TikTok dan Fenomena Penggunanya di Indonesia: Sebuah Catatan Kritis

Pengaruh TikTok
Sumber: pixabay.com

Pada Agustus 2024, TikTok mencatatkan pencapaian luar biasa di Indonesia. Negara ini menduduki peringkat pertama sebagai pengguna TikTok terbanyak di dunia.

Tidak hanya itu, pengguna TikTok di Indonesia juga memegang rekor waktu penggunaan terlama pada perangkat Android.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, fenomena ini mengundang perenungan mendalam tentang dampaknya terhadap masyarakat.

TikTok: Antara Popularitas dan Bahaya

TikTok telah menjadi platform sosial media yang sangat populer, namun dengan popularitasnya, muncul potensi risiko.

Saya mengulas hal ini dalam sebuah postingan di platform X (sebelumnya Twitter), yang menarik perhatian luas hingga hampir mencapai satu juta tampilan.

Dalam postingan tersebut, saya menyoroti bagaimana pengalaman membuka TikTok dan membaca komentar dapat memengaruhi tingkat kecerdasan pengguna.

Baca Juga: TikTok: Mendorong Kreativitas atau Konformitas di Kalangan Gen Z?

Beberapa studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan IQ seseorang bisa menurun hingga 30 poin karena terpapar konten tertentu di TikTok.

Fakta ini mengarah pada hipotesis bahwa TikTok cenderung menarik pengguna dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Sebuah survei mengungkapkan bahwa platform ini memiliki basis pengguna yang cukup besar dari kalangan yang kurang teredukasi dibandingkan media sosial lain.

Salah satu komentar yang sering muncul adalah, “Kenapa kamu tidak melihat Facebook?” Sebagai perbandingan, data menunjukkan bahwa Facebook pun memiliki karakteristik serupa, meskipun TikTok tetap menjadi sorotan utama karena pengaruhnya yang masif di kalangan anak muda.

Media Sosial dan Pengaruhnya pada Kecerdasan Kolektif

Berbeda dengan platform lain seperti X, yang dikenal dengan diskusi kritis dan argumen yang tajam, TikTok sering kali memperlihatkan komentar-komentar yang cenderung dangkal.

Saya menghargai argumen yang muncul di X, bahkan jika itu bertentangan dengan pandangan saya. Di platform ini, kritik biasanya didasarkan pada logika yang kuat, mencerminkan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi di antara para pengguna.

Baca Juga: Perlunya Strategi Buzzer TikTok untuk Kampanye Politik

Sebaliknya, di TikTok, komentar-komentar yang muncul sering kali berasal dari akun buzzer yang terlihat dibuat hanya untuk tujuan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok bisa menjadi alat manipulasi yang sangat efektif.

Orang-orang dengan tingkat pemahaman yang rendah lebih mudah digiring opininya, baik untuk mendukung figur politik tertentu maupun untuk memperbesar pengaruh seorang influencer.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital. Jika masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi, mereka akan dengan mudah terjebak dalam pusaran propaganda dan informasi palsu.

Hal ini tentu saja berbahaya, terutama jika menyangkut isu-isu yang sensitif seperti politik, agama, atau kebijakan publik.

Potensi TikTok sebagai Alat Propaganda

Kekhawatiran terbesar adalah potensi TikTok menjadi mesin propaganda global. Bayangkan sebuah platform yang mampu memengaruhi opini jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Dalam konteks politik, hal ini bisa menjadi alat untuk menciptakan “King Maker”—pihak-pihak yang mampu menentukan siapa yang akan berkuasa.

Baca Juga: Peran Media Sosial dalam Penyebaran Ujaran Kebencian di Platform Tiktok: Bagaimana Pandangan Mahasiswa Universitas Andalas?

TikTok juga memiliki potensi untuk menciptakan polarisasi sosial yang sangat berbahaya. Konsep “divide et impera”, atau “pisahkan dan kuasai”, menjadi relevan dalam pembahasan ini.

Dengan memecah belah masyarakat berdasarkan preferensi politik, sosial, atau bahkan budaya, platform ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menguasai suatu wilayah atau negara.

Cara paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat tetap berada dalam tingkat pemahaman yang rendah.

Dalam skenario ini, orang-orang dengan pendidikan rendah menjadi target utama. Mereka lebih rentan terhadap manipulasi informasi karena kurangnya kemampuan berpikir kritis.

Oleh karena itu, TikTok berpotensi menjadi alat yang sangat berbahaya jika digunakan oleh pihak-pihak dengan niat buruk.

Kebijakan dan Nilai di Balik TikTok

Saya tidak bermaksud menuduh bahwa TikTok saat ini sedang menuju ke arah tersebut. Saya mengenal beberapa orang yang bekerja di TikTok dan mereka adalah individu-individu yang kompeten dan baik hati.

Namun, ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai individu tersebut tidak selalu tercermin dalam kebijakan atau dampak platform secara keseluruhan.

Baca Juga: Dibukanya TikTok Shop, Kembali Menghidupkan UMKM Indonesia

Platform seperti TikTok pada dasarnya netral, namun efek yang ditimbulkannya tergantung pada bagaimana pengguna memanfaatkan platform tersebut.

Sayangnya, saat ini TikTok sering kali menjadi medium untuk konten yang bersifat dangkal atau tidak mendidik.

Hal ini menciptakan paradoks: sebuah platform dengan potensi besar untuk mendidik masyarakat justru sering kali digunakan untuk menyebarkan konten-konten yang kurang bermakna.

Selain itu, algoritma TikTok juga menjadi sorotan. Algoritma ini dirancang untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di platform, tetapi sering kali dengan mengorbankan kualitas konten.

Konten yang viral di TikTok sering kali bukan yang paling informatif atau mendidik, melainkan yang paling menghibur atau kontroversial.

Peran Media Sosial dalam Masyarakat

Ketika saya berbicara tentang media sosial secara umum, ada pola yang menarik untuk diperhatikan.

Di platform seperti Instagram atau X, ada ruang untuk diskusi yang sehat, bahkan jika terkadang diselingi oleh opini-opini yang emosional.

Namun, di TikTok, komentar-komentar dangkal sering kali membanjiri ruang diskusi, membuat dialog konstruktif menjadi sulit.

Baca Juga: Kecanduan Scroll TikTok Dapat Menurunkan Tingkat Konsentrasi Otak, Benarkah?

Salah satu alasan fenomena ini adalah keberadaan akun-akun buzzer. Dalam pengamatan saya, cukup mudah untuk membuat ratusan atau bahkan ribuan akun palsu di TikTok.

Dengan akun-akun ini, seseorang bisa dengan cepat menyebarkan propaganda atau memanipulasi opini publik.

Dampaknya adalah erosi terhadap diskusi yang sehat dan peningkatan konten yang tidak berkualitas.

Namun, kita juga tidak boleh sepenuhnya menyalahkan platform ini. TikTok hanya menyediakan wadah; bagaimana wadah itu digunakan sepenuhnya tergantung pada penggunanya.

Jika kita ingin mengubah dinamika ini, kita perlu mulai dari diri sendiri. Meningkatkan literasi digital dan memilih untuk berkontribusi dengan konten yang positif adalah langkah awal yang penting.

Apa yang Harus Dilakukan?

Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

Meningkatkan Literasi Digital

Pengguna media sosial perlu dibekali dengan kemampuan untuk memilah informasi yang mereka terima. Ini termasuk kemampuan untuk mengenali berita palsu, akun buzzer, dan propaganda.

Baca Juga: Panduan Lengkap Cara Mengelola Akun TikTok yang Efektif dan Interaktif

Regulasi yang Lebih Ketat

Pemerintah dan penyedia platform perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa akun-akun palsu tidak memiliki ruang untuk berkembang. Regulasi yang ketat terhadap konten dan pengguna dapat membantu menciptakan ekosistem media sosial yang lebih sehat.

Mengembangkan Algoritma yang Lebih Cerdas

TikTok dan platform lainnya perlu mengembangkan algoritma yang tidak hanya mempromosikan konten populer, tetapi juga konten yang mendidik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mendorong Diskusi Konstruktif

Pengguna media sosial perlu didorong untuk berpartisipasi dalam diskusi yang sehat. Ini bisa dilakukan melalui kampanye edukasi atau fitur platform yang mendorong dialog berkualitas.

Transparansi Data

TikTok dan platform lainnya harus transparan dalam bagaimana data pengguna digunakan dan bagaimana algoritma mereka bekerja. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan pengguna.

Kolaborasi dengan Pendidikan

TikTok bisa bermitra dengan institusi pendidikan untuk menciptakan konten yang mendidik. Dengan cara ini, platform ini bisa menjadi alat pembelajaran yang efektif, bukan sekadar hiburan.

Membuat Komunitas Positif

TikTok memiliki potensi untuk membangun komunitas yang kuat. Pengguna bisa memanfaatkan fitur-fitur seperti grup diskusi atau hashtag untuk menciptakan ruang yang positif dan produktif.

Baca Juga: Kajian Psikologis tentang Dampak Negatif Penggunaan Media Sosial TikTok pada Kondisi Mental Remaja

Kesimpulan

TikTok adalah platform yang memiliki potensi besar untuk mendekatkan orang-orang di seluruh dunia.

Namun, dengan kekuatan besar itu datang pula tanggung jawab besar. Jika tidak dikelola dengan baik, TikTok bisa menjadi alat yang berbahaya bagi masyarakat.

Penting bagi kita sebagai pengguna untuk tidak hanya menikmati hiburan dari platform ini, tetapi juga mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa dampaknya terhadap masyarakat tetap positif.

Dengan meningkatkan literasi digital, mendukung regulasi yang ketat, dan mendorong transparansi dari penyedia platform, kita bisa menjadikan TikTok sebagai alat yang mendukung perkembangan masyarakat, bukan sebaliknya.

Dalam perjalanan ini, mari kita tetap kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Dengan begitu, kita bisa menciptakan ekosistem digital yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mencerdaskan.

TikTok, seperti media sosial lainnya, memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan—tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Dan saat kita melangkah maju, mari kita ingat bahwa setiap klik, setiap komentar, dan setiap konten yang kita unggah adalah bagian dari narasi yang lebih besar. Narasi yang bisa kita bentuk untuk masa depan yang lebih baik.

 

Penulis: Khairul Ummam
Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Universitas Islam Riau

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Sumber

Chin, Raymond. “TikTok Sangat BERBAHAYA” YouTube, diunggah oleh Raymond Chin, 24 Oktober 2024, www.youtube.com/watch?v=D_T-Q1KCLGQ.

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses