Alkitab yaitu Matius 21: 34; Markus 12: 1; Yesaya 5: 2.

“Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” (Yesaya 5:2)

Pantar itu sangat sederhana terbuat dari bambu yang tua atau kayu kecil yang keras dan menggunakan pengikat yang kuat dan tahan yang semuanya tersedia dari lingkungan pertanian.

Tiang penyangga ada empat sudut yang bisa saja terdiri dari 4 buah atau 4 x 2 buah disilangkan untuk tempat penyangga lantai.

Tinggi lantai biasanya 1 meter sampai dua meter dari tanah, beratap dan berdinding sesuai ketinggian badan orang yang duduk agar tetap dapat memandang ke sekeliling ladang.

Pemilik akan membangun pantar di setiap ladang atau sawah yang diusahai. Semua bahan bangunan pantar ini bersumber dari alam.

Itulah kearifan budaya pada zaman dahulu sesuai dengan zaman di mana komunitas manusia masih dekat dengan habitat binatang liar. Di atas pantar inilah pemilik atau penjaga (pemuro) menjaga padinya.

Teologi Pantar

Teologi adalah ilmu yang mempelajari dan menganalisis kepercayaan agama, khususnya tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia.

Teologi adalah pengetahuan mengenai sifat-sifat Allah, dasar-dasar kepercayaan kepada Allah dan agama terutama berdasar pada kita-kitab suci.

Pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci)

Teologia adalah ilmu yang mempelajari kepercayaan agama, khususnya tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia.

Lebih dalam lagi menurut Dr. Andreas Bernadinus Atawolo OFM Teologi berarti pemikiran tentang yang Ilahi, Tuhan atau Allah.

Teologi berasal dari kata Theologia berasal dari dua kata: Theo dan logos (Yunani). Theos berarti Allah, logos berarti uraian, perkataan, buah pikiran; ilmu (pengetahuan).

Teologi artinya usaha manusia (yang mengenal Allah) untuk menginterpretasikan kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam Alkitab, dalam dan melalui Yesus Kristus, merumuskannya, mengajarkannya dan memberitakannya dengan tujuan menjadi pengalaman praktis sehari-hari.

Dari uraian di atas penulis merumuskan bahwa teologi adalah cara manusia memuliakan Allah dengan menjaga ciptaan-Nya agar tetap menjadi milik-Nya dan menyembah-Nya.

Teologi dibagi 4 bagian: a) Teologi Biblika; b) Teologi Historika; c) Teologi Sistematika; d) Teologia Praktika. Teologi Pantar yang digagas oleh penulis berada pada Teologi Praktika dalam hal pembaharuan, pembinaan dan pelayanan manusia.

Dasar Alkitabiah dari Teologi Pantar

Teologi Pantar memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip Alkitab:

  • Yesaya 5: 2 – Menara penjagaan di kebun anggur
  • Yohanes 8: 12 – Yesus adalah terang dunia
  • Yeheskiel 33: 7 – Penjaga Israel yang bertugas memberi peringatan
  • Yohanes 4 : 35 – Ladang telah menguning dan siap dituai

Makna teologis dari Teologi Pantar adalah pengejawantahan firman Tuhan yang tertulis dalam Yeheskiel 33: 7, “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” Seperti kita menjaga padi demikianlah hamba Tuhan menjaga umat-Nya.

Tidak ada satu literasi pun yang membahas tentang “pantar” demikian pula “teologi pantar”. Hal ini murni anugrah yang penulis rasakan sebagai anak manusia yang lahir dari petani, besar dan aktif sebagai petani dan di lain pihak penulis aktif sebagai pelayan (pengendang).

Pergumulan saya dalam dua bidang ini menyatu dalam satu wadah yaitu pantar. Filosofi pantar bereaksi dalam pemikiran saya dalam melakukan pelayanan sebagai sintua. Lalu dari mana masuknya “pantar” ini ke dalam sistem gereja?

Agama dan budaya selalu beriringan dan selalu digeluti oleh umat manusia termasuk kita di dalamnya.

Pantar adalah budaya lokal yang sangat digemari. Sejak manusia Pakpak diciptakan Tuhan sejak itulah kita berbudaya dan juga beragama.

Terbukti dengan adanya sebutan “debata kase-kase” dalam berdoa secara budaya. Setelah masuknya kekristenan istilah itu menjadi hambar dan tabu untuk diucapkan.

Dalam buku RELASI AGAMA DAN TEORI SOSIAL Durkheim mengatakan bahwa agama membedakan antara yang sakral dan yang profan.

Dan menjadi pendekatan dalam merumuskan definisi agama. Dan dalam The Elementary Forms of Religions Life, yang diterbitkan tahun 1912, agama didefinisikan sebagai: Seperangkat sistem keyakinan dan praktek yang diikatkan pada hal-hal yang sakral atau bisa juga disebut, hal-hal yang disisihkan dan dilarang—keyakinan dan praktek-praktek yang menyatukan masyarakat ke dalam komunitas moral tunggal yang disebut gereja (Durkheim, 1961, hlm. 62).

Clifford Geertz mengatakan: Agama adalah sebuah sistem kebudayaan yang mengatur kepercayaan serta peribadatan kepada Tuhan dan tata kaidah yang berhubungan dengan adat istiadat dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan kehidupan.

Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi yang berada dalam agama Kristen Protestan dengan merujuk pada defenisi di atas dapat mengelaborasi dirinya dengan motto “GKPPD RUMAH KITA BERAGAMA DAN BERBUDAYA” dan kegiatan yang lebih spesifik dalam membawa umatnya kepada tujuan yang telah disepakati.

Aspek budaya yang penulis bahas adalah “pantar” (menara) sebagai tempat pertemuan agama yang disepakati oleh komunitas kita dengan sosial budaya yang menjiwai masyarakat.

Jika kita mempercayai Yesus adalah Firman Allah yang membuat kebenaran kebenaran menjadi jelas bagi manusia, maka Teologi Pantar adalah anugrah-Nya dalam pemahaman kita tentang Dia sebagai pusat segala kegiatan pelayanan kita di gereja-Nya.

Dari pantar (menara) kita menilik dunia yang sudah semakin kacau dan semakin banyak kesusahan. Dalam makalah ini pantar kita adalah manifestasi Yesus Kristus.

Yesus diibaratkan sebagai menara yang meninggikan kita di muka bumi ini. Yesus hendak mengajar sering (kalau tidak bisa disebut selalu) mencari tempat yang lebih tinggi.

Terang Yesus Kristuslah sebagai “pantar”, menjadikan kita berada di tempat tinggi, terlindung dari mara bahaya yang mengancam umat percaya, tempat memantau dengan segera gangguan yang datang mengganggu, dan membuat kita berada persis di tengah atau strategis dalam menjaga warga jemaatNya.

Relasi menara sawah (pantar) dengan gereja kita dapat digambarkan berikut ini:

  1. Empat tiang menggambarkan empat pilar gereja, yakni Pimpinan pusat, Resort, Kuria (jemaat), dan Majelis Pusat. Pilar yang empat ini mewujudkan kehadiran Tuhan di dunia ini.
  2. Konstruksi dari bahan yang tersedia dari alam sekitar yaitu kayu, bambu, tali, dan daun ilalang atau rumbia, yang diikat dengan kuat oleh tali, merupakan contoh kesatuan yang diikat oleh tali persaudaraan dalam diri Yesus Kristus.
  3. Menara bersegi empat dapat melambangkan kestabilan, kekuatan, dan struktur yang kokoh mirip dengan kestabilan dan kekuatan Tuhan.
  4. Menara di sawah atau ladang padi, menggambarkan tempat di mana Tuhan bekerja memberikan kehidupan dan pertumbuhan.

Jika kita hubungkan dengan Teologi Pantar maka Pantar adalah lambang tempat di mana Tuhan hadir memberi kekuatan dan kestabilan bagi penjaga umat-Nya yaitu seluruh pelayan di GKPPD baik yang full-timer ataupun bukan.

Dalam konteks gereja dengan banyak pemimpin yang berhierarki, perintah atau penugasan Tuhan kepada seorang nabi, seperti dalam Yehezekiel 33 pantar dapat diaplikasikan dalam beberapa cara:

  1. Pemimpin Utama: Pemimpin utama gereja, seperti gembala atau pastor, dapat dianggap sebagai “nabi” yang menerima penugasan Tuhan untuk memperingatkan dan membimbing jemaat.
  2. Tanggung Jawab Bersama: Semua pemimpin gereja, baik itu pastor, penatua, atau diaken, dapat memiliki tanggung jawab bersama untuk memperingatkan dan membimbing jemaat.
  3. Panggilan bagi Semua: Perintah Tuhan dalam Yehezekiel 33 juga dapat diartikan sebagai panggilan bagi semua anggota jemaat untuk menjadi “penjaga” dan memperingatkan satu sama lain tentang keselamatan dan kebenaran.

Pantar adalah menara di tengah ladang atau sawah yang ditanami padi atau tanaman lain. Menara itu kuat dan tinggi yang ditopang oleh empat tiang pada setiap sudut.

Bentuknya persegi empat dan beratap ilalang yang diolah sehingga penjaga yang berada di menara merasa aman. Dengan menggunakan konsep “Teologi Pantar”, GKPPD dapat membantu gembala untuk:

  • Melihat dari ketinggian: Memandang persatuan dan kesatuan bangsa dari ketinggian, sehingga dapat melihat keseluruhan gambaran dan tidak hanya fokus pada kepentingan individu atau kelompok.
  • Mengawasi dan melindungi: Mengawasi dan melindungi persatuan dan kesatuan gereja dari ancaman-ancaman yang dapat merusaknya.
  • Membangun fondasi yang kuat: Membangun fondasi yang kuat untuk persatuan dan kesatuan bangsa dan dalam jemaat sehingga dapat bertahan dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

Dengan demikian, “Teologi Pantar” dapat menjadi salah satu cara untuk memperbarui pemikiran masyarakat suku Pakpak dan membantu kita untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa yang lebih kuat dan solid.

Ada satu peribahasa yang populer dalam budaya Pakpak kalau sudah berhubungan dengan pentingnya persatuan dan kesatuan yaitu “Bage kepulen nditak”.

Bage kepulen nditak artinya seperti kue yang dikepal. Nditak adalah kue dari tepung beras yang dicetak dengan kepalan tangan.

Bahan penganan ini sederhana yaitu tepung beras, gula (gula kristal atau gula merah) dan kelapa yang diparut.

Dalam peresmian atau pengukuhan organisasi para tokoh selalu menyebut, “Mersada mo ke bage kepulen nditak!” (Bersatulah kalian bagai tepung (kue) yang dikepal).

Bukankah kesatuan unsur penganan ini sangat rapuh dan mudah membasi? Jamak sekali organisasi Pakpak bubar dan berganti lagi karena sesepuh mendoakannya seperti “kepulen nditak”.

Konsep pantar yang tinggi menunjukkan kita secara berfikir sudah lebih tinggi atas anugerah Yesus Kristus untuk menerangi budaya tersebut.

Teologi Pantar ini sangat dekat dengan budaya bertanam padi dan tidak berfokus hanya pada fisik bangunannya.

Banyak aspek yang terafiliasi dengan kata pantar. Banyak hal yang harus dikerjakan petani untuk memperoleh hasil yang menggembirakan.

Beberapa diantaranya kita lihat berikut ini, (1) Menanam Benih yang Baik; (2) Merawat dengan Telaten; (3) Memberikan Air yang Cukup; (4) Menghindari hama; (5) Memelihara ekologi.

Untuk melakukan kegiatan ini pemilik sawah/ladang membuat pantar (menara) sebagai tempatnya.

Fungsi pantar yang paling dominan ialah pada saat menjaga agar tidak ada hama yang menyerang dirinya dan tanamannya, seperti babi hutan, monyet, burung pipit, dan lain sebagainya.

Teologi Pantar dalam Konsep Budaya

Mari kita melihat bahwa pantar sangat melekat di hati para warga. Konsep tiang pantar ini dipergunakan dalam istilah pesta adat istiadat dalam pernikahan anak.

Dalam penyelenggaraan pesta pernikahan ini ada istilah “empat tiang pantar menjadi kokoh”. Dalam menentukan jalannya hukum adat, membagi penerimaan atau tanggung jawab adat ada empat unsur yaitu Sukut – Bapa peduaken – Puang (puhun) – Berru.

Walau unsur ini terdiri dari empat namun dalam praktiknya sering menjadi delapan bahkan duabelas, jika setiap unsur dilakoni oleh dua atau tiga pemeran.

Memang pantar bersegi empat bisa saja setiap sudutnya ditopang oleh dua batang tiang yang disilangkan, dan dari sinilah barangkali asal mulanya judul lagu “pantar silang”.

Ada sebuah lagu berbahasa Pakpak berjudul Pantar Silang dengan teks sebagai berikut:

Pantar Silang

(Kasmir Angkat)

Tang tengen-tengen jumanta idi (Ya ‘kan lihat-lihat ladang kita itu)

Tang tengen-tengen buroenta idi (Ya ‘kan, lihat-lihat padi kita itu)

Ulang mo kono tumunduh-tunduh (Jangan engkau mengantuk)

Tang tengen-tengen kopinta idi (Ya ‘kan, lihat-lihat kopi kita itu)

Tang tengen-tengen nilamta idi (Ya ‘kan lihat-lihat nilam kita itu)

Ulang mo kono tumunduh-tunduh (Jangan ‘kay terkantuk-kantuk)

Ndates le pantar silangku en (Tinggi tah menaraku ini)

Ndatessen deng ngo pantar si turang ndaboi (Lebih tinggi lagi menara pemuda sana)

Ndaoh le ladang tahumangku en (Jauh tah ladang humaku ini)

Ndaohen deng ngo ladang siturang ndaboi (Lebih jauh lagi ladang pemuda tadi)

Tang ting tang kade silao-laomu (Tang ting tang apa maksud hatimu)

Mernengetken kami iburoen enda (Menasihati kami di ladang ini)

Sura-suramu pe lalap mak suntuk (Angan-anganmu pun nggak pernah sampai)

Mike katemu mak lot terbaing (Apa maumu gak pernah terwujud)

Tengga-tenggamu pe lalap mak surung (Rencanamu pun tetap enggak jadi)

Makin meridi makin mukupen (Peribahasa artinya: makin banyak upaya, makin susah)

Ipan soridi ko le pincala (Majas: Dimakan elanglah kau murai burung)

Dekket ko nola ngo kidah menambur-namburi.(Ikut juga kau menyentil-nyentil)

Tafsirnya: Si pembicara adalah anak gadis yang sedang menjaga padi di menaranya (pantar). Datang seorang pemuda menggoda, tetapi hatinya tak berkenan kepada pemuda itu (Disambar elanglah kau murai!)

Pantar di sawah penulis (Sumber: Dok. Penulis)

Masuknya pantar silang ke dalam seni menunjukkan betapa melekatnya pantar dalam jiwa warga. Judul Pantar Silang dalam lagu ini adalah sebagai konteks atau latar tempat.

Dalam Konteks Gereja

Konsep pantar diasosiasikan dengan kelembagaan. Dari titik pandang sentral pantar berada pada Kantor pusat, Majelis Pusat, kemudian Resort, lalu Kuria (jemaat).

Inilah perwujudan dari anak manusia (jelma simangko-angko) yang ditugasi menjadi penjaga Israel!

Di atas pantar termaksud para gembala/pelayan melakukan berbagai upaya “penjagaan” untuk meningkatkan atau menambah jumlah tuaian (padi yang menguning).

Dalam Yohanes 4: 35 tertulis, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai!” 

Dengan mendengar pantar kita akan berasosiasi ke sawah mulai dari mengolah tanah permulaan hingga menanam, menyiang, menjaga (muro) dan memanen (mrani).

Dalam upaya mewujudkan padi yang banyak dan siap untuk dituai, mari kita lihat upaya para petani atau pemilik tuaian itu dan membandingkannya dengan pelayanan atau penggembalaan. Contoh upaya dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Menanam benih yang baik: Dalam konteks teologi, menanam benih yang baik berarti menyebarkan Injil dengan setia dan benar.
  • Merawat dengan telaten: Merawat padi dengan telaten berarti merawat jiwa-jiwa yang telah percaya dengan telaten, memberikan perhatian dan dukungan yang mereka butuhkan.
  • Memberikan air yang cukup: Memberikan air yang cukup berarti memberikan Roh Kudus yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka.
  • Menghindari hama: Menghindari hama berarti menghindari pengaruh-pengaruh negatif yang dapat merusak iman dan kesucian mereka.
  • Mencari dan menyuruh penuai yang cukup banyak: Jika penuai kurang maka tuaian terlambat dituai, bisa mengakibatkan kehilangan atau kerusakan hasil. Dalam konteks teologi para penuai ialah hamba-hamba Tuhan atau pelayan dengan berbagai tugas dan tanggung jawabnya. Dalam melakukan upaya di atas Teologi Pantar sangat relevan, untuk diterapkan.

Penutup

Kesimpulan

Tulisan ini mengutarakan sebuah teologi praktika yang baru yaitu Teologi Pantar, yang bersumber dari kearifan lokal budaya bertani suku Pakpak yang menggambarkan bagaimana pelayan gereja dapat mengadopsi penjagaan spiritual sebagaimana petani menjaga ladangnya.

Teologi ini penulis temukan dari pengalaman membuat pantar, menjaga padi (muro) di ladang dahulu yang dihubungkan dengan adanya tugas mengunjungi warga jemaat sebagai hamba Tuhan (pengendang).

Belum ada sumber pustaka ataupun artikel yang dapat dijadikan rujukan sebab teologi ini murni keluar bak mata air dari hasil perenungan dalam dua dimensi yaitu budaya bertani dan tugas pelayanan. Teologi ini disodorkan ke GKPPD.

Teologi Pantar menjadikan gembala masa kini berposisi lebih tinggi bersama Kristus Yesus dan menjadi intens menjaga umatnya seperti penjaga burung di pantar (menara).

Dari ketinggian pantar, para hamba Tuhan bisa memantau seluruh warga jemaatnya (jiwa-jiwa) mana tau ada gangguan ataupun ancaman. Juga menjaga umat karena setiap saat “burung pipit menyerang padi”.

Penjaga memanggil penuai yang banyak karena padi sudah menguning dan siap dipanen. Dan paling esensial adalah bahwa pantar itu ialah Yesus Kristus Raja Gereja yang ditopang oleh empat pilarnya yaitu Pimpinan Pusat, Resort, Kuria dan Majelis Pusat.

Dengan demikian, Teologi Pantar adalah teologi yang menggunakan ketinggiannya menilik seluruh umat gereja secara terus menerus dalam kemajuannya atau kemerosotannya untuk mengangkatnya menjadi manusia yang memahami dirinya seutuhnya yang disucikan oleh darah Kristus dan mempertahankannya.

Saran

Tulisan ini diharapkan menjadi awal dari eksplorasi lebih lanjut tentang Teologi Pantar. Para pelayan gereja, teolog, dan pemerhati budaya dipanggil untuk meneliti, memperkaya, dan mengembangkan gagasan ini agar lebih aplikatif dalam konteks pelayanan GKPPD dan gereja-gereja kontekstual lainnya.

Sidikalang, 22 Agustus 2025 

 

Penulis: St. Wahidin Capah, S.Pd.

 

Daftar Pustaka

Alkitab Elektronik 2.0.0. Alkitab Terjemahan baru ©1974. Lembaga alkitab Indonesia.

LAI. 2009. Alkitab dengan Kidung Jemaat. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Geertz, Clifford. 1992. KEBUDAYAAN & AGAMA. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Panitia Pesta Perak – Pembangunan HKBP Simerkata Pakpak Dairi Sidikalang. 1990.

Sejarah 25 Tahun HKBP Simerkata Pakpak Dairi Sidikalang. (manuskrip)`

Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Stott, John R.W. 1988 . Khotbah di Bukit. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih.

Turner Byan S. 2012. Relasi Agama dan Teori Sosial: Buku Pokok Para Akademisi Sosial. Banguntapan Yogyakarta: IRCiSoD. Sejahtera (YASUMA).

Kementeria Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2025. KBBI VI luring resmi Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.

1993. Spiritualitas, Seri 5. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Gita Sangsurya. Vol.19 Mo.2. (Didownload tanggal 19 Maret 2025)

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses