Jalan Rusak Mematikan: Ketika Infrastruktur Mati Rasa

Jalan Rusak
Ilustrasi Jalan Rusak (Sumber: MMI)

Peristiwa ini terjadi karena seorang siswa berisinisial CRA terjatuh dari motor dan membuat ia berlindas oleh sebuah truk dikarenakan jalan yang berlubang. Peristiwa ini tejadi di Pasar Kemis, Kabupaten Tanggerang yang akhirnya menjadi sorotan publik. Peristiwa ini disebarkan oleh Detik.com membuat luka lama kembalik terbuka tentang persoalan infrastruktur yang tidak kunjung dituntaskan.

Kematian seorang pelajar bukan sekadar peristiwa lalu lintas biasa. Ia adalah tragedi sosial yang memunculkan pertanyaan serius tentang tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan keselamatan warganya. Dalam konteks komunikasi publik, peristiwa ini tidak hanya menjadi persoalan teknis infrastruktur, tetapi juga krisis citra dan legitimasi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jalan adalah fasilitas dasar yang menyangkut keselamatan warga. Ketika jalan rusak menyebabkan korban jiwa, maka publik secara otomatis mencari pihak yang bertanggung jawab. Dalam sistem pemerintahan, pemeliharaan jalan merupakan bagian dari kewenangan administratif. Karena itu, kecelakaan akibat jalan berlubang tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan tentang pengawasan dan perawatan rutin.

Baca juga: Keterbatasan Infrastruktur Pejalan Kaki Menuju Sekolah di Kabupaten Bandung dan Peran Arsitektur

Dalam masyarakat modern, kepercayaan publik menjadi aset penting bagi pemerintah. Ketika terjadi insiden fatal, publik tidak hanya menuntut belasungkawa, tetapi juga akuntabilitas. Jika respons pemerintah tidak memadai, krisis kepercayaan dapat meluas. Di sinilah peran komunikasi krisis menjadi sangat penting.

Teori Apologia yang dikembangkan oleh Ware & Linkugel menjelaskan bagaimana individu atau institusi merespons tuduhan yang mengancam reputasi mereka. Dalam konteks kecelakaan ini, pemerintah daerah dapat dianggap berada dalam posisi “tertuduh” secara sosial karena dianggap lalai menjaga kualitas jalan.

1. Penyangkalan

Pemerintah bisa saja menyatakan bahwa kecelakaan murni akibat kelalaian pengendara, bukan kondisi jalan. Strategi ini berusaha memutus hubungan antara tuduhan dan pihak yang dituduh. Namun, dalam kasus di mana kondisi jalan memang rusak dan telah lama dikeluhkan, penyangkalan berisiko memperburuk citra.

2. Pembedaan

Strategi ini mencoba memisahkan tingkat kesalahan. Misalnya, pemerintah menyatakan bahwa jalan memang rusak tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab kecelakaan.

3. Penguatan Citra Posistif

Pemerintah dapat menonjolkan program pembangunan atau perbaikan jalan yang telah dilakukan sebelumnya untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap keselamatan publik.

4. Pengalihan Konteks

Peristiwa dapat diposisikan sebagai musibah yang kompleks, bukan semata-mata kesalahan administratif. Masalahnya, strategi apologia yang terlalu defensif dapat dipersepsikan sebagai upaya melindungi citra tanpa menyentuh akar persoalan. Publik kini semakin kritis dan memiliki akses luas terhadap informasi. Respons normatif atau formalitas belaka tidak lagi cukup.

Berbeda dengan apologia yang cenderung defensif, Teori Restorasi Citra dari William L. Benoit menekankan pentingnya strategi pemulihan reputasi melalui komunikasi yang tepat dan tindakan konkret.

1. Denial

Menolak tuduhan secara langsung. Namun, dalam kasus yang bukti faktualnya kuat, strategi ini kurang efektif.

2. Evading Responsibility

Menghindari tanggung jawab dengan alasan kurangnya kontrol atau faktor eksternal.

3. Reducing Offensiveness

Mengurangi persepsi negatif dengan menunjukkan kontribusi positif sebelumnya.

4. Corrective Action (Tindakan Perbaikan)

Ini adalah strategi paling konstruktif. Pemerintah menunjukkan komitmen untuk memperbaiki masalah agar tidak terulang.

5. Mortification (Permintaan Maaf Terbuka)

Mengakui kesalahan dan meminta maaf secara tulus kepada publik.

Dalam kasus kecelakaan di Pasar Kemis, strategi yang paling tepat adalah kombinasi antara mortification dan corrective action. Permintaan maaf tanpa tindakan hanyalah retorika. Sebaliknya, tindakan tanpa komunikasi yang empatik dapat dianggap dingin dan tidak manusiawi.

Pemberitaan media online seperti Detik.com mempercepat penyebaran informasi dan membentuk opini publik secara masif. Di era media sosial, satu peristiwa dapat menjadi viral dalam hitungan jam. Jika pemerintah lambat merespons, ruang kosong informasi akan diisi oleh spekulasi dan kemarahan publik. Karena itu, komunikasi krisis harus cepat, transparan, dan empatik.

Krisis bukan hanya tentang peristiwa, tetapi tentang bagaimana peristiwa itu dikelola secara komunikasi. Tragedi ini mengingatkan kita bahwa infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud tanggung jawab negara terhadap keselamatan warganya.

Jalan berlubang yang dibiarkan berlarut-larut menunjukkan lemahnya sistem pengawasan. Jika pemerintah ingin menjaga legitimasi, maka perbaikan harus bersifat sistemik, bukan reaktif sesaat setelah viral.

Kematian seorang pelajar akibat jalan berlubang adalah tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Ia menjadi cermin bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek besar, tetapi juga tentang pemeliharaan yang konsisten.

Dalam perspektif Teori Apologia dan Restorasi Citra, peristiwa ini adalah ujian nyata bagi pemerintah daerah: apakah memilih defensif atau memilih bertanggung jawab secara terbuka.

Karena pada akhirnya, citra pemerintah tidak dibangun dari kata-kata, tetapi dari keberanian mengakui kekurangan dan kesungguhan memperbaikinya. Semoga tragedi ini menjadi titik balik perbaikan, bukan sekadar berita yang berlalu.

 


Penulis: Ivana Layla Zelfina Nur Soemantri
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional


Dosen Pengampu: Yayu Sriwartini, S.Sos., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses