Peringatan Hari Mangrove Sedunia 2025 di Desa Belaras Barat bukan hanya seremonial. Ini adalah jeritan dari wilayah pesisir, tentang pentingnya menjaga mangrove agar tetap hidup, lestari, dan memberi harapan untuk bumi.
Saya, mewakili panitia, mahasiswa, dan pemuda-pemudi pesisir, menyaksikan langsung bagaimana solidaritas lintas elemen hari ini menjadi nyata. Ratusan relawan dari mahasiswa HMI Cabang Tembilahan dan BEM UNISI turut hadir bukan sekadar membantu teknis acara, tapi menjadi wajah masa depan perjuangan ekologi di Riau.
Dalam kegiatan ini, kami menanam 1.000 pohon mangrove di titik-titik kritis abrasi. Tapi lebih dari itu, kami sedang menanam kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan pilihan, tapi keharusan.
Baca juga: Dari Mangrove ke Makanan Ringan: Inovasi Brilian PT Roves Global Food
Kehadiran para tokoh, seperti Gubernur Riau H. Abdul Wahid, Kapolda Riau, Bupati Inhil, Danrem 031/WB, hingga Dirjen PDASHL Kementerian LHK menunjukkan bahwa isu lingkungan sudah menembus tembok birokrasi dan menjadi kepedulian bersama.
Peluncuran Pesantren Ekologi Al-Furqan adalah tonggak penting. Pesantren ini bukan hanya ruang belajar, tapi akan menjadi benteng moral dan intelektual yang menggabungkan iman dan ekologi.
Kemudian, perkenalan maskot “Si Rajalesa” (Rajawali Pelestari Alam) yang diluncurkan langsung oleh Kapolda Riau dan Kapolres Inhil, adalah cara cerdas mengedukasi masyarakat dan generasi muda lewat simbol yang dekat dengan budaya dan semangat lokal.
Tak kalah penting, wisata tracking mangrove yang digagas bersama, memberi nilai tambah ekonomi sekaligus memperkenalkan hutan mangrove sebagai ruang belajar terbuka dan ruang healing alami.
Sebagai Ketua Panitia, saya ingin mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada:
- Gubernur Riau, Kapolda Riau, Bupati Inhil, Danrem, Kabinda, Dirjen PDASHL, dan Kapolres Inhil yang selalu Support hingga acara ini lancar
- Kepala Desa Belaras Barat Yang sudah memfasilitasi lokasi
- Yayasan BDPN, Jikalahari, PLN Tembilahan, PROGAM M4CR, Paradigma.
- HMI Cabang Tembilahan dan BEM UNISI, serta seluruh masyarakat Desa Belaras Barat
Kami, mahasiswa, tidak ingin sekadar menjadi pengisi acara. Kami ingin menjadi bagian dari sejarah. Kami hadir karena kami percaya bahwa perjuangan menjaga lingkungan bukan dimulai hari ini dan tidak berakhir esok ini adalah perjuangan panjang yang harus diwariskan.
Dari Desa Belaras Barat yang mungkin tak banyak dikenal, kami kirim pesan ke dunia:
Jika akar mangrove bisa bertahan dari hantaman ombak, maka kita pun bisa bertahan dari gempuran kerusakan asal bersama.
Salam Adil dan Lestari,
Penulis: Naufal Faskal Rifa’i
Presiden Mahasiswa Universitas Islam Indragiri (UNISI)
Ketua Panitia Hari Mangrove Sedunia 2025
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














