Papua sering kali dijuluki sebagai “Paru-paru Dunia” yang tersisa di Asia Pasifik. Dengan hamparan hutan hujan tropis seluas puluhan juta hektare, tanah ini bukan sekadar peta hijau di ujung timur Indonesia, melainkan benteng pertahanan terakhir bumi melawan krisis iklim.
Namun, benteng ini sedang berada dalam kondisi siaga. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai isu lingkungan yang tengah membayangi Bumi Cenderawasih.
1. Deforestasi: Hilangnya Kanopi Hijau
Isu paling krusial di Papua adalah percepatan laju deforestasi. Hutan primer yang telah berdiri selama ribuan tahun kini menghadapi tekanan dari ekspansi industri skala besar.
-
Ekspansi Perkebunan Sawit: Konversi hutan menjadi lahan monokultur menghilangkan keanekaragaman hayati dan merusak struktur tanah.
-
Pertambangan: Aktivitas tambang, baik legal maupun ilegal, tidak hanya menggunduli hutan tetapi juga menghasilkan limbah (tailing) yang berisiko mencemari aliran sungai.
-
Pembangunan Infrastruktur: Meski bertujuan untuk konektivitas, pembukaan jalan di tengah hutan primer sering kali menjadi pintu masuk bagi pembalakan liar (illegal logging).
Baca juga: Ironi Paru-Paru Dunia: Krisis Iklim dan Ancaman terhadap Kedaulatan Pangan Masyarakat Adat Papua
2. Ancaman terhadap Spesies Endemik
Papua adalah rumah bagi spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Perubahan fungsi hutan secara langsung mengancam habitat mereka.
-
Burung Cenderawasih: Habitat aslinya menyusut, ditambah adanya ancaman perburuan liar untuk perdagangan ilegal.
-
Kanguru Pohon & Walabi: Mamalia berkantung ini sangat bergantung pada tutupan hutan yang rapat untuk mencari makan dan bertahan hidup dari predator.
3. Masyarakat Adat sebagai Penjaga Terakhir
Bagi masyarakat adat Papua, hutan adalah mama (ibu) yang memberi kehidupan. Oleh karena itu, isu lingkungan di sini tidak bisa dilepaskan dari isu hak ulayat.
Perspektif Penting: Data menunjukkan bahwa kawasan hutan yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat adat memiliki laju deforestasi yang jauh lebih rendah dibandingkan lahan yang dikelola oleh konsesi industri. Sebaliknya, perampasan lahan adat sering kali menjadi awal dari kerusakan ekologis.
Baca juga: Papua di Persimpangan: Antara Ambisi Pembangunan dan Tangis Hutan Terakhir
Solusi Masa Depan: Ekonomi Hijau
Untuk menyelamatkan Papua, paradigma pembangunan harus bergeser dari ekstraktif (mengambil dari alam) menjadi regeneratif.
Baca juga: Menimbang Ulang Pembangunan Papua: Antara Ambisi Ekonomi dan Integritas Ekologis
Kesimpulan
Menyelamatkan lingkungan Papua bukan hanya tentang melindungi pohon, tetapi juga tentang menjaga identitas budaya masyarakatnya serta stabilitas iklim global. Jika Papua kehilangan hijaunya, dunia akan kehilangan salah satu pertahanan terbaiknya melawan pemanasan global.
Penulis: Rebecca Aworyane
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Cendrawasih
Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga, S.IP., M.A.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













