Fenomena Homesick dan Kesehatan Mental Remaja

Homesick
Gambar dibuat dengan teknologi AI.

Fenomena homesick marak terjadi pada individu yang tinggal jauh dari lingkungan rumah, homesick adalah rasa rindu akan rumah  dan kampung halaman yang sering kali dialami oleh sebagian besar individu yang berada jauh dari lingkungan tempat mereka berasal.

Terutama pada remaja yang baru memasuki dunia perkuliahan dan merantau jauh dari lingkungan rumah mereka, banyak mahasiswa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka yang baru.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sebagian besar individu akan mengalami homesick dan perasaan sedih di awal masa perantauan karena mungkin belum terbiasa berada jauh dan belum terbiasa melakukan kegiatan secara mandiri seperti saat berada dirumah.

Homesick yang berkepanjangan akan berdampak pada kesehatan mental remaja, kondisi mental yang buruk akan mempengaruhi konsentrasi dan performa akademik.

Sebagian besar individu yang mengalami homesick akan merasakan sedih, takut, dan bahkan rasa kesepian yang berkepanjangan pada awal perantauan, homesick juga dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental individu yang berada di perantauan.

Kesehatan mental yang buruk dapat menyebabkan terjadinya stress, kecemasan yang berlebih, bahkan dapat memungkinkan terjadinya depresi yang dapat mempengaruhi pola hidup sehat, seperti kualitas tidur yang berkurang, pola makan yang menurun, sehingga dapat mengancam kesehatan fisik.

Sebagian besar individu akan kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru sehingga dapat berdampak pada kesehatan mental remaja.

Berdasarkan teori dari Van Tilburg dan Ving Ertho Ets, dimensi homesick adalah merindukan lingkungan fisik, merindukan orang-orang yang berada di domisili tetap, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru dan kesulitan untuk menjalani rutinitas dan gaya hidup baru.

Selain itu teori Fisher juga mendefinisikan homesickness sebagai proses emosional-kognitif yang kompleks, Fisher juga menyatakan bahwa homesick dapat dialami oleh siapa saja.

Baca Juga: Homesick: Tradisi Maba atau Fitrah Hidup?

Berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa sebagian besar remaja yang berada di perantauan pada tahun pertama akan mengalami homesick dan faktanya homesick sangat berdampak pada kesehatan mental, fisik, pola hidup, prestasi akademik, dan bahkan memberikan dampak pada lingkungan sosial remaja yang sedang berada di perantauan.

Remaja yang mengalami homesick cenderung merasa tidak aman, tidak merasakan kebahagian saat berada di lingkungan yang baru, mengalami perubahan suasana hati seperti, gelisah, cemas berlebih, selain itu juga dapat menurunnya rasa kepercayaan diri, dan sulit untuk berkonsentrasi.

Rasa homesick memang sulit untuk dihindari karena bagaimanapun homesick merupakan bagian dari proses perjalanan hidup yang harus dilewati oleh sebagian besar individu pada satu tahun pertama masa perantauan.

Berikut ini terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi homesick saat berada di perantauan seperti, mencari kesibukan dan mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan positif, mencari teman dan lingkungan yang dapat memberikan dampak positif, serta dapat menjadi support system, mengeksplor tempat-tempat yang indah serta mencoba hal-hal baru yang dapat mengurangi rasa sedih dan kesepian, dan yang terpenting tetap menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua, karena melihat wajah dan mendengar suara orang tua dapat membuatmu merasa lebih baik dan kerinduannya sedikit terobati.

Homesick sangat berpengaruh bagi Kesehatan mental remaja yang berada jauh dari lingkungan tempat mereka berasal, terutama pada individu yang baru saja memasuki dunia perantauan, berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa remaja yang berada di perantauan akan mengalami homesick dan faktanya homesick sangat berdampak buruk pada kesehatan mental, fisik, pola hidup, prestasi akademik, dan bahkan memberi dampak buruk pada lingkungan sosial.

Baca Juga: Pentingnya Adaptasi bagi Mahasiswa Rantau

Homesick yang berkepanjangan akan mengakibatkan depresi yang sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik remaja.

Sebaiknya individu yang mengalami homesick banyak meluangkan dan mengisi waktu untuk melakukan hal-hal positif, serta mencari lingkungan yang dapat membantu proses adaptasi, jika fenomena homesick dapat diminimalisirkan maka kesehatan mental remaja yang berada di perantauan akan lebih terkontrol.

Penulis: Rasti Khaeratun Hisyan
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses