Hoaks yang Harus Dikenali Jenisnya

Opini
Ilustrasi: istockphoto-

Always remember hoaxes and rumors are carried by haters, spread by fools, and accepted by idiots“, yang terjemahannya yaitu, “Ingatlah, hoaks dan desas-desus dibuat oleh orang jahat, disebar oleh orang bodoh, dan dipercaya oleh orang idiot”.

Kutipan Ziad K. Abdelnour tersebut sedikit banyak menggambarkan tentang hoaks. Benarkah pernyataan tersebut? Dan apa benar yang mempercayai berita itu adalah orang idiot? Apa sebetulnya yang dimaksud dengan hoaks?

Hoaks atau ‘fake news’ atau berita bohong adalah istilah yang sering digunakan merujuk pada kasus disinformasi, misinformasi, dan malinformasi. Apa benar yang membuat adalah orang jahat? Apa benar yang menyebarkan adalah orang bodoh?

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Hoaks: Lolongan Maut Perusak Moral Bangsa

Dalam KBBI V daring baru, disinformasi diartikan sebagai penyampaian informasi yang salah, yang dilakukan dengan sengaja untuk membingungkan/ merugikan orang lain.

Contoh kasus paling baru adalah demonstrasi menolak UU Omnibus Law yang terjadi akibat disinformasi, tersebarnya isu cuti, mulai dari cuti nikah, melahirkan, hingga cuti haid bagi pekerja dihapuskan dan tanpa kompensasi, merupakan disinformasi karena sebenarnya tentang hal itu masih ada dan dijamin pemerintah.

Kasus hoaks berikut adalah yang berupa misinformasi. Hasil survei CIGI-Ipsos 2016 menunjukkan sebanyak 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi yang ada di dunia maya tanpa pegecekan ulang.

Jika kita kurang berhati-hati dalam menyaring sebuah informasi, maka kita akan mudah termakan tipuan hoaks tersebut dan bahkan kita juga terpengaruh untuk ikut-ikutan dalam menyebarkan berita hoaks. Hal ini yang membuat maraknya kejadian misinformasi di masyarakat.

Menurut UNESCO, misinformasi dikategorikan sebagai salah interpretasi informasi yang diterima. Singkatnya, misinformasi terjadi ketika seseorang hanya semata-mata ingin menyebarkan informasi, tanpa sadar ternyata apa yang disebarkannya adalah berita bohong alias hoaks.

Malinformasi adalah informasi yang memang memiliki cukup unsur kebenaran, baik berdasarkan penggalan atau keseluruhan fakta objektif. Namun penyajiannya dikemas sedemikian rupa untuk melakukan tindakan yang merugikan bagi pihak lain atau kondisi tertentu, ketimbang berorientasi pada kepentingan publik.

Saat kita membuka “pintu” ke dunia maya, satu hal yang harus selalu diingat: Tidak semua yang Anda baca di internet itu benar. Alasannya sederhana: banyak sekali penipuan karena begitu mudahnya berbagi informasi di internet.

Dalam hal hoaks online, sebagian besar berita palsu ditujukan untuk menyebarkan kepanikan dan ketakutan massal. Metode penyebaran penipuan internet pertama yang diketahui adalah melalui email, yang biasanya berisi peringatan klaim palsu. Sebuah contoh hoaks urban legend:

Dari gambar tersebut banyak orang suka sekali membuat hoaks tentang urban legend seram soal tempat, benda, atau kegiatan tertentu. Untuk berita hoaks yang disampaikan persoalan pesan hoaks yang memperintahkan untuk tidak menuju tempat tersebut, membeli rumah tersebut, ataupun melakukan hal yang berkaitan tentang cerita rumah tersebut.

Baca Juga: Hoaks Politik Pemecah Belah Bangsa

Hoaks ini pun bisa mengubah sudut pandang atau pikiran yang berbentuk negatif pada objek tersebut, sehingga tempat tersebut menjadi sepi dengan cerita hoaks yang beredar. Begitu banyaknya berita hoaks yang mulai bertebaran di mana-mana, masyarakat pun begitu gampang dipengaruhi tentang berita tersebut.

Hal yang dianggap tabu, masyarakat pun berbondong-bondong untuk mempercayai hal tersebut, karena berita hoaks yang ditebarnya sangat meyakinkan dengan tulisan ataupun gambar yang mereka cantumkan di blog, ataupun pesan singkat yang melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan lain-lain.

Pada halnya berita sangat bisa merubah kepercayaan orang lain yang di mana, jikalau orang yang membacanya hanya sekadar membaca tetapi tidak mencari tahu kebenarannya maka berita hoaks itu pun berhasil untuk membuat dapak negatif bagi pembacanya.

Tidak banyaknya orang yang tidak termakan oleh berita hoaks tersebut, dikarenakan mereka tidak mudah percaya dan sehabis membaca berita mereka mencari lebih mendalam lagi tentang berita tersebut.

Penulis: 

Sanu Alam Arrasyid
Mahasiswa Mass Communication Binus University

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

References

Biantoro, B. (2016, Agustus 16). Tentang Hoax. 6 Jenis hoax internet yang wajib diwaspadai netizen!

https://www.merdeka.com/teknologi/6-jenis-hoax-internet-yang-wajib-diwaspadai-netizen.html

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI