Bayangkan dirimu pulang kampus, mampir ke minimarket, dan membeli sebotol minuman manis serta sekantong snack. Murah, praktis, enak, cepat bikin kenyang. Tapi apakah kamu tahu di balik murahnya produk-produk tersebut ada suatu krisis yang sering kali tidak dibahas?
Air, air menjadi komoditas yang jarang diekspos dampak berkepanjangannya apabila lalai dalam penanganannya. Manis, gurih, asin, pedas, semua rasa tersebut muncul dari berbagai bahan tambahan yang ditambahkan ke dalam snack dan minuman tersebut yang sering kali kita sebut sebagai Ultraprocessed Food (UPF).
Sebelum gula, minyak, tepung, dan sirup dalam snack itu diproses menjadi camilan, ada ratusan liter air sudah digunakan untuk memproduksi dan mengolah bahan baku tersebut.
Produk yang kita kenal dan tergolong sebagai ultra-processed food (UPF) seperti mi instan, minuman kemasan, snack goreng, permen, dan lain-lain sebagian besar dibuat dari bahan-bahan hasil sintesis di dalam industri, seperti gula rafinasi, minyak nabati, tepung halus, sirup jagung, dan bahan aditif lainnya.
Studi terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang tinggi konsumsi UPF memang berkaitan dengan peningkatan jejak air (water footprint) secara signifikan.
Di Brazil, diet dengan persentase tertinggi UPF menunjukkan water footprint harian sekitar 10% lebih tinggi dibanding diet dengan UPF rendah. Konsep water footprint menjelaskan total air tawar yang dibutuhkan sepanjang proses produksi UPF.
Baca Juga: Ultra Processed Food (UPF), Aman Dikonsumsi?
Komoditas seperti gula, minyak nabati, jagung, sawit, yang seringkali menjadi bahan-bahan utama dalam produksi UPF, tercatat sebagai produk dengan intensitas penggunaan air yang cukup tinggi.
Sebuah analisis di antara rumah tangga Brazil menemukan bahwa ketika konsumsi UPF naik, total penggunaan air dan emisi karbon akibat pola makan turut meningkat.
Produksi UPF mengandalkan pertanian intensif dan monokultur dengan luasan lahan yang cukup besar. Produksi bahan baku semuanya memerlukan irigasi, pupuk, dan tenaga industri yang cukup besar.
Studi terhadap sistem pangan global menunjukkan bahwa UPF mengancam banyak aspek keberlanjutan seperti air, lahan, energi, dan keanekaragaman hayati.
Dalam skenario jangka panjang, konsumsi UPF yang terus meningkat mendorong penggunaan air dan lahan secara masif, memperparah tekanan terhadap ekosistem, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca akibat rantai produksi & distribusi global.
Permasalahan lain yang seringkali muncul adalah, sebuah fakta bahwa air yang digunakana itu banyak berasal dari negara-negara yang menjadi tempat produksi hasil kebun untuk bahan baku yang digunakan.
Sementara konsumen akhir bisa berada di mana saja, bahkan di negara maju. Maka, ketika terjadi krisis air beban itu berada di tempat yang berbeda dengan keuntungan dari konsumsi UPF.
Baca Juga: Mengulas Istilah ‘Ultra-Processed Food’: Sudah Tepatkah dalam Mengatur Menu MBG?
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua UPF harus dijauhi, tapi kita bisa lebih mindful terhadap opsi-opsi yang ada di pasar. Banyak dari kita memilih makanan ultra-proses karena alasan praktis, ekonomi, atau keterbatasan waktu, dan itu sangat valid.
Yang bisa kita lakukan adalah lebih sadar dan selektif ketika membuat pilihan di pasar, seperti mengurangi frekuesni konsumsi UPF dan lebih mengkonsumsi produk-produk real-food. Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dalam skala kecil dan secara instan, ini membutuhkan peranan pemangku-pemangku kebijakan.
Pemangku kebijakan dan juga industri sebaiknya tidak hanya menilai pangan berdasarkan harga dan ketersediaan, tetapi juga mempertimbangkan dampak-dampak global, seperti water footprint, jejak lingkungan, dan keberlanjutan bahan baku sebagai bagian dari standar penilaian pangan.
Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut harapannya beban konsumen sebagai pengguna menjadi lebih ringan, karena pasar bisa menawarkan opsi yang lebih bertanggung jawab untuk semuanya.
Ultra-processed food menawarkan nilai ekonomis dan kenyamanan, tetapi dibayar dengan sumber daya yang tidak selalu bisa dipulihkan.
Dengan sedikit lebih sadar ketika memilih makanan, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh kita sendiri, tetapi juga ikut serta menjaga keberlangsungan di bumi ini. Karena pada akhirnya setiap gigitan adalah pilihan dan pilihan kita menentukan masa depan Bumi ini.
Penulis: Yohan Ariesto
Mahasiswa Ilmu Pangan IPB University
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












