Kebudayaan Minangkabau sebagai Warisan Lisan di Minangkabau

Sastra Minangkabau
Sumber: seringjalan.com, Foto: Minang Nantigo

Kalian pasti pernah mendengar atau tahu beberapa kosa kata Minangkabau seperti kata “onde mande”, kata “apo”, atau ”uda/uni”, dan sebagainya.

Seperti yang diketahui bahwa ini merupakan bahasa yang digunakan dan diucapkan oleh masyarakat yang ada di Sumatera Barat, bisa disebut juga sebagai bahasa Minangkabau.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, ternyata bahasa Minangkabau itu punya dialek yang berbeda-beda loh di setiap daerahnya. Sebelum kita masuk ke pembahasan dan topik utama, kita akan membahas terlebih dahulu mengenai apa itu bahasa.

Bahasa

Seperti yang kita ketahui, bahasa adalah media komunikasi kita antara manusia dengan manusia lain, yang dikeluarkan sehingga lawan bicara dapat paham dengan maksud dan hal yang kita sampaikan.

Ringkasnya, kemampuan kita dalam berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia mempunyai berbagai macam bahasa, mulai dari bahasa nasional, bahasa daerah yang berbagai macam dan sebagainya.

Nah, di sini kita akan membahas seputar Minangkabau. Karena topik kita Minangkabau, tentu saja yang akan kita bahas adalah bahasa Minangkabau.

Baca Juga: Tradisi Malam Bainai: Keindahan Ritual Sebelum Pernikahan di Minangkabau

Bahasa Minangkabau (Baso Minangkabau)

Bahasa Minangkabau ini merupakan cabang dari bahasa Austronesia yang dituturkan oleh suku Minangkabau.

Dituturkan khususnya di Sumatera Barat, bagian barat Provinsi Riau. Bahasa ini juga tersebar di wilayah yang meliputi daerah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatera Barat.

Bahasa Minangkabau juga kerap digunakan di daerah luar Sumatera Barat seperti daerah Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Aceh, serta Negeri Sembilan.

Namun, apakah kalian tahu, kalau bahasa Minangkabau itu memiliki lebih dari satu dialek, loh! Ayok, kita bahas.

Di dalam bahasa Minangkabau terdapat beberapa dialek, loh. Tapi, apa sih dialek itu?

Dialek adalah variasi bahasa berbeda-beda berdasarkan pemakaiannya, seperti daerah, kelompok sosial, dan kurun waktu. Bisa dibilang secara singkat adalah logatnya.

Baca Juga: Tradisi Pernikahan di Minangkabau: Tradisi Alek Bajawek di Nagari Koto Baru, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya

Nah, di dalam bahasa Minangkabau, di setiap wilayahnya memiliki dialek yang berbeda-beda.

Ada beberapa dialek di Minangkabau, seperti dialek Pasaman, dialek Agam-Tanah Datar, dialek Lima Puluh Koto, dialek Pancung Soal, dialek Koto Baru.

Nah, dialek-dialek ini jika kita dengarkan, memiliki perbedaan dari logat. Namun, biasanya untuk mempermudah kita dalam berkomunikasi, biasanya orang-orang menggunakan dialek Padang, yang lebih mudah dipahami.

Nah, gimana sih penggunaan bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari? Ayok, kita bahas.

Masyarakat Minangkabau memiliki kesantunan, tata krama, dan aturan dalam berbicara atau berkomunikasi, biasa dikenal dengan Kato Nan Ampek. Di dalam Kato Nan Ampek, berisikan:

Kato Mandaki (Kata Mendaki)

Cara bertutur kata yang digunakan dalam adat Minangkabau untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial yang lebih tinggi.

Baca Juga: Kontradiksi Antara Hukum Warisan Adat Minangkabau dengan Hukum Warisan dalam Islam

Biasanya, kata-kata yang diucapkan lebih sopan dan santun untuk menghormati yang lebih tua.

Kato Manurun (Kata Menurun)

Kebalikan dari Kato Mandaki, Kato Manurun digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih muda, seperti berbicara kepada adik kita, atau kepada anak kecil. Atau seperti guru kepada murid.

Kato Mandata (Kata Mendatar)

Tata cara berbicara dengan orang yang seumuran, sejawat, atau memiliki status sosial yang sama. Seperti kita berbicara dengan teman sebaya kita.

Kato Malereang (kata melereng)

Tata cara berbicara kepada orang yang dihormati, seperti mertua, menantu, atau tokoh adat, agama, dan pemimpin.

Nah, keempat ini harus diterapkan dalam penggunaan bahasa sehari-hari untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki tata krama, baik secara perilaku maupun ucapan.

Dari bahasa Minangkabau, Minangkabau mempunyai kebudayaan warisan yang disampaikan turun-temurun dari mulut ke mulut yang disampaikan menggunakan bahasa Minangkabau sebagai identitas dan keunikan budaya tersendiri.

Baca Juga: Paradoks Matrilineal di Minangkabau

Contoh kebudayaannya adalah seperti Kaba. Kaba merupakan sebuah cerita yang diturunkan secara turun-temurun, yang dituliskan dalam sebuah buku, kemudian disampaikan dengan iringan musik.

Kaba sendiri, berisikan cerita tentang adat, kehidupan masyarakat dan filosofi hidup. Kaba dalam dalam bahasa Minangkabau memiliki padanan kabar, dalam bahasa Indonesia dan akhbar dalam Bahasa Arab.

Kata lain untuk Kaba dalam bahasa Minangkabau adalah carito = cerita. Namun, kabar itu dapat mengandung kebenaran dan tidak tertutup kemungkinan mengandung kebohongan.

Oleh karena itu, pada saat memulai sebuah cerita tukang rebab (pemain rebab) yaitu orang yang bercerita dengan diiringi oleh rebab biasanya menyampaikan ungkapan,

“Dari langit Tabarito, tibo di bumi jadi kaba, dikambang saleba alam, dibalun sagadang kuku, kaba urang aden kabakan, kok salah aden indak namuah mananggung dosonyo”

(Dari langit terberita, tiba di bumi jadi kabar, dikembang akan seluas alam, disingkat akan sebesar kuku, cerita orang yang saya ceritakan, kalau Salah saya tidak bersedia menanggung dosanya).

Baca Juga: Rendang: Lebih dari Sekadar Makanan, Simbol Keagungan Budaya Minang

Nah, selain Kaba, ada lagi yang menjadi kebudayaan warisan di Minangkabau, ada yang cukup terkenal, yaitu Randai.

Ya, Randai berisikan drama-drama yang menceritakan kisah kehidupan yang disampaikan melalui cerita-cerita yang diselingi dengan iringan nyanyian dan gerakan silat. Randai berisi dengan dialog-dialog yang menggunakan bahasa Minangkabau.

Cerita yang dibawakan dalam Randai biasanya diambil dari cerita rakyat atau kenyataan hidup di tengah masyarakat.

Beberapa judul cerita yang biasa dimainkan dalam Randai adalah Sabai Nan Aluih, Anggun Nan Tungga, dan Cindua Mato.

Randai biasanya dimainkan oleh 14-15 pemain. Mereka akan berakting dan bernyanyi menyampaikan kisah-kisah dengan bahasa Minangkabau. Ada pun isi naskah pembuka nya seperti ini :

“Di Dalam Lauak nan tigo. Nan bunsu luak limo puluah. Disinan carito kito mulai…(2x)”

“Mano panonton nan basamo. Kami jari nan sapuluah. Salam ta’azim anak randai.”

“Unjuik andai buah rundiang. Bapalun paham dalam batin. Dalam lilitan aka budi.”

“Salam Indak bajawek tangan. Maaf kan kami lahia batin. Carito dimulai hanyo lai.”

Dari penggunaan bahasa nya bisa kita lihat bahwa orang Minangkabau memiliki kebudayaan mengucapkan salam dan maaf ketika akan memulai suatu acara, ini juga merupakan sebagai bentuk budaya sopan dan tata krama di Minangkabau.

Baca Juga: Peran Wanita dalam Matrilineal Minangkabau: Relevansi dan Tantangan di Era Modern

Warisan seperti warisan lisan ini kebanyakan berisikan mengenai filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Bercerita mengenai kehidupan masyarakat, dengan nyanyian dan kesenian lainnya. Warisan ini harus tetap dilestarikan dengan sebaik mungkin hingga ke generasi berikutnya.

Penulis: Yuni Aisyah Prawira 
Mahasiswa Prodi Sastra Jepang, Universitas Andalas 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses