Kesal rasanya ketika bahkan sebelum benar-benar pergi dari rumah, jam pulang sudah lebih dulu ditanyakan. Dengan siapa aku pergi harus dipastikan. Hal-hal kecil yang menurutku sepele sering kali menuntut penjelasan panjang, berulang, dan melelahkan.
Kadang rasa malu ikut muncul setiap kali aku pergi bersama teman, ponselku nyaris tidak berhenti berbunyi. Bukan untuk mengobrol, melainkan untuk bernegosiasi tentang jam pulang yang kembali molor.
Saat itu, rasanya hanya aku yang mengalaminya. Orang lain terlihat bebas, bahkan saudara-saudaraku sendiri seolah tidak diperlakukan seperti itu. “Perasaan kakak-kakakku boleh, kenapa aku saja yang tidak?” pikirku dulu. Aku bertanya-tanya, apakah aku sebegitu tidak bisa dipercaya?
Sebagai anak terakhir, setiap langkahku terasa berada dalam sorotan. Aku kerap membandingkan diriku dengan yang lain mengapa ruangku terasa lebih sempit? Dalam usia yang masih ingin mencoba banyak hal, perhatian sering kali terasa seperti pengekangan. Aku tidak melihatnya sebagai kepedulian, melainkan sebagai batas yang mengganggu.
Namun waktu berjalan, dan perlahan caraku memandang ikut berubah. Seiring bertambahnya usia, aku mulai mengenal dunia di luar rumah. Dunia yang tidak selalu ramah, tidak selalu peduli, dan tidak selalu menyediakan ruang aman.
Aku melihat bagaimana orang-orang bisa tersesat dalam pergaulan, salah langkah dalam mengambil keputusan, atau terluka oleh pilihan mereka sendiri. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena tidak ada yang mengingatkan ketika masih sempat dicegah. Dari sana aku belajar, tidak semua hal yang terasa membatasi datang untuk merugikan. Beberapa justru hadir untuk menjaga, meski caranya tidak selalu terasa menyenangkan.
Baca juga: Maraknya Kasus Pergaulan Bebas di Jakarta
Perlakuan yang dulu membuatku kesal, kini terdengar seperti penanda, bahwa ada tempat untuk pulang, ada orang yang menunggu, dan ada yang peduli apakah aku sampai dengan selamat atau tidak. Tanpa kusadari, aku tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa mempertimbangkan bukan karena takut, tetapi karena dijaga.
Dulu, sebagai anak yang belum mengenal kerasnya dunia, aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua itu adalah bentuk ketidakpercayaan. Padahal justru sebaliknya, itu adalah kepedulian yang tidak selalu pandai mengemas dirinya sendiri.
Beranjak dewasa mengajarkanku satu hal penting bahwa tidak semua orang cukup beruntung untuk dijaga. Ada yang harus belajar dari jatuh yang terlalu dalam, dari kesalahan yang tidak sempat dicegah, dari dunia yang tidak memberi peringatan apa pun.
Aku dijaga karena ada orang-orang yang tidak ingin aku belajar hidup dengan cara yang terlalu menyakitkan. Di usia ketika kebebasan sering disalahartikan aku mulai mengerti bahwa hidup memang hanya sekali, tapi jika tidak dibarengi aturan dan batasan, kebebasan itu justru bisa meninggalkan penyesalan di kemudian hari.
Aku sadar, usiaku sekarang belum bisa disebut sepenuhnya dewasa. Aku masih sering ditanya, masih diingatkan, masih dijaga dengan cara yang sama. Walupun memang tidak sesering dulu ditanya, kadang justru aku yang mengambil inisiatif untuk mengabari. Kini yang berubah bukan situasinya, melainkan caraku memahami
Aku tidak ingin baru menyadarinya nanti, ketika semuanya sudah terlambat dan penyesalan datang belakangan. Maka aku memilih menyadari selagi masih sempat. Dan mungkin, hal-hal yang dulu membuatku kesal seperti jam pulang yang selalu ditanyakan, pesan yang tak henti dikirim, justru adalah momen yang kelak paling kurindukan, karena dari sanalah aku mulai terbiasa melihat sisi baik dari hal-hal yang pernah ingin kuhindari.
Penulis: Fathiya Mu’adzah Zayyan
Mahasiswa Manajemen Industri Katering, Universitas Pendidikan Indonesia
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












