Pendahuluan
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia.
Stunting terjadi ketika anak memiliki tinggi badan yang jauh lebih rendah dibandingkan standar usianya karena kekurangan gizi dalam waktu lama.
Masalah ini tidak bisa dianggap sepele, sebab dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan, kemampuan belajar, produktivitas, bahkan bisa meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan.
Meski angka stunting di Indonesia sudah mulai menurun, jumlahnya masih cukup tinggi.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting turun menjadi 19,8% dari 21,5% pada tahun 2023.
Angka ini sudah lebih baik, tapi tetap di atas ambang batas ideal World Health Organization (WHO) yang seharusnya di bawah 20%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa stunting masih perlu menjadi perhatian besar.
Ada banyak penyebab stunting, tetapi beberapa faktor yang paling sering menonjol adalah pengaruh kondisi ekonomi keluarga, pendidikan ibu, dan kualitas sanitasi di lingkungan tempat tinggal.
1. Argumen atau isi
2. Status Sosial Ekonomi
Keluarga dengan kondisi ekonomi rendah seringkali kesulitan menyediakan makanan bergizi, akses layanan kesehatan, hingga tempat tinggal yang layak.
Hal ini membuat anak lebih rentan mengalami stunting.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi cenderung memiliki angka stunting lebih besar (Kurniawati et al., 2025).
Dengan kata lain, semakin sulit kondisi ekonomi keluarga, semakin besar pula resiko anak mengalami kekurangan gizi kronis.
Pendidikan Ibu
Pendidikan seorang ibu sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya.
Ibu yang memiliki pendidikan lebih baik biasanya lebih memahami pentingnya ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi, serta menjaga kebersihan makanan.
Sebaliknya, keterbatasan pendidikan membuat pengetahuan tentang gizi dan kesehatan anak menjadi sangat minim.
Kajian sistematis oleh Subratha & Agustia (2024) memperlihatkan bahwa anak dari ibu berpendidikan rendah lebih berisiko tinggi mengalami stunting dibandingkan anak dari ibu dengan pendidikan menengah atau tinggi.
Baca juga: Ibu adalah Pendidikan Pertama dan Utama untuk Anak
Sanitasi dan Lingkungan
Secara tidak sadar lingkungan tempat tinggal juga punya peran yang sangat berefek dengan kesehatan anak.
Sanitasi yang buruk, seperti minimnya akses air bersih atau toilet sehat, membuat anak lebih mudah terkena penyakit infeksi seperti diare atau cacingan.
Penyakit ini mengganggu penyerapan nutrisi dan akhirnya menghambat pertumbuhan.
Laporan BPK Kemenkes (2024) menyebutkan bahwa buruknya sanitasi masih menjadi salah satu penyebab utama stunting di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan.
Baca juga: Bijak dalam Berkeluarga: Pencegahan Pernikahan Dini, Bebas Stunting & Manajemen Finansial
Penutup
Stunting bukan hanya soal kurang makan dan gizi, tetapi juga berkaitan dengan masalah ekonomi, pendidikan, dan sanitasi. Ketiganya saling berhubungan dan berdampak besar pada tumbuh kembang anak.
Untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, diperlukan langkah bersama yang lebih menyeluruh.
Program gizi harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan keluarga, memperluas akses pendidikan bagi perempuan, melakukan sosialisasi ke daerah daerah yang terpencil, serta membangun fasilitas sanitasi yang layak di masyarakat.
Jika keempat hal ini bisa berjalan beriringan, target penurunan stunting di Indonesia akan lebih mudah tercapai, dan anak-anak bisa tumbuh sehat menjadi generasi unggul di masa depan.
Baca juga: Mengatasi Krisis Sanitasi di Indonesia: Mendorong Aksi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Penulis: Emir Rifaat Tadjudin
Dosen Pengampu: Tania Ardiani Saleh, Dra., M.S.
Mahasiswa Jurusan Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
Referensi
Kementerian Kesehatan RI. (2024). SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%. Jakarta: BKPK Kemenkes RI. Link
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kemenkes RI. Link
Subratha, A., & Agustia, I. D. M. (2024). Determinants of Stunting Among Toddlers: A Systematic Literature Review. Warmadewa Medical Journal, 9(2), 50–56. DOI
Kurniawati, D., et al. (2025). Geographically Weighted Regression Model of Stunting Determinants in Indonesia. Journal of Maternal and Child Health, 10(3), 77–85. DOI
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI. (2024). Fact Sheet: Stunting in Indonesia and Its Determinants. Repository BKPK
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













