Peran Pengalaman Emosional dalam Membentuk Perilaku Silent Treatment

Silent Treatment
Ilustrasi Silent Treatment (Sumber: MMI)

Abstrak

Silent treatment merupakan sebuah perilaku untuk menarik diri dengan cara menahan komunikasi saat terjadi konflik interpersonal. Meskipun sering dianggap sebagai bentuk penghindaran yang sepele, perilaku ini akan memiliki dampak yang serius terhadap kesehatan mental.

Pengalaman emosional masa lalu, khususnya pengalaman traumatis pada masa kecil, seperti pengabaian emosional, penolakan, serta kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan perasaan sangat berperan dalam membentuk regulasi emosi yang tidak sehat, seperti perilaku silent treatment.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika perasaan ini terus dibiarkan, dalam jangka waktu panjang akan menurunkan kualitas hubungan interpersonal serta memicu perasaan kecemasan, dan penurunan harga diri. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dampak silent treatment serta upaya pencegahan melalui komunikasi yang sehat, dan pengelolaan emosi yang lebih baik.

Kata kunci: Silent Treatment, Pengalaman Emosional, Kesehatan Mental, Komunikasi Interpersonal

 

Latar Belakang

Perilaku diam atau silent treatment merupakan sebuah tindakan pasif yang sengaja untuk menahan komunikasi atau menunjukan adanya penolakan berkomunikasi dengan lawan bicaranya saat terjadi sebuah konflik, biasanya sering dikaitkan dengan hubungan pasangan, keluarga, maupun pertemanan.

Meskipun terlihat sebagai bentuk penghindaran, sebenarnya perilaku ini sering kali mencerminkan perasaan yang lebih intens, seperti kekecewaan, amarah, atau perasaan luka yang tidak bisa diungkapkan. Walau terlihat sepele, namun perilaku silent treatment memiliki dampak yang besar secara emosinal dan juga meningkatkan resiko pada masalah psikologis.

Dalam jangka yang panjang silent treatment juga akan mengakibatkan gangguan kesehatan mental seperti perasaan terasingi, cemas, hingga depresi. Beberapa studi yang ada di Indonesia juga telah mengangkat fenomena ini sebagai bentuk ekspresi emosi yang berpotensi menjadi tekanan mental jika terjadi secara berulang-ulang.

Sudah banyak penelitian yang membahas bahwa pola respon interpersonal seseorang terbentuk dari attachment experience atau pengalaman hidup seseorang yang dimulai dari masa kecil yang termasuk ke dalam kategori adverse childhood experiences, seperti pengalaman traumatis tentang pengabaian, kekerasan emosional, serta pelecehan.

Pengalaman traumatis masa kecil memiliki pengaruh yang penting terhadap regulasi emosi. Individu yang memiliki riwayat pengalaman traumatis lebih susah mengelola emosi dan memilih untuk silent treatment dalam menghadapi sebuah konflik (Wahdah & Akbar, 2025).

Dalam beberapa penelitian juga menjelaskan bahwa perilaku silent treatment bisa muncul dalam berbagai umur, mulai dari remaja hingga dewasa dengan latar belakang hubungan, rumah tangga, atau bahkan dalam sebuah pertemanan, serta sangat berkaitan dengan masalah kecemasan dan juga gangguan komunikasi interpersonal (Putri & Ariana, 2022).

Pada saat perilaku silent treatment berjalan, korban akan cenderung merasa terabaikan, terpuruk, serta membuat korban bertanya-tanya mengenai kesalahan apa yang ia perbuat, hal ini dapat menyakiti atau melukai perasaan orang lain dan akan sangat berdampak pada emosional korban.

Bagi pelaku, perilaku ini dapat menimbulkan rasa kesulitan dalam mengungkapkan emosinya serta perasaannya, sehinga pelaku dapat mengalami kelelahan dalam ego karena tidak mampu merespon dan menyalurkan perasaannya secara sehat.

Mengapa permasalahan tentang silent treatment penting untuk dibahas, karena perilaku ini juga bisa menjadi bentuk respon emosional pasif dalam ekspresi marah atau bahkan trauma. Amarah merupakan salah satu emosi yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan silent treatment.

Ketika individu merasa tersakiti, dihianati, atau bahkan tidak dihargai, mereka mungkin sulit untuk mengungkapkan perasaan mereka secara langsung. Bagi individu yang memiliki pengalaman emosional traumatis di masa lalu seperti pengabaian, diabaikan, atau bahkan kekerasan dalam emosional, metode silent treatment dapat menjadi cara yang paling aman untuk menghindari rasa sakit atau bahkan menghindari konflik yang ada.

Jika pola ini terus di pertahankan dalam jangka waktu yang lama, justru akan menyebabkan setres emosional yang serius, memperdalam luka emosional, serta memicu terbentuknya respon emosional yang tidak sehat.

Hingga saat ini masih banyak orang tidak tau mengenai perilaku silent treatment yang dapat menjadi sumber masalah psikologis. Oleh karena itu, perlunya edukasi serta pemahaman mengenai perilaku silent treatment  agar bisa dikenali dan diatasi sejak dini.

Artikel ini mengangkat bagaimana pengalaman emosional di masa lalu dapat membentuk cara respon seseorang terhadap konflik yang dapat mendorong kecendrungan dalam melakukan silent treatment.

Selain itu, pembahasan ini juga mencangkup apa saja dampak yang terjadi pada kesehatan mental yang di akibatkan oleh perilaku silent treatment, serta bagaimana pencegahan yang efektif agar dapat mengurangi perilaku silent treatment.

Melalui permasalahan tersebut, artikel ini bertujuan untuk dapat memberikan gambaran mengenai dampak dari perilaku silent treatment terhadap kesehatan mental, menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan perilaku silent treatment sehingga individu dapat belajar dan membangun pola komunikasi yang sehat dalam menghadapi permasalahan emosional.

 

Pembahasan

Pengalaman emosional seseorang dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak hingga dewasa yang memainkan peranan sangat penting dalam membentuk cara seseorang merespon sebuah konflik atau situasi.

Ketika sejak awal individu telah tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang aman untuk dapat mengekspresikan sebuah emosi, seperti sering dimarahi ketika melakukan suatu hal, diabaikan saat sedang sedih, atau bahkan diabaikan saat mengungkapkan perasaannya, maka hal tersebut secara tidak langsung dapat membentuk keyakinan bahwa diam dan menarik diri adalah cara yang paling aman untuk melindungi diri dalam menghadapi tekanan emosional.

Seseorang yang berulang kali dihadapi oleh pola tersebut maka mereka akan merasa tidak dihargai, tidak di dengar, tidak di perdulikan, atau bahkan merasa tidak layak untuk berbicara. Hal inilah yang menyebabkan individu memilih untuk diam dan tidak menyampaikan isi fikirannya, perasannya, demi melindungi diri dari rasa tidak nyaman serta menarik diri dari adanya sebuah interaksi, hal ini dikenal dengan Silent Treatment.

Silent treatment merupakan sebuah istilah yang menjelaskan sebuah perilaku penolakan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menarik diri dari lingkungan secara verbal. Menurut (Putri & Ariana, 2022) pola komunikasi ini termasuk ke dalam jenis komunikasi pasif-agresif, yang di mana seseorang memilih untuk mengabaikan atau bahkan tidak merespon individu lainnya untuk menghindari sebuah konflik.

Melalui bahasa tubuh seperti sebuah tindakan, ekspresi wajah, atau sebuah gerakan tertentu, perilaku silent treatment dianggap sebagai sebuah komunikasi non verbal (Amalia et al., 2022).  Melalui kominikasi non verbal, perilaku ini berfungsi sebagai tempat untuk menyampaikan suatu pesan emosional yang tidak dapat diungkapkan secara verbal.

Baca juga: Pasanganmu Punya Kebiasaan Silent Treatment? Yuk Kenali Dampak dan Cara Mengatasinya!

Meskipun memiliki kesan yang positif sebagai strategi dalam pengendalian diri, tetapi silent treatment  umumnya dipahami sebagai bentuk komunikasi yang negatif. Dalam sebuah konflik, respon diam ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan, terutama jika pola ini terus menerus diulang.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Sulastri et al., 2024) menyatakan bahwa yang membuat seseorang melakukan perilaku silent tretament sebagai cara untuk menangani masalah emosionalnya, berawal dari kesulitan dalam mengendalikan emosinya, emosi yang terus menerus menumpuk akan memberikan tekanan, sehingga pada akhirnya dapat muncul perilaku yang sulit untuk dikendalikan.

Jika hal tersebut terus dibiarkan bisa membawa dampak yang serius dalam jangka waktu yang panjang. Meskipun efek emosionalnya tidak terlalu terlihat di detik itu juga, akan tetapi hal tersebut bisa memperberat kondisi psikologis seseorang.

Perilaku silent treatment memiliki dampak yang dapat merusak kebutuhan dasar individu, diantaranya seperti rasa keterikatan (belonging), harga diri (self-esteem), kontrol (control), serta rasa keberadaan (meaningfull existence) (Williams & Nida, 2022).

Pertama, perilaku diam memiliki potensi dalam kebutuhan keterikatan hubungan individu. Ketika seseorang merasa diabaikan atau bahkan tersingkirkan, rasa keterikatannya pada sosial dapat melemah, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi psikologisnya. Karena pada dasarnya manusia memerlukan kehadiran serta hubungan dengan individu lain yang dapat membuatnya merasa diterima.

Selanjutnya, ketika seseorang menjadi target dari perilaku silent treatment, harga dirinya dapat menurun. Merasa bahwa pendapat dan juga keberadaannya tidak di hargai, sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakpastian yang berpotensi dapat merusak keyakinan diri serta citra diri yang positif.

Dalam kebutuhan kontrol, perilaku diam yang dilakukan oleh orang lain dapat membuat seseorang merasa tidak mampu mengendalikan situasi atau hubungannya dengan orang lain. Karena kurangnya komunikasi yang aktif dapat membuat seseorang merasa interaksinya berada di luar kemampuannya untuk dapat diatur. Ketidakpastian yang muncul dari perasaan tersebut berpotensi menurunkan kesejahteraan emosionalnya.

Terakhir, perilaku silent treatment berpotensi dapat mengganggu kebutuhan seseorang untuk merasa berarti di lingkungan sekitarnya. Ketika komunikasi atau interaksi tidak terjadi, individu mulai meragukan apakah kehadirannya memiliki arti atau pengaruh dalam hubungan maupun lingkungan, sehingga dapat menimbulkan perasaan diabaikan.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa silent treatment tidak hanya soal komunikasi antarindividu, tetapi juga dapat mempengaruhi aspek psikologis. Perilaku ini dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, kebingungan, bahkan dapat mengganggu kesejahteraan emosional yang mengancam kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Melihat fenomena tersebut, masih banyak dari kita belum memahami mengenai perilaku silent treatment dan dampaknya pada kesehatan psikologis. Perilaku diam yang dianggap sepele ternyata dapat membuat seseorang merasa tidak berarti, tidak aman, bahkan dapat merusak hubungan interpersonal.

Karena itu, pentingnya bagi kita untuk dapat mulai memberikan edukasi mengenai bahaya silent treatment, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Kita juga perlu mempelajari bagaimana langkah-langkah yang dapat meminimalkan perilaku ini, seperti yang pertama menerima dan juga menyadari bahwa silent treatment sedang terjadi.

Berikan mereka waktu dan ruang untuk menenangkan perasaan mereka terlebih dahulu. Setelah kondisi lebih stabil, ajak berbicara dengan tenang menggunakan cara komunikasi yang lebih efektif. Kedua, penting untuk mengklarifikasi kondisi ketika kita menjadi sasaran silent treatment. Jangan ragu untuk menanyakan apa yang mungkin menjadi kesalahan kita dan apa yang perlu diperbaiki.

Terakhir, coba untuk hindari meyalahkan satu sama lain, lebih baik mengakui bahwa ada kesalahpahaman yang perlu diperbaiki bersama daripada harus berdebat. Mau memaklumi kesalahan orang lain dan kalau kita salah, meminta maaf dengan tulus serta tetap membuka komunikasi agar dapat membantu meredakan masalah (Amalia et al., 2022).

Oleh karena itu, masyarakat juga perlu dibekali mengenai emotional literacy atau mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, keterbukaan, serta empati dalam berkomunikasi. Memberikan sebuah ruang yang aman seperti safe space, layanan konseling, atau terapi kelompok yang dapat menjadi sarana efektif untuk dapat mengekspresikan emosi sekaligus melatih keterampilan dalam penyelesaian konflik secara positif.

Melalui pendekatan tersebut, individu akan merasa lebih leluasa berbicara dengan jujur tanpa harus khawatir dalam penilaian yang negatif.

Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti voice note atau bahkan media sosial, dapat menjadi alternatif komunikasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan seseorang. Kehadiran sebuah komunikasi, meskipun tidak secara langsung, akan jauh lebih bermanfaat daripada tidak berbicara sama sekali. Karena, perilaku diam dapat meningkatkan jarak emosional antar individu (Suparna & Wijaya, 2025).

Dengan demikian, upaya untuk mengurangi perilaku silent treatment perlu dimulai dari meningkatkan kesadaran diri dengan memperkuat keterampilan komunikasi. Sehingga, individu dapat membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat, lebih berani dalam menghadapi sebuah konflik, serta mampu saling menghargai satu sama lain. Edukasi sejak dini juga sangat penting agar perilaku diam tidak lagi digunakan sebagai bentuk hukuman dalam sebuah hubungan.

 

Penutup

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa silent teratment bukan sekedar tindakan diam, melainkan sebuah respons emosional pasif yang terbentuk dari pengalaman emosional di masa lalu, seperti pengabaian, penolakan, atau bahkan trauma masa kecil.

Pola tersebut terbentuk agar menjadi mekanisme perlindungan diri ketika individu tidak memiliki ruang aman untuk dapat mengekspresikan emosi dirinya. Namun, meskipun terlihat sepele, perilaku silent treatment dapat memberikan dampak yang besar terhadap kesejahteraan psikologisnya, baik bagi pelaku maupun bagi korban.

Perilaku ini dapat berpotensi merusak kebutuhan dasar manusia seperti rasa keterikatan, harga diri, kontrol diri, bahkan rasa keberadaannya dalam suatu hubungan. Jika terjadi secara berulang, silent treatment dapat memperburuk kondisi emosional seseorang hingga pada tahap depresi.

Oleh karena itu, memahami bagaimana pengalaman emosional dapat mempengaruhi perilaku diam serta mengenali dampak yang akan terjadi menjadi sangat penting bagi individu dalam membangun hubungan yang lebih sehat dan responsiv dalam menghadapi sebuah konflik.

 


Penulis: Hana Fitria Khairun Nisa
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Amalia, I., Asbari, M., Bagus, D., Winata, P., & Rohanah, S. (2022). Jurnal Pendidikan Transformatif ( Jupetra ) Bahaya Silent Treatment Jurnal Pendidikan Transformatif ( Jupetra ). 01(01), 1–6.

Putri, C. N., & Ariana, A. D. (2022). Kecemasan Diri Dewasa Awal yang Menjalani Hubungan Romantis saat Mendapat Perilaku Silent Treatment. Buletin Riset Psikologi Dan Kesehatan Mental (BRPKM), 2(1), 163–171. https://doi.org/10.20473/brpkm.v2i1.31926

Sulastri, Nyanyu Hanun Billah, Mayang Sari, Nur Hasanah, & Shofia Nurohmah. (2024). Efektivitas Terapi Zikir Dalam Mengontrol Emosi. Proceeding Conference on Psychology and Behavioral Sciences, 3(1), 554–559. https://doi.org/10.61994/cpbs.v3i.183

Suparna, P., & Wijaya, E. (2025). Literasi Emosional dan Pola Silent Treatment dalam pada Generasi Z Kota Denpasar. Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia, 10(10), 8935–8946. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v10i10.62287

Wahdah, N. S., & Akbar, R. F. (2025). Pengaruh Adverse Childhood Experience dan Perceived Social Support terhadap Regulasi Emosi Remaja Pelaku Self injury di Sekolah Menengah Atas X di Kota Bandung. Jurnal Psikologi Insight.

Williams, K. D., & Nida, S. A. (2022). Ostracism and social exclusion: Implications for separation, social isolation, and loss. Current Opinion in Psychology, 47, 101353. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101353

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses