Kecemasan Remaja dan Mahasiswa pada Fase Peralihan ke Dewasa

Kecemasan Remaja
Ilustrasi Rasa Cemas (Sumber: MMI)

Masa remaja terutama pada masa awal perkuliahan merupakan fase kehidupan yang penuh perubahan, kecemasan merupakan salah satu kondisi yang banyak di alami oleh remaja dan Mahasiswa.

Banyak orang yang menganggap kecemasan sebagai hal normal yang akan hilang dengan sendirinya, sehingga hal tersebut sering di abaikan. Padahal kecemasan yang di alami secara terus menerus bukanlah hal yang wajar, melainkan tanda bahwa remaja sedang berada  dalam tekanan emosional  yang berat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik dampaknya dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, terutama dalam proses belajar, interaksi sosial, dan keseimbangan emosional.

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri yang penuh dengan tuntutan. Remaja atau mahasiswa dituntut untuk berprestasi secara akademik, berperilaku sesuai norma sosial, serta harus menentukan arah masa depan mereka, mulai dari memilih pendidikan, merencanakan karier, hingga membangun relasi sosial yang sehat.

Di satu sisi, tuntutan tersebut dianggap sebagai proses pendewasaan, namun di sisi lain dapat menjadi sumber tekanan yang besar. Dalam situasi ini, penulis melihat banyak remaja yang sebenarnya belum siap secara mental dalam menghadapi proses peralihan tersebut. Tekanan tersebut perlahan menumpuk dan berubah menjadi kecemasan yang sulit untuk dikendalikan.

Tekanan akademik menjadi faktor yang sangat dominan dalam memicu kecemasan pada mahasiswa, terutama pada mahasiswa yang baru memulai perkuliahan. Peralihan dari dunia sekolah ke dunia perkuliahan membawa perubahan sistem belajar yang signifikan.

Remaja di tuntut untuk berprestasi di sekolah agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sementara mahasiswa di tuntut untuk menyelesaikan studi tepat waktu, mempertahankan nilai, dan mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Akibatnya, kecemasan menjadi bagian dari kehidupan sehari hari, terutama saat menghadapi ujian, tugas, atau penilaian.

Lingkungan sosial dan keluarga turut berperan dalam memperkuat atau meredakan kecemasan. Kurangnya komunikasi yang terbuka membuat remaja dan mahasiswa enggan mengungkapkan perasaan mereka.

Banyak dari mereka memilih memendam perasaan atau kecemasan mereka karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan. Kebiasaan memendam perasaan ini sangat berbahaya, karena kecemasan yang tidak tersalurkan dapat berdampak pada kesehatan mental jangka panjang, seperti stres berat dan gangguan emosional.

Selain itu, pengaruh media sosial juga berpengaruh besar dalam membentuk rasa cemas pada remaja dan mahasiswa. Media sosial menampilkan berbagai pencapaian, gaya hidup, dan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Membandingkan dirinya dengan orang lain, baik dari segi prestasi, penampilan, maupun kehidupan sosial.

Kehidupan orang lain yang tampak sempurna sering kali menjadi standar yang tidak realistis bagi diri sendiri. Melihat teman sebaya di media sosial yang dianggap lebih sukses, lebih percaya diri, atau lebih mapan dapat memicu perasaan tidak cukup dan rendah diri.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial membuat individu merasa takut akan tertinggal dan tidak cukup baik, dan perbandingan ini juga dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri dan rasa takut tidak di terima atau dinilai negatif  oleh lingkungan sekitar.

Pada fase peralihan ke dewasa, ketika identitas diri belum sepenuhnya terbentuk, perbandingan ini dapat memperparah rasa cemas dan rendah diri.

Hal yang cukup memperihatinkan adalah masih adanya stigma terhadap masalah kesehatan mental. Kecemasan sering dianggap sebagai kurangnya iman atau sikap yang terlalu berlebihan.

Orang awam sering berfikir bahwa pergi ke psikolog hanya untuk orang yang memiliki gangguan jiwa, padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak orang yang sebenarnya hanya ingin sekadar curhat untuk meluapkan apa yang selama ini mereka pendam.

Pandangan ini membuat remaja dan mahasiswa ragu untuk mencari bantuan profesional. Padahal, mengakui kecemasan dan mencari pertolongan merupakan langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan mental. Stigma inilah yang membuat banyak kasus kecemasan tidak tertangani dengan baik.

Upaya mengatasi kecemasan pada remaja dan mahasiswa harus di mulai dari perubahan cara pandang masyarakat. Institusi pendidikan perlu menciptakan lingkungan yang lebih ramah terhadap kesehatan mental, bukan hanya fokus pada prestasi akademik.

Layanan konseling harus mudah diakses dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Selain itu, edukasi tentang kesehatan mental perlu diberikan agar individu mampu mengenali gejala kecemasan sejak dini. Peran keluarga juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Dukungan emosional, empati, dan komunikasi yang terbuka dapat membantu mengurangi beban psikologis yang dirasakan.

Baca juga: Gaslighting: Kekerasan Emosional yang Tidak Selalu Terlihat

Namun, penting untuk dipahami bahwa kecemasan bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Dalam hal tertentu, kecemasan dapat menjadi sinyal bahwa seseorang sedang menghadapi tantangan dan perlu beradaptasi. Masalah muncul ketika kecemasan menjadi berlebihan dan tidak terkendali.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan mengenali, menerima, dan mengelola kecemasan secara sehat. Kesadaran akan kesehatan mental harus menjadi bagian dari proses pendewasaan, bukan dianggap sebagai tanda kelemahan.

Sebagai kesimpulan, kecemasan pada remaja dan mahasiswa dalam fase peralihan ke dewasa merupakan masalah nyata yang tidak boleh diabaikan. Tekanan akademik, ekspetasi sosial, pengaruh media sosial, serta kurangnya dukungan emosional menjadi faktor utama meningkatnya kecemasan.

Dengan kepedulian bersama dari keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat, remaja serta mahasiswa dapat melewati fase peralihan ini dengan dengan kondisi mental yang lebih sehat dan kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup dengan lebih percaya diri.

 


Penulis: Refa Lina Maura (2505011048)
Mahasiswa S1 Manajemen, Universitas Dharmas Indonesia


Dosen Pengampu: Dr. Amar Salahuddin, M.Pd


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses