Dampak FOMO Pemilihan Jurusan Kuliah terhadap Peningkatan Prestasi Akademik Mahasiswa

dampak FOMO
Foto: Dok. MMI

Pengaruh Pemilihan Jurusan Kuliah karena FOMO terhadap Prestasi Akademik

Penggunaan platform sosial media yang memicu rasa takut ketinggalan FOMO dapat berdampak pada akademik mahasiwa. Hal ini berkaitan dengan teori bahwa faktor internal seperti persepsi diri, minat, dan motivasi belajar berkontribusi pada hasil belajar (Sejati dkk., 2023).

Jika motivasi belajar menurun, mahasiswa cenderung mudah terpengaruh oleh tekanan sosial, termasuk membandingkan hasil akademik dengan teman-teman yang mengakibatkan mutu pembelajaran tidak maksimal dan target akademik semakin sulit untuk diraih.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Orang yang mengalami FOMO biasanya merasa tidak nyaman saat mengobrol dengan teman, terutama saat membahas tesis atau kelulusan mereka, karena mereka merasa tertinggal secara akademis (Ainiyah dan Palupi, 2022).  Hal tersebut menunjukkan bahwa FOMO tidak hanya mempengaruhi perilaku sosial, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang merusak kepercayaan diri, menimbulkan kecemasan, serta dorongan belajar.

Menurut Nawahdani et al. (2022) kondisi kecemasan yang dialami mahasiswa berdampak pada menurunnya motivasi belajar. Ketakutan yang berkepanjangan dapat mengganggu fokus, menurunkan kepercayaan diri, dan mengurangi keinginan siswa untuk belajar secara aktif.

Akibatnya, mahasiswa cenderung menunjukkan perilaku belajar yang kurang optimal, seperti menunda tugas, pasif dalam perkuliahan, dan minimnya usaha untuk memahami materi secara mendalam, lalu pada konteks pemilihan jurusan karena FOMO, kecemasan berperan sebagai faktor psikologis yang memperkuat dampak negatif terhadap prestasi akademik.

Mahasiswa yang merasa salah jurusan cenderung mengalami tekanan emosional yang lebih tinggi, sehingga motivasi belajar menurun dan kinerja akademik tidak berkembang secara maksimal.

Berdasarkan penelitian Gunawan dan rekan-rekannya (2024), data menunjukkan bahwa gender memiliki dampak signifikan terhadap pilihan jurusan pariwisata di universitas-universitas Kota Bandung. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa proses pemilihan jurusan sering kali tidak sepenuhnya rasional, melainkan dipengaruhi oleh tekanan sosial dan persepsi lingkungan.

Pada konteks FOMO, kecenderungan tersebut dapat semakin kuat ketika mahasiswa merasa terdorong memilih jurusan tertentu hanya karena mengikuti tren, opini teman sebaya, atau keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok.

Ketika keputusan tersebut tidak sejalan dengan minat dan kemampuan diri, ketidaksesuaian antara jurusan yang ditempuh dan potensi akademik mahasiswa berpotensi menghambat pencapaian prestasi. Dengan demikian, FOMO dapat menjadi faktor yang memperbesar risiko salah memilih jurusan dan berdampak langsung pada performa akademik mahasiswa.

ADS: Jika tertarik mengetahui tentang Poltekkes Bangko dapat mengunjungi situs: poltekkesbangko.org

Faktor Pemicu FOMO dalam Proses Pemilihan Jurusan Kuliah

Menurut (Kasan, 2022; Susilo et al., 2022), faktor internal seperti minat, bakat, dan kemampuan akademik individu tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti dorongan dan harapan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, pengaruh teman sebaya, serta pandangan dan tren yang berkembang di masyarakat.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membentuk pola pikir calon mahasiswa dalam menilai pilihan jurusan yang dianggap aman, menjanjikan, atau sesuai dengan ekspektasi sosial. Dengan demikian, pemilihan jurusan kuliah bukan sekedar keputusan akademik yang berlandaskan logika saja, melainkan juga keputusan sosial yang memuat norma dan tekanan dari lingkungan sekitar.

Pengaruh lingkungan sosial dapat menimbulkan tekanan psikologis individu berupa rasa takut tertinggal dibandingkan orang lain. Ketika suatu jurusan dipersepsikan lebih populer, atau memiliki prospek kerja yang lebih baik, calon mahasiswa cenderung terdorong untuk mengikuti pilihan tersebut meskipun tidak sesuai dengan potensi, minat, dan tujuan pribadinya.

Baca juga: Pola Komunikasi Mahasiswa Perantau dalam Adaptasi Lingkungan Sosial di Kampus

Perbandingan sosial secara terus-menerus, baik melalui interaksi secara langsung maupun di media sosial, dapat memunculkan rasa cemas dan ragu dalam mengambil keputusan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pemilihan jurusan kuliah sering kali tidak sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan rasional dan pemahaman diri yang matang, melainkan dipengaruhi oleh kecemasan sosial serta ekspektasi dari lingkungan sekitar, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kepuasan dan keberhasilan akademik mahasiswa di masa depan.

Rachmawati (2023) menjelaskan bahwa keputusan mahasiswa dalam memilih jurusan tidak terlepas dari tekanan yang berasal dari lingkungan sosial, terutama orang tua, teman sebaya, serta harapan sosial yang berkembang di masyarakat.

Orang tua sering kali memiliki ekspektasi tertentu terhadap pilihan jurusan yang dianggap mampu menjamin masa depan, stabilitas ekonomi, atau status sosial yang lebih baik. Di sisi lain, pengaruh teman sebaya juga berperan kuat melalui ajakan, perbandingan, dan kecenderungan mengikuti pilihan kelompok agar tidak merasa berbeda atau tertinggal.

Selain itu, harapan sosial yang terbentuk dari tren pendidikan dan persepsi masyarakat terhadap jurusan tertentu dapat memperkuat tekanan psikologis pada mahasiswa.

Kondisi tersebut mendorong mahasiwa untuk menyelaraskan pilihan arahnya dengan standar yang berlaku di lingkungan sekitar, sehingga proses pengambilan keputusan tidak sepenuhnya didasarkan pada minat dan potensi diri, melainkan dipengaruhi oleh rasa khawatir akan penilaian sosial dan kekhawatiran akan tertinggal dari orang lain.

Tekanan sosial yang dialami mahasiswa dapat berdampak pada cara mereka memandang keberhasilan dan masa depan, di mana keberhasilan sering kali diukur berdasarkan kesesuaian dengan ekspektasi lingkungan sekitar, bukan pada kepuasan dan kesesuaian diri.

Dalam jangka panjang, keputusan jurusan yang diambil di bawah tekanan sosial berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara kemampuan, minat, dan tuntutan akademik yang dihadapi mahasiswa. Hal tersebut dapat memicu munculnya stres, penurunan motivasi belajar, hingga ketidakpuasan terhadap pilihan studi yang telah ditetapkan.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap kuatnya pengaruh lingkungan sosial dalam pemilihan jurusan menjadi penting agar mahasiswa mampu mengambil keputusan dengan lebih bijak, dan selaras dengan potensi diri serta tujuan akademik dan karier mereka.

Menurut (Gustina dan Jumrianti, 2022), prestasi akademik mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh usaha belajar semata, tetapi sangat dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang dimiliki serta ketersediaan fasilitas belajar yang mendukung.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan dan usaha tanpa didukung kesiapan intelektual yang sesuai dengan bidang studi belum tentu menghasilkan capaian akademik yang optimal. Mahasiswa yang memilih jurusan karena dorongan tekanan sosial, atau tren jurusan tertentu sering kali mengabaikan kesesuaian antara minat, potensi, dan kemampuan intelektual dirinya.

Ketidaksesuaian tersebut dapat menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami materi perkuliahan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta memanfaatkan fasilitas belajar secara maksimal. Akibatnya, mahasiswa cenderung mengalami penurunan motivasi, stres akademik, dan kesulitan mencapai prestasi akademik yang optimal.

 

Strategi Mengurangi Risiko Salah Jurusan Kuliah bagi Siswa dan Mahasiswa

Memilih jurusan kuliah yang tepat membutuhkan informasi yang jelas dan mudah dipahami mengenai alternatif jurusan, minat, dan arah karier. metode yang digunakan adalah kegiatan sosialisasi melalui presentasi, yang berarti menyampaikan ide di hadapan umum (Nazwa et al., 2023) tim sosialisasi memberikan pemaparan mengenai berbagai jurusan yang tersedia beserta prospek karier di masa depan.

Presentasi dikemas secara menarik dengan bantuan media visual seperti slide dan video untuk memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan. Sosialisasi yang dilakukan secara terstruktur dapat membantu siswa memperoleh gambaran menyeluruh mengenai karakteristik masing-masing jurusan, tuntutan akademik, serta keterkaitannya dengan dunia kerja.

Dengan demikian, siswa tidak hanya mengandalkan persepsi subjektif atau pengaruh lingkungan sekitar, tetapi mampu mempertimbangkan pilihan jurusan berdasarkan informasi yang relevan dan akurat.

Hambatan dalam pemilihan karier semakin terlihat ketika perubahan kurikulum membuat siswa kebingungan menentukan arah akademik dan pilihan mata pelajaran. Mulyasa (2023) menegaskan bahwa kebijakan kurikulum baru yang memberikan keleluasaan bagi siswa justru menimbulkan tantangan karena minimnya bimbingan yang siswa terima untuk memahami potensi dan arah karier yang tepat.

Kondisi tersebut menunjukkan peran penting guru BK dalam memberikan pengetahuan secara menyeluruh. Guru BK membantu menemukan informasi tentang pendidikan, potensi diri, dan peluang karir.

Asesmen psikologis menjadi salah satu strategi penting dalam membantu siswa mengurangi risiko salah jurusan. Tes intellegensi, minat bakat, serta instruksi yang tidak bersifat tes, seperti wawancara, observasi, dan angket memungkinkan konselor memetakan potensi serta hambatan siswa secara lebih komprehensif, selain membantu memahami konseli secara menyeluruh, asesmen psikologis juga memiliki fungsi prediktif, diagnostik, serta evaluatif (Harahap & Harahap, 2024).

Pemanfaatan asesmen psikologis dalam konteks pemilihan jurusan berkontribusi besar dalam memberikan dasar ilmiah terhadap pengambilan keputusan akademik. Hasil asesmen dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi siswa, orang tua, dan pihak sekolah dalam merancang jalur pendidikan yang sesuai. Dengan demikian, risiko ketidaksesuaian antara kemampuan, minat, dan tuntutan jurusan dapat diminimalkan sejak awal.

Menurut Soeparwoto (Septa, 2022), Faktor penyesuaian diri siswa dapat dibagi menjadi dua kategori: faktor internal dan eksternal. Motif, konsep diri, persepsi, sikap, intelegensi, minat, dan kepribadian adalah faktor internal.

Faktor-faktor eksternal termasuk kondisi keluarga, situasi universitas, teman sebaya, prasangka sosial, dan hukum dan norma sosial.

Faktor-faktor tersebut menjadi dasar penting dalam strategi mengurangi risiko salah jurusan, karena melalui bimbingan konseling, asesmen minat-bakat, dan sosialisasi jurusan, mahasiswa dapat lebih memahami kemampuan dan minat diri, sekaligus memperoleh dukungan lingkungan, sehingga pemilihan jurusan dapat lebih tepat dan penyesuaian diri di perguruan tinggi menjadi lebih optimal.

Sebagai bentuk pertimbangan yang menyeluruh terhadap faktor internal dan eksternal, strategi pengurangan risiko salah jurusan tidak hanya berfokus pada aspek akademik semata, tetapi juga pada kesiapan psikologis dan sosial mahasiswa, pendekatan yang menyeluruh memungkinkan siswa dan mahasiswa membangun kesiapan diri sejak sebelum memasuki perguruan tinggi, sehingga mampu beradaptasi secara lebih baik, meningkatkan kepuasan belajar, serta mengurangi potensi pindah jurusan atau ketidakpuasan akademik di kemudian hari.

Pemilihan jurusan kuliah merupakan keputusan yang sangat penting karena akan berpengaruh pada keberhasilan akademik dan berkaitan langsung dengan proses perkuliahan yang akan dijalani. Diperlukan cara yang tepat supaya siswa dan mahasiswa bisa mengurangi kemungkinan memilih jurusan yang tidak sesuai.

Penerapan sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis kriteria objektif juga dapat membantu siswa dalam membandingkan berbagai pilihan jurusan secara lebih transparan. Sistem tersebut berfungsi untuk menyajikan informasi yang dibutuhkan secara jelas, sehingga dapat membantu mengurangi rasa ragu dan kebingungan dalam menentukan jurusan sesuai kemampuan masing-masing individu.

Sejalan dengan hal tersebut, Asfaw et al. (2023) menegaskan bahwa pemanfaatan data yang akurat dan relevan sangat penting dalam proses pengambilan keputusan di perguruan tinggi. Penggunaan data akademik, informasi pasar kerja, serta kecenderungan minat dan bakat dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kecocokan antara calon mahasiswa dan jurusan yang dipilih.

Dengan demikian, keputusan yang diambil tidak hanya bersifat subjektif, tetapi juga didukung oleh bukti empiris yang dapat meningkatkan ketepatan pilihan jurusan. Strategi berbasis data tersebut diharapkan mampu membantu siswa dan mahasiswa ketika menentukan jurusan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan diri, serta peluang karier di masa depan, sehingga risiko salah jurusan dapat diminimalkan secara signifikan.

 


Penulis: Eka Bella Destyanova (202510180110016)
Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses