Kesehatan mental masih menjadi topik yang sering disalahpahami di masyarakat. Banyak orang yang menganggap masalah kesehatan mental sebagai hal sepele, bahkan dianggap sebagai kelemahan pribadi. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Sayangnya, stigma yang melekat pada individu dengan gangguan kesehatan mental masih sangat kuat dan berdampak besar pada kehidupan mereka.
Stigma terhadap kesehatan mental dapat diartikan sebagai sikap negatif, prasangka, atau pelabelan buruk terhadap individu yang mengalami masalah psikologis.
Bentuk stigma ini bisa muncul dalam berbagai cara, seperti ejekan, pengucilan sosial, hingga anggapan bahwa seseorang yang mengalami gangguan mental adalah orang yang “lemah”, “tidak waras”, atau “mencari perhatian”. Stigma semacam ini sering terjadi di lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, teman, hingga masyarakat luas.
Dampak stigma terhadap kesehatan mental individu sangat serius. Salah satu dampak paling nyata adalah menurunnya rasa percaya diri. Individu yang terus-menerus mendapatkan label negatif akan mulai mempercayai anggapan tersebut.
Baca Juga: Kasus Bunuh Diri di Indonesia: Daya Juang yang Rendah atau Rendahnya Kesadaran Akan Mental Health?
Mereka merasa dirinya tidak berharga, berbeda, dan tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Kondisi ini dapat memperparah gangguan mental yang sedang dialami, seperti depresi atau kecemasan.
Selain itu, stigma juga membuat banyak individu enggan mencari bantuan profesional. Rasa takut dicap “gila” atau dianggap berlebihan membuat mereka memilih untuk memendam masalah sendiri.
Padahal, penanganan kesehatan mental membutuhkan dukungan, baik dari tenaga profesional seperti psikolog maupun dari lingkungan sosial. Ketika individu menunda atau bahkan menghindari bantuan, kondisi mental mereka bisa semakin memburuk.
Di lingkungan kampus dan sekolah, stigma kesehatan mental juga masih sering ditemukan. Mahasiswa atau pelajar yang mengalami stres berat, burnout, atau gangguan kecemasan sering dianggap kurang mampu mengatur diri atau tidak siap menghadapi tekanan akademik.
Padahal, tekanan akademik, tuntutan sosial, dan perubahan fase kehidupan merupakan hal yang wajar dan bisa berdampak pada kondisi psikologis siapa saja. Kurangnya pemahaman ini membuat banyak mahasiswa memilih diam dan berpura-pura baik-baik saja.
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, stigma kesehatan mental muncul karena adanya kesalahan dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi. Informasi yang beredar di media maupun percakapan sehari-hari sering kali tidak akurat dan cenderung menyudutkan individu dengan gangguan mental.
Baca Juga: Ironi Kesehatan Mental Generasi Z
Media massa terkadang masih menggambarkan gangguan mental secara berlebihan atau negatif, sehingga membentuk persepsi keliru di masyarakat.
Untuk mengurangi stigma, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak. Edukasi tentang kesehatan mental perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama melalui media massa dan media sosial. Informasi yang disampaikan harus bersifat empatik, mudah dipahami, dan tidak menghakimi.
Selain itu, lingkungan terdekat seperti keluarga dan teman juga memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman bagi individu yang mengalami masalah kesehatan mental.
Kesadaran bahwa kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan perlu ditanamkan sejak dini. Dengan meningkatnya pemahaman dan empati, stigma perlahan dapat dikurangi. Individu yang mengalami gangguan kesehatan mental pun akan merasa lebih diterima dan berani untuk mencari bantuan.
Sebagai mahasiswa, khususnya di bidang Ilmu Komunikasi, penting untuk memiliki kepekaan terhadap isu kesehatan mental. Cara kita berbicara, menulis, dan menyampaikan pesan dapat memengaruhi cara pandang masyarakat.
Dengan komunikasi yang tepat dan bertanggung jawab, stigma terhadap kesehatan mental dapat diminimalkan, sehingga tercipta lingkungan sosial yang lebih peduli dan manusiawi.
Penulis: Dava Raya Maulana (NIM: 1152500127)
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya)
Dosen Pengampu: Widiyatno Ekoputro
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












