Kenalan dengan Hoya bukitrayaensis, Si Pendatang Baru dari Hutan Awan Kalimantan

Bunga Hoya bukitrayaensis (Foto: Ahmad et al. 2026)
Bunga Hoya bukitrayaensis (Foto: Ahmad et al. 2026)

Sebuah bunga kecil berwarna kecoklatan dengan mahkota merah tua baru saja resmi diberi nama. Ia hanya hidup di satu tempat di seluruh bumi.

Tahukah kamu?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kalimantan adalah salah satu pusat keanekaragaman Hoya di dunia. Tercatat ada 86 spesies di pulau ini dan Hoya bukitrayaensis kini menjadi yang ke-87.

Bagi sebagian orang, nama Hoya mungkin lebih akrab sebagai tanaman hias yang menggantung di sudut ruangan dengan bunga-bunganya yang cantik dan wangi. Namun di alam liar, Hoya adalah genus tanaman pemanjat dari suku Apocynaceae yang tersebar luas di kawasan Asia Tenggara, Australia, hingga Kepulauan Pasifik. Tumbuhan ini hidup sebagai epifit, menempel pada batang atau cabang pohon lain tanpa merugikan inangnya. Salah satu ciri khasnya yang paling mudah dikenali adalah struktur bunganya yang unik: setiap bunga memiliki dua lapis mahkota, yaitu korola di bagian luar dan korona berbentuk bintang di bagian dalam. Hingga saat ini, lebih dari 500 spesies Hoya telah tercatat di seluruh dunia, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan keanekaragaman tertinggi. Setiap tahun, eksplorasi ke sudut-sudut hutan yang belum terjamah selalu berpotensi menghadirkan nama baru dalam daftar panjang genus ini.

Indonesia kembali menambah daftar kekayaan hayatinya melalui penemuan spesies baru, Hoya bukitrayaensis. Di balik lebatnya hutan Kalimantan yang kerap dijuluki sebagai “paru-paru dunia”, masih tersimpan berbagai rahasia alam yang belum sepenuhnya terungkap. Salah satunya adalah tumbuhan unik yang ditemukan di Gunung Bukit Raya, puncak tertinggi di Kalimantan yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Berdasarkan Ahmad et al. (2026), penemuan ini dilakukan dalam ekspedisi biodiversitas TaNa KaYa pada tahun 2024, sebuah kegiatan ilmiah yang bertujuan mengungkap keanekaragaman hayati di wilayah yang masih minim eksplorasi. Setelah melalui proses penelitian dan verifikasi ilmiah yang panjang, spesies ini akhirnya resmi diakui sebagai spesies baru pada 27 Maret 2026.

Tumbuhan ini hidup di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, tepatnya di hutan pegunungan berkabut (cloud forest). Bayangkan sebuah hutan yang hampir setiap hari diselimuti kabut tipis dengan udara sejuk dan kelembapan tinggi, seperti “negeri di atas awan”. Di kondisi seperti inilah Hoya bukitrayaensis tumbuh dan bertahan. Yang membuatnya semakin istimewa, tumbuhan ini bersifat endemik, artinya sejauh ini hanya ditemukan di satu lokasi di dunia, yaitu Gunung Bukit Raya. Jika habitatnya rusak, spesies ini berisiko hilang bahkan sebelum banyak orang sempat mengenalnya.

Hoya bukitrayaensis
Morfologi Hoya bukitrayaensis (Foto: Ahmad et al. 2026)

Secara morfologi, Hoya bukitrayaensis memiliki karakteristik yang cukup mencolok dibandingkan kerabatnya. Daunnya berbentuk lanset dengan ujung runcing. Mahkota bunganya berlekuk dangkal dengan bulu panjang di sisi dalam, berwarna kuning kecokelatan hingga merah kecokelatan dengan bintik-bintik ungu. Bunganya tersusun dalam bentuk payung (umbelliform) yang sedikit cembung dan termasuk ke dalam bunga majemuk. Yang paling unik adalah lobus korona luarnya yang bersayap dan terbagi tiga, ciri yang tidak ditemukan pada spesies Hoya lain yang tercatat dari Kalimantan. Dalam satu tangkai hanya terdapat 4 hingga 6 kuntum bunga, jauh lebih sedikit dibandingkan spesies sejenisnya. Kombinasi ciri-ciri inilah yang meyakinkan para peneliti bahwa tumbuhan ini bukan sekadar variasi, tetapi benar-benar spesies baru. (Ahmad et al., 2026)

Dalam proses identifikasi, spesies ini dibandingkan dengan dua spesies yang paling mirip, yaitu Hoya kastbergii dan Hoya ischnopus. Perbedaan bentuk daun dan struktur bunga menjadi karakter utama yang menguatkan statusnya sebagai spesies baru. Verifikasi dilakukan melalui perbandingan dengan literatur ilmiah, spesimen herbarium BO, serta basis data global seperti GBIF dan JSTOR Global Plants. Spesimen utama (holotype) kemudian disimpan di Herbarium WAN sebagai acuan ilmiah resmi. (Ahmad et al., 2026)

Penemuan ini membuktikan bahwa eksplorasi ilmiah di Indonesia masih jauh dari selesai. Masih banyak puncak yang belum didaki, lembah yang belum dijelajahi, dan sudut hutan yang menyimpan spesies-spesies yang belum diberi nama. Hoya bukitrayaensis adalah bukti bahwa alam Indonesia masih penuh kejutan dan bahwa kerja keras para peneliti di lapangan, dari lereng gunung hingga meja laboratorium, tetap menghasilkan penemuan yang berarti bagi dunia.

Penulis:
1. Nadia Nuradzkia Muhajjalin (140410250077)
2. Raya Avielza Khaliffa (140410250002)
3. Risanti Fadiyah (140410250115)

Mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Padjadjaran

Dosen Pengampu:
1. Prof. Dr. Budi Irawan, S.Si., M.Si.
2. Muhammad Agung Triyudha, S.Si., M.Si.

Editor: Rahmat Al Kafi

Referensi

Ahmad, R. P. P., Yudistira, Y. R., Suriansyah, B., Marsaidi, D., Randi, A., & Mustaqim, W. A. (2026). Hoya bukitrayaensis (Apocynaceae), a new species from Kalimantan, Indonesia. Telopea, 30, 81–85.

Ahmad, R.P.P., Zulfadli, Z., Rahayu, S. & Rodda, M. (2021). One new species and a new record of Hoya (Apocynaceae, Asclepiadoideae) from Sulawesi, Indonesia. Phytotaxa, 502 (1): 79–85. https://doi.org/10.11646/phytotaxa.502.1.5

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses