A Silent Voice: Mengungkap Dampak Psikologis dan Sosial dari Perundungan dalam Kehidupan Remaja

A Silent Voice: Mengungkap Dampak Psikologis dan Sosial dari Perundungan dalam Kehidupan Remaja
Poster Film A Silent Voice

Dalam dunia yang semakin kompleks, masa remaja seharusnya menjadi fase pencarian jati diri dan pengembangan karakter.

Namun kenyataannya, banyak remaja justru harus menghadapi tekanan sosial, salah satunya dalam bentuk perundungan atau bullying.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Film A Silent Voice (Koe no Katachi), yang disutradarai oleh Naoko Yamada dan diadaptasi dari manga karya Yoshitoki Ōima, menyajikan gambaran yang sangat menyentuh dan realistis tentang dinamika perundungan di kalangan remaja, serta dampaknya yang dalam—baik bagi korban maupun pelaku.

Dari Sudut Pandang Korban: Luka yang Tak Terlihat

Shouko Nishimiya, tokoh perempuan utama dalam film ini, adalah seorang gadis tunarungu yang mencoba menjalani kehidupan sekolah seperti anak-anak lainnya.

Namun, keterbatasan fisiknya justru menjadi sasaran empuk bagi perundungan dari teman-teman sekelasnya, terutama Shoya Ishida.

Shouko mengalami hinaan, kekerasan verbal dan fisik, serta pengucilan sosial.

Baca Juga: Representasi Kehidupan di Palestina dalam Tiga Film Hayya

Sayangnya, sistem pendidikan dan lingkungan sosial di sekitarnya tidak cukup tanggap terhadap apa yang dia alami.

Dampak psikologis yang dialami Shouko sangat kompleks. Ia tidak hanya merasa malu dan terasing, tetapi juga menanggung beban bahwa keberadaannya mengganggu orang lain.

Hal ini terlihat ketika dia beberapa kali mencoba meminta maaf kepada orang lain—bahkan untuk hal-hal yang bukan kesalahannya.

Dalam dunia nyata, korban perundungan seperti Shouko sering merasa bahwa mereka pantas diperlakukan seperti itu.

Rasa rendah diri, trauma, dan bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup adalah realita yang menimpa banyak korban bullying.

Yang paling menyayat hati adalah kenyataan bahwa banyak korban memilih diam. Mereka tidak tahu kepada siapa harus bercerita, atau bahkan merasa bahwa tak ada gunanya bicara.

A Silent Voice secara simbolis mengangkat bagaimana “suara” korban kerap tidak terdengar, baik secara harfiah dalam kasus Shouko, maupun secara emosional dalam kehidupan sosial remaja pada umumnya.

Baca Juga: Adanya Feminisme dan Ketimpangan Gender pada film “How To Make Million Before Grandma Dies”

Dari Sudut Pandang Pelaku: Rasa Bersalah dan Pencarian Penebusan

Shoya Ishida, yang semula menjadi pelaku perundungan terhadap Shouko, secara perlahan menjadi tokoh sentral dalam narasi penebusan dan refleksi diri.

Setelah Shouko pindah sekolah akibat perundungan yang terus berlanjut, Shoya sendiri mulai dikucilkan oleh teman-temannya.

Ia kemudian merasakan pahitnya pengasingan sosial, kehilangan teman, dan label negatif yang terus melekat padanya.

Pengalaman ini membuat Shoya mengalami tekanan mental yang berat.

Ia menarik diri dari dunia luar, menutup diri secara emosional, dan bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Namun, suatu hari ia memutuskan untuk menemui Shouko dan mencoba menebus kesalahannya di masa lalu.

Baca Juga: Pro dan Kontra Film Vina Sebelum 7 Hari terkait Empati Penonton terhadap Topik Sexual Harassement

Di sinilah kita melihat bahwa pelaku perundungan pun bisa menjadi korban dari kesalahan sendiri, terutama ketika mereka tumbuh dewasa dan mulai menyadari dampak dari tindakan mereka.

Melalui Shoya, film ini menunjukkan bahwa penting untuk memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah dan memperbaiki kesalahan.

Rasa bersalah yang menghantui seorang pelaku bisa sama beratnya dengan luka yang ditinggalkan pada korban.

Namun, bukan berarti pelaku tidak harus bertanggung jawab—melainkan mereka perlu dihadapkan pada refleksi dan proses pemulihan yang manusiawi.

Perundungan Bukan Sekadar Tindakan, tapi Cermin Sistem Sosial

Apa yang membuat A Silent Voice begitu kuat sebagai kritik sosial adalah caranya menampilkan bahwa perundungan tidak hanya terjadi karena individu yang “jahat” atau “lemah”, melainkan karena adanya sistem sosial yang membiarkan hal itu terus berlangsung.

Guru yang lalai, teman sebaya yang tidak bersuara, hingga orang tua yang tidak memahami perasaan anaknya—semua berkontribusi pada lingkaran perundungan.

Baca Juga: Review Film A Man Called Otto

Banyak dari kita cenderung menilai situasi secara hitam putih: siapa yang salah, siapa yang benar. Namun, kenyataannya manusia jauh lebih kompleks dari itu.

Baik korban maupun pelaku adalah bagian dari masyarakat yang sering kali kurang empati, kurang edukasi tentang kesehatan mental, dan terlalu cepat menghakimi.

 

Penulis: Nuratika Jamhur
Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses