Kadang dunia pendidikan di Indonesia ini mirip hubungan yang belum move on—terlihat rukun di luar, tapi dalamnya penuh ganjalan.
Di ruang kelas kita bicara karakter dan nilai, tapi di ruang guru kita diam-diam menahan emosi, merasa tak didengar, atau sekadar ingin istirahat lima menit tanpa dikejar administrasi. Dan ya, di sanalah konflik tumbuh: kecil, tapi nyata.
Sebagai orang yang pernah (atau sedang) bergelut di dunia pendidikan, saya tahu satu hal: konflik di sekolah itu bukan hal aneh. Justru, ia bagian dari denyut kehidupan sebuah lembaga. Bedanya, ada yang bisa mengelola, ada juga yang memilih pura-pura tidak terjadi.
Ketika Idealisme Bertemu Realitas
Guru seringkali berdiri di antara dua dunia: idealisme dan realitas. Di satu sisi, ingin membuat pembelajaran bermakna dan menyenangkan. Di sisi lain, dikejar target nilai, laporan daring, dan kebijakan yang sering berubah lebih cepat dari sinyal Wi-Fi sekolah.
Belum lagi ketika pimpinan punya cara pandang berbeda. Guru ingin mengajar dengan pendekatan kreatif, kepala sekolah minta hasil ujian naik 10 persen. Guru stres, kepala sekolah frustrasi, dan ujung-ujungnya—siswa yang kena dampaknya.
Tapi di sisi lain, inilah yang disebut konflik fungsional dalam teori perilaku organisasi: ketegangan yang, kalau dikelola dengan bijak, justru bisa jadi sumber inovasi.
Filosofi di Balik Konflik
Filsuf Yunani kuno Heraclitus pernah bilang, “Conflict is the father of all things.” Artinya, perubahan lahir dari gesekan. Jadi kalau sekolah kita selalu tenang, bisa jadi bukan karena damai—tapi karena semua orang sudah malas berpendapat.
Sementara John Dewey, bapak pendidikan progresif, percaya bahwa sekolah itu laboratorium sosial. Tempat orang belajar berinteraksi, berbeda pendapat, lalu mencari titik temu. Jadi ketika guru dan tenaga kependidikan berselisih soal metode, itu sebenarnya sedang menjalankan “praktikum kehidupan” yang sesungguhnya.
Baca Juga: Konflik sebagai Motor Penggerak Transformasi dalam Organisasi Pendidikan
Kasus Nyata yang Bikin Kita Berkaca
Awal 2025, publik dihebohkan oleh video viral dari MAN 1 Lamongan, Jawa Timur. Dalam rekaman itu, seorang guru tampak menggebrak meja dan membentak siswa karena data mereka tak terinput di sistem PDSS.
Akibatnya, para siswa terancam gagal ikut seleksi SNBP. Beberapa menangis, orang tua datang ke sekolah, dan situasi makin panas.
Guru akhirnya dinonaktifkan sementara, tapi publik terbelah: ada yang menyalahkan guru, ada juga yang bilang, “Wajar, guru juga manusia.”
Kalau ditarik ke teori organisasi, ini jelas contoh konflik peran dan ekspektasi. Guru ditekan oleh sistem dan tanggung jawab moral, siswa ditekan oleh masa depan yang diukur dari database. Semua merasa terpojok, tak ada yang benar-benar menang.
Kasus ini jadi pengingat bahwa sistem pendidikan kita masih sering lupa satu hal sederhana: di balik jabatan, nilai, dan peraturan—ada manusia yang bisa lelah.
Baca Juga: Pentingnya Pendidikan dalam Kehidupan
Dari Konflik ke Refleksi
Mungkin memang sudah waktunya kita berhenti melihat konflik sebagai momok. Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menulis bahwa pendidikan sejati adalah “tindakan cinta dan keberanian.” Berani mengakui kesalahan, berani berdialog, berani memperbaiki diri.
Karena guru bukan dewa yang tak pernah salah, dan siswa bukan robot penerima nilai. Kita semua sedang belajar menjadi manusia—yang kadang gagal, kadang marah, tapi tetap punya harapan.
Konflik, kalau mau jujur, adalah cermin. Kadang menyakitkan, tapi di situlah kita melihat diri sendiri dengan lebih jelas.
“Konflik tidak harus memecah, kadang justru menyatukan—asal kita mau mendengarkan.”
Penulis: Asqia Dinda Pratiwi
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Sri Utaminingsih, S.H., S.Pd., M.Pd., M.H.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












