Kita tidak asing lagi dengan kalimat “rambutmu mahkotamu” bahkan, dalam dunia fashion, rambut menjadi salah satu hal yang sangat menunjang penampilan seseorang. Rambut yang disebut sebagai mahkota untuk mengekspresikan model atau gaya saat berpenampilan sebagaimana yang diinginkan menjadi suatu cerminan ekspresi dan identitas personal. Sejarah gaya rambut adalah perjalanan yang menarik melintasi waktu, yang menggambarkan bagaimana orang menggunakan rambut mereka untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Tentu saja, gaya rambut tidak dapat dipisahkan dengan sektor pekerjaan informal terutama dari dinamika ekonomi perkotaan di Indonesia. Di tengah pesatnya modernisasi dan pertumbuhan sektor formal, pekerjaan informal justru tetap bertahan dan bahkan berkembang. Salah satu pekerjaan yang menarik untuk dikaji dalam artikel ini adalah tukang cukur.
Pada dasarnya tukang cukur seringkali dianggap pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Nyatanya, jika dilihat dari fungsinya tukang cukur justru memenuhi kebutuhan dasar yang terus ada di tengah masyarakat. Rendahnya cara pandang masyarakat ini bukan hanya berdampak pada citra pekerjaan, tetapi juga memengaruhi kepercayaan diri para pelakunya serta peluang mereka untuk berkembang. Hal tersebut bukanlah fenomena baru. Namun, pertanyaannya apakah dari pekerjaan yang dianggap “rendahan” itu memiliki pengaruh pada persoalan ekonomi mereka?
Tukang cukur dari bahasa Prancis Kuno barbeor, barbieor (abad ke-13, Bahasa Prancis Modern) barbier (yang memiliki arti lebih terbatas daripada kata dalam bahasa Inggris), dari bahasa Latin Vulgar barbatorem, dari bahasa Latin barba yang artinya “janggut”. Dalam sejarahnya, tukang cukur ini sudah lama muncul di Indonesia. Di Surabaya sendiri tukang cukur sudah mulai banyak muncul pada tahun 1910 – 1930. Tukang cukur dulunya sangat berbeda dengan sekarang yang biasa kita sebut “barbershop” tukang cukur pada tahun tersebut masih berpindah-pindah atau sifatnya nomaden yang menjual jasanya dengan cara menelusuri tiap-tiap desa, ada yang menggunakan sepeda ada juga yang berjalan. Hal ini bukan berarti menunjukkan tukang cukur di Surabaya sebagai pencetus pekerjaan ini berkembang tetapi, jauh sebelum munculnya tukang cukur di Surabaya telah ada tukang cukur tertua di Jakarta pada tahun 1905.
Seperti yang dijelaskan diatas tukang cukur dulunya sangat berbeda dengan sekarang, yang masih menggunakan alat cukur tradisional seperti mesin cukur manual, pisau cukur, selimut sebagai penutup, sisir dan cermin. Karena sifatnya yang berpindah-pindah dan tidak menetap mengharuskan seorang tukang cukur melakukan pekerjaannya di bawah pohon bahkan pada generasi sebelum tahun 2000-an tukang cukur tersebut dijuluki sebagai tukang cukur DPR (di bawah pohon rindang).
Dari pernyataan tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa penghasilan tukang cukur cenderung tidak stabil karena bergantung pada jumlah pelanggan setiap hari. Tidak ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pendapatan yang cukup, terutama pada masa-masa sepi. Kondisi ini membuat mereka sulit untuk merencanakan masa depan, baik dalam hal menabung, investasi, maupun memenuhi kebutuhan jangka panjang. Dalam situasi tertentu, seperti krisis ekonomi atau perubahan tren gaya hidup, posisi mereka menjadi semakin lemah.
Hal ini diperparah oleh tidak adanya jaminan sosial. Sebagian besar tukang cukur tidak memiliki perlindungan seperti asuransi kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, atau dana pensiun. Akibatnya, ketika mereka sakit atau tidak mampu bekerja, tidak ada sistem yang melindungi mereka. Disisi lain, mereka juga memiliki keterbatasan untuk mengembangkan usaha mereka karena banyak dari mereka yang ingin meningkatkan kualitas usaha, misalnya dengan memperbaiki tempat atau menambah fasilitas, tetapi terkendala untuk mendapatkan pinjaman. Persyaratan administratif dari bank atau koperasi sering kali tidak dapat mereka penuhi. Akibatnya, mereka tetap terjebak dalam skala usaha kecil tanpa adanya peningkatan yang signifikan.
Kendala tidak dapat berkembang tersebut semakin diperparah karena hadirnya barbershop yang menawarkan konsep lebih menarik dan pelayanan yang lebih professional. Kehadiran barbershop ini mengubah cara pandang masyarakat terhadap tukang cukur, dari sekadar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup, yang menjadikan gengsi masyarakat semakin tinggi dan cenderung enggan jika mereka cukur rambut di tempat tukang cukur tradisional yang tidak mampu mengikuti perubahan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada kehilangan pelanggan, terutama dari kalangan anak muda. Di sini terlihat bahwa modernisasi tidak selalu membawa dampak positif bagi semua pihak, melainkan juga menciptakan bentuk ketimpangan baru.
Tidak hanya itu, dari cara pandang masyarakat yang menganggap tukang cukur sebagai pekerjaan “rendahan” karena banyak tukang cukur juga tidak memiliki legalitas usaha yang jelas. Hal ini membuat mereka sering kali terkena penertiban atau penggusuran, terutama bagi yang membuka usaha di trotoar atau pinggir jalan. Ketiadaan legalitas juga membuat mereka sulit mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik dalam bentuk pelatihan maupun bantuan modal.
Jika dilihat secara lebih luas, berbagai permasalahan ini menunjukkan bahwa tukang cukur masih belum sepenuhnya diakui sebagai bagian penting dari ekonomi perkotaan. Padahal, mereka berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Kurangnya perhatian dari kebijakan publik memperlihatkan bahwa sektor informal masih sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian utama dari sistem ekonomi dan cara pandang masyarakat terhadap pekerja informal terutama tukang cukur tradisional yang seringkali masih dianggap suatu pekerjaan yang “rendahan”.
Melihat berbagai persoalan tersebut, jelas bahwa masalah yang dihadapi tukang cukur bukan semata-mata karena keterbatasan individu, tetapi juga karena struktur sosial dan ekonomi yang belum berpihak pada mereka. Selama pekerjaan ini masih dipandang sebelah mata, artinya akses terhadap perlindungan, pelatihan, dan peluang berkembang akan tetap terbatas. Oleh karena itu, perubahan tidak hanya perlu datang dari para pelaku usaha, tetapi juga dari cara pandang masyarakat dan kebijakan yang lebih inklusif terhadap sektor informal.
Pertanyaannya, sampai kapan pekerjaan sektor informal seperti tukang cukur tetap dipandang oleh masyarakat sebagai suatu pekerjaan “rendahan”? Bagaimana Indonesia dapat maju jika masyarakatnya sendiri masih memandang masyarakat lain dari status pekerjaan semata, seolah nilai seseorang ditentukan oleh gelar dan posisi formal, bukan oleh kontribusi nyata yang mereka berikan dalam kehidupan sehari-hari? Ini adalah pertanyaan yang perlu dipertimbangkan oleh kita semua, terutama dalam merangkul sesama masyarakat dalam perubahan dan membebaskan diri dari belenggu ketimpangan sosial, karena jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ketimpangan tidak hanya akan bertahan, tetapi juga semakin mengakar dalam struktur sosial dan ekonomi Indonesia.
Penulis: Aura Aulia Salsabillah
Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR)
Dosen Pengampu: Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari S.S., M.A.
Editor: Rahmat Al Kafi
REFERENSI
etymonline. “Barber – Etymology, Origin & Meaning.” Accessed April 1, 2026. https://www.etymonline.com/word/barber.
Hanggoro, Hendaru Tri. “Mengukur Sejarah Tukang Cukur.” Historia.ID, May 4, 2018. https://www.historia.id/article/mengukur-sejarah-tukang-cukur.
Jodi, Jergian. INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN HUMANIORA NOVEMBER 2020. n.d.
Luciany, Yohanes Paulus. Analisis Pendapatan Tukang Cukur Rambut (Barbershop dan Salon) di Kota Ende. n.d.
National Hair & Beauty Federation. “The Evolution of Hairstyles: A Journey Through Time.” Accessed March 31, 2026. https://www.nhbf.co.uk/news-and-blogs/blog/the-evolution-of-hairstyles-a-journey-through-time/.
Nishlah, Hilyatun, and Dhita Hapsarani. “PENGARUH PROFESI TUKANG CUKUR DALAM TRANSFORMASI KAMPUNG PEUNDEUY, BANYURESMI, GARUT.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 11, no. 3 (2021): 326. https://doi.org/10.17510/paradigma.v11i3.494.
“Tukang Cukur | Ensiklopedia.Com.” Accessed April 1, 2026. https://www.encyclopedia.com/fashion/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/barbers.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













