Zaman dahulu, manusia selalu berusaha untuk memahami segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Ketika ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang ini, muncul berbagai cerita yang dapat menjelaskan hal-hal rumit yang sulit dipahami.
Kebanyakan cerita yang ada berkaitan dengan sesuatu hal yang bersifat supranatural (segala sesuatu yang berada di luar hukum alam dan tidak dapat dijelaskan secara ilmiah).
Cerita-cerita inilah yang kemudian dikenal sebagai mitos.
Mitos secara sederhana didefinisikan sebagai cerita tradisional yang dipercaya oleh suatu kelompok orang yang sering kali dikaitkan dengan dewa-dewa atau kekuatan-kekuatan bersifat supranatural yang melebihi batas kemampuan manusia.
Mitos juga sering dikaitkan dengan suatu peristiwa kejadian, asal usul suatu tempat, hingga tingkah laku manusia.
Pada sebagian orang, mitos tidak hanya dianggap sebagai dongeng biasa, namun juga mengandung nilai sakral dan menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.
Bahkan sebagian dari mereka juga menganggap bahwa mitos dapat menjadi petunjuk arah kehidupan.
Di tanah jawa yang kaya akan sejarah dan kebudayaan telah menjadi pusat interaksi antar berbagai pengaruh, termasuk agama Hindu, Buddha, Islam, hingga kolonialisme barat.
Masyarakat jawa telah mengembangkan mitos yang melibatkan tempat-tempat keramat yang dipercayai mengandung kekuatan gaib serta menjadi lokasi bagi banyak peristiwa sejarah dan kegiatan keagamaan.
Tempat-tempat seperti Pantai Selatan, Gunung Merapi, dan Candi Prambanan adalah contoh lokasi bersejarah atau geografis yang dipenuhi dengan cerita mitos yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan kepercayaan mereka.
Mitos tersebut masih diyakini dan diwariskan secara turun temurun pada masyarakat jawa.
Mitos memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam menyederhanakan perkara kompleks.
Segala sesuatu yang terjadi didunia ini penuh dengan ambiguitas atau ketidakpastian.
Dalam situasi seperti ini, mitos dapat memberikan jawaban yang lebih sederhana dan dapat diterima.
Sebagai contoh, kegagalan yang dialami oleh seseorang selalu berkaitan dengan nasib buruk atau bahkan sebuah “kutukan”.
Masyarakat tidak melihat faktor struktural yang menjadi penyebab kegagalan tersebut, seperti usaha yang dilakukan seseorang kurang maksimal, adanya keterbatasan akses pendidikan, hingga masalah yang menyangkut keadaan finansial.
Sehingga pola pikir tersebut dapat menghambat upaya seseorang dalam melakukan sebuah perubahan.
Jika dilihat lebih jauh lagi, mitos tidak hanya berfungsi dalam menjelaskan perkara sulit, tetapi juga membantu masyarakat dalam bertindak sehingga dianggap pula sebagai bentuk kontrol sosial.
Misalnya, cerita tentang makhluk halus yang disebut “Genderuwo” akan muncul di waktu petang dan menculik anak kecil yang masih bermain di luar rumah.
Mitos tersebut dapat digunakan sebagai alasan agar anak segera pulang kerumah sebelum waktu petang tiba.
Dalam hal ini, mitos memiliki manfaat karena dapat membantu orangtua dalam membatasi waktu sang anak ketika bermain diluar rumah.
Selain itu, mitos juga dapat membentuk identitas suatu kelompok masyarakat.
Setiap kelompok masyarakat memiliki dasar kebanggaan yang berasal dari cerita nenek moyang hingga asal usul suatu legenda yang menjadi ciri khas dari kelompok masyarakat tersebut.
Mitos dapat meningkatkan rasa solidaritas dan kebersamaan.
Meskipun demikian, mitos dapat pula menjadi cermin bagi sebagian masyarakat karena menggunakan mitos untuk mendukung stereotip atau bahkan diskriminasi kelompok tertentu.
Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, keberadaan mitos tidak sepenuhnya hilang tetapi justru mengalami perubahan bentuk.
Banyak mitos yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar nyata, saat ini lebih dipahami sebagai bagian dari tradisi dan budaya yang diwariskan secara turun temurun.
Namun, karena mitos telah melekat dalam kehidupan masyarakat sejak lama, sebagian mereka tetap percaya akan mitos tersebut.
Disisi lain, kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan membuat sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kebenaran mengenai berbagai mitos yang ada.
Saat ini pun lebih banyak penelitian ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena daripada mitos supranatural.
Misalnya, fenomena letusan gunung berapi yang konon katanya gunung merapi sedang memiliki hajat atau lelaku.
Faktanya, penyebab terjadinya gunung meletus menurut Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah adanya akumulasi tekanan gas vulkanik di dalam dapur magma yang mendorong magma keluar ke permukaan bumi.
Hal tersebut dapat dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu yang membahas mengenai ilmu bumi.
Namun demikian, bukan berarti bahwa mitos kehilangan makna sepenuhnya.
Mitos masih memiliki nilai budaya dalam beberapa situasi, terutama dalam menjaga warisan tradisi dan memperkuat identitas lokal.
Dalam industri pariwisata, mitos sering menjadi daya tarik bagi wisatawan karena cerita-cerita yang menyertainya dapat meningkatkan pengetahuan mengenai sejarah.
Sehingga tempat tersebut bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat umum.
Oleh karena itu, mitos dapat dipahami sebagai bagian dari proses pemahaman masyarakat tentang dunia, bukan hanya sekedar cerita kuno yang tidak lagi relevan dengan dunia modern saat ini.
Mitos menunjukkan cara masyarakat berpikir pada saat itu dan memberi makna pada hal-hal yang belum dapat dijelaskan secara logis.
Mitos tetap memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai warisan budaya maupun sumber inspirasi untuk melihat bagaimana perkembangan cara berpikir masyarakat dari masa ke masa.
Penulis: Eki Mecca Nuraida (NIM 255120307111050)
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Brawijaya
Aktif Juga sebagai Staf Ahli Humas UAKI UB 2026
Dosen Pengampu: Sukma Nurmala, S.Psi, M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Kamis, M. J., Ismail, H., & Hussain, E. M. (2025). Pengaruh Mitos dan Realiti terhadap Pembentukan Identiti Masyarakat Jawa. Journal of Al-Muqaddimah, 13 (1), 18-29. https://ijps.um.edu.my/index.php/MUQADDIMAH/article/view/62066/18597
- Nurhuda, A. (2023). Mitos Kebudayaan Jawa dalam Novel Delusi Karya Supaat I. Lathief. Jurnal Lazuardi, 6 No. 1, 24-35. https://ejurnalpendidikanbahasaundana.com/index.php/lazuardijournal/article/view/80/69
- Prasojo, M. N. B. (2015). Konstruksi Sosial Masyarakat terhadap Alam Gunung Merapi: Studi Kualitatif tentang Kearifan Lokal yang Berkembang di Desa Tlogolele Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Jurnal Analisa Sosiologi, 4(2), 31-46. https://jurnal.uns.ac.id/jas/article/view/17434/13922
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












