Pernikahan idealnya menjadi tempat bernaung yang aman bagi dua insan yang saling mencintai dan mendukung.
Namun, kenyataannya tidak semua wanita merasakan hal tersebut. Banyak istri yang merasa kesepian meskipun berada dalam ikatan pernikahan.
Mereka tersenyum di hadapan orang lain, namun menyimpan luka di dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit wanita yang menjalani peran sebagai istri sambil menanggung beban psikologis yang berat.
Terlebih jika pasangan mereka bersikap acuh atau menganggap kesehatan mental istri bukanlah hal yang penting.
Dalam situasi seperti ini, seorang istri tidak hanya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, tetapi juga harus menjaga keseimbangan fisik dan psikisnya sendiri.
Di Indonesia, angka kekerasan dalam rumah tangga memang menjadi perhatian, tetapi jauh lebih banyak yang tak tercatat karena kekerasan tak selalu dalam bentuk fisik.
Berdasarkan catatan Komnas Perempuan dan KPPPA, hanya sekitar 0,19% korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melapor secara resmi, sementara lebih dari 99% memilih untuk diam. Hal ini termasuk kekerasan non-verbal seperti pengabaian dan ketidakpedulian
Dalam kajian psikologi sosial, hubungan pernikahan termasuk dalam hubungan interpersonal yang sangat mempengaruhi kesejahteraan individu.
Hubungan yang sehat dan saling mendukung dapat menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Sebaliknya, hubungan yang dingin dan kurang empati dapat menyebabkan kelelahan psikologis yang serius.
Penelitian oleh Yosita et al., (2022) menunjukkan bahwa dukungan suami memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis istri yang memiliki peran ganda.
Semakin tinggi dukungan suami, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis istri. Sebaliknya, tekanan psikologis memiliki hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis istri.
Hal ini menunjukkan bahwa dukungan suami sangat penting dalam menjaga kesehatan mental istri.
Sikap tidak peduli dari suami tidak selalu tampak jelas. Kadang hadir dalam bentuk diam saat istri menangis, mendengarkan setengah hati, atau menganggap keluhan istri hanyalah “drama bulanan”.
Muna & Indrawati (2022) mencatat bahwa kurangnya dukungan sosial dari suami meningkatkan risiko burnout pada ibu rumah tangga, terutama mereka yang tidak bekerja di ranah publik.
Budaya patriarki yang telah lama mengakar membuat perempuan cenderung menekan emosinya sendiri.
Sejak kecil, perempuan sering diajarkan untuk menjadi penurut, sabar, dan mengalah, bukan untuk mengenali dan menyuarakan kebutuhannya.
Maka tak heran, banyak perempuan bertahan dalam pernikahan bukan karena bahagia, tapi karena takut dicap gagal.
Saya pernah menyaksikan seorang istri yang terlihat tangguh dari luar, tetapi menyimpan duka dalam diam.
Ia tetap bertahan demi anak-anak, keluarga, dan menjaga citra rumah tangga, meski hatinya dipenuhi rasa sepi.
Dari luar tampak baik-baik saja, tapi dalam dirinya sedang terjadi konflik batin yang menyakitkan.
Cinta sejati bukan hanya tentang bertahan, cinta adalah tentang tumbuh bersama. ketika istri terus memberi tanpa pernah menerima dukungan, maka relasi yang terjadi bukan lagi relasi yang sehat.
Ketidakseimbangan peran dalam hubungan rumah tangga dapat berdampak pada munculnya tekanan emosional dan menurunnya kepuasan hubungan.
Sering kali, kesehatan mental istri dianggap hal sepele. Padahal, istri juga manusia yang butuh didengarkan, dipahami, dan memiliki ruang aman untuk berbagi.
Istri bukan hanya tempat memberi, tetapi juga berhak untuk menerima dukungan dan kasih sayang.
Jadi apa yang dapat dilakukan seorang istri dalam situasi ini?
- Pertama, sadari bahwa perasaan lelah, kecewa, atau sedih itu valid.
- Kedua, jangan ragu untuk mencari dukungan sosial dari luar, baik itu teman, komunitas, atau psikolog.
- Ketiga, penting untuk mengomunikasikan kebutuhan emosional kepada pasangan dengan cara yang sehat dan asertif.
Untuk para suami:
- Tanyakan pada diri sendiri: “Sudahkah aku hadir, tidak hanya fisik, tapi juga emosional?”
- Beri ruang aman untuk pasangan bercerita, tanpa menghakimi.
- Hadirlah karena kehadiran emosional bisa jauh lebih menyembuhkan daripada seribu janji manis.
Menjalani pernikahan tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga tentang kerja emosional untuk hadir, mendengar, dan memahami.
Karena sesungguhnya, kesejahteraan psikologis pasangan adalah cermin dari kualitas hubungan itu sendiri.
“Menjaga kesehatan mental istri bukanlah tanggung jawab istri semata. Itu adalah tanggung jawab bersama. Karena pernikahan yang sehat tak dibangun dari satu orang yang terus menguat, tapi dua orang yang saling memeluk saat yang satu merasa runtuh.”
Penulis: Zuyyin Choiriyyatun Felasuf
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muria Kudus
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












