Homeostasis Suhu Tubuh pada Ikan Tembakul (Mudskipper) di Darat dan Air

Ikan tembakul (mudskipper) merupakan salah satu jenis fauna air yang memiliki potensi besar sebagai sumber pangan. Spesies ini biasanya hidup di kawasan hutan mangrove dan dikenal karena kemampuannya yang unik untuk bertahan hidup di dua dunia yaitu air dan darat.

Kemampuannya berjalan dan bertahan lebih lama di permukaan lumpur serta daratan membuatnya memiliki kemiripan dengan hewan amfibi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Morfologi dan Ciri Unik

Ikan tembakul termasuk dalam famili Gobiidae dan lazim ditemukan di habitat berlumpur, khususnya di wilayah pesisir.

Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah matanya yang menonjol, menyerupai katak, sehingga mudah dikenali.

Di berbagai daerah, ikan ini memiliki nama lokal yang beragam, seperti gelodok, belodok, gelodok, tempakul, timpul, belaca, hingga gabus laut. Namun, dalam tulisan ini, semuanya diseragamkan sebagai “ikan tembakul”.

Spesies ini hanya ditemukan di sekitar akar-akar mangrove dan memiliki kemampuan untuk berjalan, melompat, bahkan merangkak di atas lumpur menggunakan sirip dada yang fleksibel menyerupai lengan.

Gerakannya yang lincah di darat menjadikannya dikenal luas sebagai mudskipper. Ia lebih sering berada di luar air karena memiliki kantong penyimpanan air di insangnya untuk menjaga kelembapan, memungkinkan ikan ini bernapas ketika sedang berada di daratan.

Baca juga: Tektonik Lempeng Mampu Memprediksi Potensi Terjadinya Bencana Geologi

Jenis dan Morfologi

Dua spesies utama yang umum ditemukan dari genus Boleophthalmus adalah Boleophthalmus boddarti dan Periophthalmus schlosseri, yang memiliki perbedaan morfologis sebagai berikut:

1. B. boddarti memiliki tubuh bercorak bintik-bintik biru dengan latar belakang hitam. Sirip punggung pertama dihiasi lebih banyak bintik biru terang dibanding sirip kedua.

Garis diagonal hitam membentang di sisi tubuh, dengan bagian bawah tubuh berwarna coklat terang dan perut berwarna putih. Kepala juga dipenuhi bintik kebiruan.

2. P. schlosseri memiliki tubuh berwarna coklat muda dengan garis gelap dari atas mata hingga pangkal ekor.Tubuhnya dihiasi bintik hijau keperakan dan berukuran lebih besar serta berat dibanding B. boddarti.

Baca juga: Dampak Pengolahan Limbah dan Air Terhadap Keberlangsungan Hidup Manusia

Toleransi Terhadap Lingkungan

Ikan tembakul mampu hidup dalam rentang kondisi lingkungan yang cukup luas.

Suhu ideal habitatnya berkisar antara 25–29 °C, dengan pH substrat antara 5,8 hingga 8,2. Dalam kondisi tertentu, ikan ini dapat bertahan hidup pada suhu sekitar 30,5 °C, salinitas 17 ppt, tingkat kecerahan 127,5 cm, pH 8,35, dan kecepatan arus air sekitar 0,04 m/s.

Habitat dan Persebaran

Habitat alami ikan tembakul meliputi kawasan estuaria, laut dangkal, serta zona pasang surut yang masuk ke wilayah subtidal.

Persebarannya bersifat bervariasi, di mana beberapa spesies hanya dijumpai di wilayah tertentu, sedangkan lainnya memiliki jangkauan yang luas.

Menariknya, ada kecenderungan bahwa ikan tembakul yang dikenal sebagai “belacak” menggali lubang dengan kedalaman sekitar 12–14 cm, sementara varian yang disebut “belodok” membuat lubang yang lebih dalam, sekitar 18–20 cm.

Taksonomi Ikan Tembakul

Secara taksonomi, ikan tembakul diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Domain: Eukaryota

2. Kingdom: Animalia

3. Phylum: Chordata

4. Subphylum: Vertebrata

5. Superclass: Gnathostomata

6. Grade: Teleostomi

7. Class: Actinopterygii

8. Subclass: Neopterygii

9. Division: Teleostei

10. Subdivision: Teleostei

11. Superorder: Cyclosquamata

12. Order: Perciformes

13. Family: Gobiidae

14. Subfamily: Oxudercinae

Baca juga: Pinisi Kebanggaan yang Berlayar, Alam yang Tercemar

Peranan Ekologis

Secara ekologis, ikan tembakul memiliki fungsi penting sebagai indikator kesehatan lingkungan perairan pesisir.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa spesies seperti Boleophthalmus dussumieri dapat digunakan untuk memantau keberadaan zat pencemar seperti senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) maupun PCB.

Kehadirannya di perairan seperti pantai Kuwait dan Laut Ariake, Jepang, menjadi bukti bahwa ikan ini dapat digunakan sebagai biomarker dalam pemantauan kualitas air di wilayah pesisir.

 

Penulis: Nazwa Azaliya Melas

Mahasiswa JurusanBioteknologi (Biologi), Universitas Al-Azhar Indonesia

Daftar Pustaka

Ahmad, R., & Salma, N. (2024). Studi biodiversitas ikan tembakul di kawasan mangrove barat Aceh. Journal of Aceh Aquatic Sciences. 8(2): 45–53. https://doi.org/10.35308/jaas.v8i2.1234.

Lestari, D., Hartanti, L., Sofiana, M. S. J., Yuliono, A., & Kurniadi, B. (2022). Proximate and essential macrominerals analysis of tembakul (mudskipper) fish flour as a food source for stunting prevention. Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education. 10(1): 45-50. https://doi.org/10.19184/bst.v10i1.31030.

Panjaitan, Dony I., et al. Kebiasaan Makanan Ikan Gelodok (Mudskipper) di Perairan Pantai Dumai.” Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 1(2): 1-11.

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

 

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses