Family Link: Membantu Peran Orang Tua dalam Mengontrol Emosi Anak Ketergantungan Gadget

Ketergantungan Gadget
Ilustrasi Family Link (Sumber: MMI)

Anak adalah amanah atau titipan yang sangat berharga dari Yang Maha Kuasa bagi para orang tua. Oleh karena itu anak harus dilindungi, dididik, dan dijaga. Peran orang tua bukan hanya menjaga tumbuh kembangnya dari luar, namun yang lebih penting adalah menjaga dan melindungi psikis anak, terutama dalam mengontrol emosinya.

Dikarenakan perkembangan emosi anak sudah mulai sejak usia satu sampai lima tahun, peran orang tua untuk memahami diri anak  sangat dibutuhkan pada tahap ini.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, tanggung jawab sebagai orang tua semakin besar dalam mendidik anak karena perkembangan teknologi semakin pesat. Di zaman sekarang, gadget sudah seperti bagian dari kehidupan anak-anak. Bahkan, mulai dari anak usia empat tahun, mereka sudah terbiasa memegang ponsel atau tablet untuk menonton video dan bermain game.

Selain itu, anak yang berusia di atas sepuluh tahun sudah diberikan akses media sosial (seperti WhatsApp, Tiktok, dan Instagram). Terkadang gadget memang bisa membantu anak untuk belajar, tetapi jika tidak dibatasi, pengaruhnya akan membuat anak sulit mengontrol emosi dan perilakunya.

Harusnya, orang tua sadar bahwa ada dampak negatif jika anak mereka yang belum cukup umur sudah diperbolehkan untuk memiliki gadget sendiri. Apalagi, jika orang tua tidak membatasi waktu dan memperbolehkan anak mengakses media sosial. Hal ini bisa menjadi dampak negatif terutama dalam penggunaan media sosial. Misalnya, pada aplikasi WhatsApp, anak-anak rentan meniru bahasa kasar dari lingkup pertemanan.

Selain itu, media sosial yang tidak diperuntukkan anak yang belum cukup umur, terutama di bawah 14 tahun seperti Instagram, Tiktok, hingga Youtube juga perlu diawasi. Aplikasi lain seperti Youtube Kids saja yang sudah dikhususkan untuk anak-anak pun terkadang masih ada konten dengan tutur kata yang kurang sopan. Semua ini dapat terjadi karena orang tua tidak mengawasi secara ketat.

Padahal tontonan, ucapan, dan hal-hal yang tidak sesuai usianya tersebut bisa memengaruhi cara bicara, berpikir, bahkan cara mengekspresikan diri atau emosi mereka. Biasanya, anak-anak akan mengekspresikan diri dengan tantrum, hal ini menjadi tanda bahwa mereka sudah ketergantungan gadget.

Baca juga: Penggunaan Gadget Berlebihan Mulai Mengganggu Proses Belajar Mahasiswa

Ketergantungan gadget merupakan suatu gangguan dalam penggunaan gadget dan ketidakmampuan dalam mengontrol waktu penggunaan sehingga menimbulkan perasaan cemas (Hidayat & Mustikasari, 2014).

Ketergantungan gadget ini dapat membuat anak sulit mengatur waktu. Jika anak sudah fokus dengan gadgetnya, mereka bisa lupa makan, malas mandi, menunda tugas sekolah, dan bahkan membantah ketika diperingatkan untuk berhenti oleh orang tuanya.

Masalah ini biasanya muncul karena kurangnya pengawasan dari orang tua, terutama jika anak memiliki orang tua bekerja seharian sehingga anak dibiarkan mengakses gadget sesuka hati. Padahal, anak seharusnya mempunyai kegiatan lain agar tidak bergantung pada gadget saja, seperti bermain di luar rumah, bersepeda, membaca buku cerita, menggambar, les, atau membuat prakarya.

Dengan kegiatan seperti ini, kemampuan sosial dan kreativitas anak semakin meningkat. Selain itu, anak juga dapat terhindar dari paparan sinar gadget, umumnya disebut blue light, yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mata anak dan pola tidurnya.

Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) di tahun 2025, terdapat 48 persen dari 212 juta pengguna internet aktif. Data lain menunjukkan bahwa terdapat 42,25 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget, bahkan sekitar 9,7 persen di antaranya  adalah anak usia di bawah 12 tahun.

Oleh karena itu, orang tua harus mengontrol anak dalam penggunaan gadget agar kesehatan dan kedisiplinan anak tetap terjaga. Hal ini penting karena menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebanyak 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi, yang disebabkan oleh paparan sinar gadget yang berlebih.

Psikolog Seto Mulyadi atau biasa disapa Kak Seto, menjelaskan bahwa orang tua harus berperan aktif dalam mengawasi dan membatasi anak dalam penggunaan gadget agar anak tidak mengalami ketergantungan dan dampak buruk di masa depan, karena ketergantungan ini dapat menghambat pertumbuhan emosional, kecerdasan dan sosial anak.

Menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, orang tua harus bisa mengikuti perkembangan dengan baik, salah satunya dengan menggunakan aplikasi Family Link untuk mengontrol  penggunaan gadget pada anak.

Family Link adalah aplikasi kontrol orang tua untuk memantau dan mengontrol aktivitas anak mereka. Dengan aplikasi ini orang tua dapat mengatur durasi waktu penggunaan gadget, menyaring konten, mengunci perangkat otomatis saat jam tidur, menyetujui aplikasi yang diunduh anak, bahkan dapat melacak lokasi anak. Aplikasi ini membantu peran orang tua dalam tumbuh kembang anak terutama mengontrol emosi mereka.

Orang tua yang telah menerapkan aplikasi ini merasakan perubahan yang lebih baik pada anak mereka. Anak-anak menjadi lebih mudah diatur dan tidak tantrum. Karena dengan penerapan durasi di Family Link, saat durasi penggunaan gadget sudah habis, perangkat akan otomatis terkunci dengan keterangan “waktunya istirahat” dan anak akan berhenti tanpa perdebatan yang panjang dengan orang tua.

Kesimpulannya, ketergantungan gadget dapat membawa dampak buruk bagi masa depan, terutama kesehatan anak. Saya mengajak para orang tua untuk memanfaatkan teknologi dengan baik, seperti menggunakan aplikasi Family Link ini dalam menjaga, mendidik, dan melindungi anak. Pastikan anak tumbuh sehat tanpa ketergantungan gadget.

 


Penulis: Raisha Dina Aqueenta
Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses