Saat mendengar istilah “hutan” kebanyakan dari kita umumnya membayangkan pepohonan hijau yang ada di daratan.
Tapi siapa sangka, jauh di bawah permukaan laut yang dingin dan kaya akan nutrisi juga terdapat hutan.
Di dasar laut yang tenang, terdapat ekosistem menakjubkan yang sering disebut sebagai “hutan bawah laut”, yakni hutan kelp yang didominasi oleh alga coklat raksasa Macrocystis pyrifera, bagian dari kelompok alga coklat Phaeophyceae.
Berbeda dengan hutan di daratan, ekosistem ini terdiri dari alga yang bisa mencapai puluhan meter, menjulang dari dasar laut hingga ke permukaan, membentuk kanopi alami yang menyerupai pohon.
Hutan ini tidak hanya menawan, tetapi juga merupakan salah satu ekosistem paling subur di bumi, bahkan sebanding dengan hutan hujan tropis dalam hal keragaman hayati dan produktivitas biologis (Marambio, J., et al., 2023).
Macrocystis pyrifera dapat menciptakan pemandangan yang mirip hutan tropis di bawah air, dengan struktur berlapis yang menyediakan habitat untuk beragam spesies laut dan juga merupakan rumput laut raksasa karena ukuran yang sangat besar dan kemampuannya untuk tumbuh dari dasar laut hingga hampir mencapai permukaan yang disebut dengan “giant klep” (Krause-Jensen, D., & Duarte, C. M., 2020).
Baca Juga: Chlorella: Mikroalga Hijau yang Kian Dilirik sebagai Sumber Pangan Sehat dan Energi Berkelanjutan
Fakta menarik hutan klep adalah pengaruh ekologisnya yang sangat signifikan.
Hutan kelp menjadi tempat tinggal utama bagi ribuan spesies laut, seperti ikan, krustasea, dan mikroorganisme.
Macrocystis pyrifera bahkan dikenal sebagai “spesies pendukung” karena keberadaannya menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem laut yang rumit.
Selain itu, hutan kelp juga memberikan sumbangan signifikan dalam mempertahankan keseimbangan lingkungan global.
Dengan proses fotosintesis, Macrocystis pyrifera mengambil karbon dioksida dalam jumlah besar dari lautan, sehingga berkontribusi mengurangi efek perubahan iklim.
Sebagian biomassa kelp yang telah mati bisa terbenam ke dasar laut dan menyimpan karbon dalam waktu yang lama, sehingga menjadi bagian dari sistem blue carbon yang menjanjikan
Tidak hanya indah, hutan kelp juga punya “superpower” bagi bumi sebagai pelindung alami untuk garis pantai.
Baca Juga: Mengenal Cyanobacteria (Alga Hijau) yang Berperan Penting dalam Kehidupan
Studi terbaru menunjukkan bahwa kanopi kelp dapat mengurangi energi gelombang laut, sehingga menurunkan erosi pantai dan dampak dari badai.
Peran ini menjadikan Macrocystis pyrifera sangat krusial dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem pesisir, terutama di tengah semakin seringnya badai akibat perubahan iklim.
Yang membuatnya semakin menarik, Macrocystis pyrifera termasuk salah satu organisme dengan pertumbuhan tercepat di bumi karena mampu tumbuh sangat cepat hingga sekitar 30–60 cm per hari dalam kondisi optimal.
Alga ini tergolong sebagai organisme dengan dinamika biomassa tercepat di bumi.
Pertumbuhan cepat itu membuat terbentuknya ekosistem dalam periode yang cukup singkat, sekaligus menciptakan siklus regenerasi yang aktif.
Struktur tubuhnya terdiri dari bagian dasar yang menempel pada substrat laut (holdfast), batang panjang (stipe), dan daun (blade) yang membentuk lapisan vertikal dari dasar hingga permukaan.
Baca Juga: Pencemaran Organik Picu Ledakan Alga Berbahaya di Wilayah Pesisir
Struktur ini menciptakan “zona bertingkat” di dalam air, sehingga berbagai organisme dapat hidup di ketinggian berbeda, mulai dari mikroorganisme hingga ikan besar dan mamalia laut.
Macrocystis pyrifera juga memiliki kantong udara kecil (pneumatocyst) yang memudahkan bagian atas alga mendekati permukaan air untuk menangkap cahaya matahari dalam proses fotosintesis dengan lebih efisien.
Adaptasi ini memungkinkan alga tumbuh tinggi dan membentuk struktur kompleks di bawah permukaan laut (Graham et al., 2007).

Di samping itu, alga ini menunjukkan fleksibilitas struktur yang luar biasa.
Walaupun tampak besar dan kuat, tubuhnya sangat fleksibel sehingga bisa menyesuaikan diri dengan arus laut yang deras tanpa cepat rusak.
Karakteristik elastis ini membuat hutan kelp mampu bertahan terhadap perubahan kondisi lingkungan yang dinamis, seperti ombak besar dan arus laut yang berfluktuasi (Koehl & Alberte, 2020).
Kemampuan ini juga berperan dalam mengurangi kerusakan akibat tekanan fisik, sehingga kelp tetap dapat tumbuh dan mempertahankan keberlangsungan ekosistemnya.
Metode reproduksinya juga sangat efektif. Macrocystis pyrifera memperbanyak diri dengan melepaskan spora ke air yang dapat menyebar ke banyak area.
Spora itu kemudian berkembang menjadi individu baru jika menciptakan kondisi lingkungan yang tepat, memungkinkan kelp untuk dengan cepat menjelajahi area baru atau pulih setelah terjadi gangguan.
Secara keseluruhan, Macrocystis pyrifera bukan hanya alga biasa, tetapi juga perancang luar biasa ekosistem laut.
Hutan bawah laut yang terbentuknya menyimpan biodiversitas tinggi, berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, serta melindungi area pesisir.
Kehadirannya mengingatkan kita bahwa keindahan alam tidak hanya terdapat di daratan, namun juga tersembunyi di bawah permukaan laut yang luas dan penuh misteri.
Baca Juga: 7 Fakta Mencengangkan Tentang Komponen Lingkungan Hidup dalam Ekosistem yang Belum Anda Ketahui
Hutan bawah laut dari Macrocystis pyrifera juga mengingatkan kita bahwa keajaiban alam tidak hanya ada di daratan, tetapi juga tersembunyi di kedalaman laut.
Ekosistem ini bukan sekadar indah untuk dilihat, tetapi juga vital bagi keseimbangan bumi. Menjaganya berarti menjaga masa depan laut dan juga kehidupan kita sendiri.
Penulis: Nabila Aulia Hasan
Mahasiswa Prodi Tadris Biologi, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
- Graham, M. H., et al. (2020). Kelp forest ecology. Annual Review of Marine Science
- Koehl, M. A. R., & Alberte, R. S. (2020). Studi biomekanika kelp.
- Krause-Jensen, D., & Duarte, C. M. (2020). Substantial role of macroalgae in marine carbon sequestration. Nature Geoscience.
- Kristen Elsmore, Kerry J Nickols, Luke P Miller, Tom Ford, Mark W Denny, Brian Gaylord, Wave damping by giant kelp, Macrocystis pyrifera, Annals of Botany, Volume 133, Issue 1, 1 January 2024, Pages 29–40, https://doi.org/10.1093/aob/mcad094.
- Marambio, J., et al. (2023). New ecophysiological perspectives on the kelp Macrocystis pyrifera. Frontiers in Marine Science, 10:1222178. https://doi.org/10.3389/fmars.2023.1222178.
- Schiel, D. R., & Foster, M. S. (2015). The Biology and Ecology of Giant Kelp.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












