Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era digital, cepat adaptif, kreatif, dan kritis terhadap peluang hidup. Tidak seperti generasi sebelumnya yang sering diidentikkan dengan ambisi mengejar jabatan tinggi atau status sosial, Gen Z menekankan pengalaman, fleksibilitas, dan kualitas hidup. Dalam konteks karier, hal ini terlihat dari pilihan mereka yang lebih condong pada pekerjaan yang memungkinkan keseimbangan hidup, kesempatan belajar, dan ruang kreativitas.
Fenomena ini sering dijuluki dengan istilah “tidak gila jabatan, hanya gila tenggo”. Maksudnya, Gen Z lebih menghargai waktu, kenyamanan, dan efisiensi hidup daripada sekadar mengejar posisi formal atau gelar prestisius. Mereka ingin bekerja cerdas, bukan bekerja keras demi titel atau status semata.
Baca juga: Hutan Indonesia di Ambang Kehancuran: Tanggung Jawab Gen Z?
Tenggo: Lebih dari Sekadar Santai
Tenggo adalah istilah gaul di dunia kerja yang berarti pulang tepat waktu atau langsung pulang saat jam kerja selesai, berasal dari kata “teng” (waktu pulang) dan “go” (pergi). Istilah “tenggo” bukan berarti bermalas-malasan atau menghindari tanggung jawab. Bagi Gen Z, tenggo adalah cara mengatur hidup dengan cerdas, menyeimbangkan pekerjaan, hobi, dan kehidupan sosial. Mereka memilih pekerjaan yang fleksibel, bisa remote, atau memungkinkan jadwal yang lebih manusiawi.

Bagi Gen Z, tenggo menjadi bagian dari strategi hidup yang cerdas. Mereka menekankan keseimbangan antara pekerjaan, hobi, dan kehidupan sosial, sehingga pekerjaan tidak menjadi satu-satunya fokus hidup. Pilihan mereka sering jatuh pada pekerjaan yang fleksibel, memungkinkan remote working, atau memiliki jadwal yang manusiawi. Dengan demikian, tenggo bukan sekadar “santai” tetapi juga wujud manajemen diri yang efektif dan penerapan prinsip hidup slow living di era modern.
Baca jgua: Pengaruh Fleksibilitas Kerja terhadap Keseimbangan Hidup dan Komitmen Generasi Milenial dan Gen Z
Kualitas Hidup Lebih Penting daripada Jabatan
Dalam survei Deloitte 2025, Gen Z dan milenial Indonesia menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan keseimbangan hidup lebih diutamakan daripada jabatan tinggi. Dari 535 responden Indonesia, 34% Gen Z dan 33% milenial menyebut stabilitas finansial sebagai tujuan utama bekerja, sementara hanya 8% Gen Z dan 5% milenial yang menilai pentingnya pekerjaan berdampak sosial secara langsung. Temuan ini sejalan dengan diskusi media sosial, di mana Gen Z menekankan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari posisi atau titel pekerjaan.
Keseimbangan hidup, kemampuan mengatur waktu, ruang untuk mengembangkan diri, dan menjaga kesehatan mental menjadi prioritas utama. Slow living, self-care, dan work-life balance kini menjadi tren yang mereka prioritaskan, terutama di tengah tekanan pekerjaan yang sering menimbulkan stres; survei juga menunjukkan bahwa 77% Gen Z merasa pekerjaan menjadi sumber kecemasan utama, disebabkan oleh budaya kerja toksik, beban kerja berlebihan, dan jam kerja yang tidak manusiawi.
“Gen Z pilih kerjaan yang bikin happy, bukan yang cuma numpang titel.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun Gen Z terlihat santai, mereka sebenarnya ambisius dalam pencapaian tujuan yang lebih holistik dan personal. Mereka sadar risiko burnout, stres kerja berlebihan, dan dampak kesehatan mental dari budaya kerja lama. Tenggo adalah strategi bertahan dan berkembang, bukan sekadar kemalasan.
Baca juga: Budaya Healing pada Gen Z: Antara Kebutuhan Mental atau Tren Sosial
Media Sosial dan Persepsi Publik
Media sosial turut memperkuat tren “gila tenggo” ini. Konten mengenai slow living, fleksibilitas kerja, dan gaya hidup seimbang banyak diikuti Gen Z. Mereka saling membagikan tips mengatur waktu, memilih pekerjaan yang sesuai passion, dan menjaga kesehatan mental. Dengan demikian, persepsi publik terhadap Gen Z semakin jelas: mereka tidak acuh terhadap karier, tetapi selektif dalam menempatkan prioritas hidup.
Namun, fenomena ini kadang menimbulkan kritik dari generasi sebelumnya, yang menilai jabatan formal dan prestise sebagai simbol kesuksesan. Padahal, Gen Z berargumen bahwa pengalaman hidup, kesempatan belajar, dan kebebasan personal lebih penting untuk jangka panjang. Pandangan Gen Z ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan. Organisasi yang ingin menarik talenta muda harus memahami motivasi mereka: fleksibilitas, kesempatan berkembang, work-life balance, dan ruang untuk kreativitas. Memberikan fasilitas remote working, jadwal fleksibel, dan pengakuan atas kontribusi nyata lebih efektif daripada sekadar menawarkan jabatan tinggi.
Jika tidak menyesuaikan, perusahaan bisa kehilangan talenta muda yang kompeten namun mencari “tenggo” di tempat lain. Di sisi lain, Gen Z yang menemukan keseimbangan di tempat kerja akan lebih produktif, loyal, dan kreatif. Kesimpulannya, Gen Z tidak gila jabatan, melainkan gila tenggo. Sebab, mereka menghargai waktu
Penulis: Elia Ekawati
Mahasiswa Universitas Pamulang
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












