Komunikasi: Jembatan untuk Saling Memahami dan Menyelesaikan Persoalan Bersama secara Lebih Manusiawi

peran komunikasi dalam konflik
Foto: Freepik

Komunikasi sering dianggap sebagai cara sederhana untuk berbagi informasi atau fakta.

Namun, sebenarnya komunikasi selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pilihan kata dan konteks, yang bisa membawa pengaruh tertentu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pakar komunikasi, Paul Watzlawick, pernah menyatakan bahwa kita tidak bisa tidak berkomunikasi, bahkan pada saat kita diam pun sebenarnya sedang menyampaikan pesan.

Contohnya terlihat dalam kebijakan diplomasi Presiden Prabowo Subianto terkait keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum perdamaian yang dibentuk oleh Donald Trump pada awal 2026 untuk mengawasi perdamaian, rekonstruksi, dan transisi stabilitas di Gaza. 

Pada Januari 2026, diplomat senior Dino Patti Djalal menyampaikan pandangannya melalui media sosial, menyoroti beberapa hal yang perlu dipertimbangkan mengenai keikutsertaan Indonesia sebagai anggota dari BoP agar sesuai dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Presiden Prabowo kemudian mengundang beliau ke Istana untuk mendengar pandangan tersebut.

Selanjutnya, pada 5 Maret 2026, Presiden menggelar pertemuan dengan sekitar 150 kiai dan tokoh organisasi Islam seperti PBNU, Muhammadiyah, dan MUI untuk membahas situasi geopolitik Timur Tengah serta alasan Indonesia tetap di BoP.

Baca Juga: FUNFIT Goes to School, Mahasiswa Komunikasi PresUniv Ajak Pelajar Cikarang Terapkan Pola Hidup Sehat ala Gen-Z

Langkah ini tampak seperti upaya untuk melibatkan berbagai pihak. Namun, perlu dilihat bagaimana prosesnya berlangsung agar lebih partisipatif. Di atas kertas, ini adalah langkah yang baik.

Tapi pertanyaannya, apakah prosesnya sudah cukup membuka ruang bagi keberagaman pandangan?

Dalam psikologi sosial, ada penelitian Solomon Asch tentang bagaimana seseorang cenderung menyesuaikan pandangannya dengan kelompok. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh lingkungan sekitar.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa seseorang cenderung mengikuti jawaban kelompok yang salah hanya karena merasa tertekan oleh suara mayoritas atau kekuasaan di sekitarnya.

Situasi di Istana Negara kemarin memiliki pola yang mirip. Di pertemuan tersebut, sesi didominasi oleh penjelasan panjang dari presiden selama tiga jam, sehingga ruang untuk diskusi dua arah terbatas.

Beberapa tokoh yang hadir menyatakan dukungan dengan kata-kata seperti pencerahan atau demi persatuan yang mereka sampaikan dalam wawancara media di Istana Negara.

Baca Juga: Hujan Lebat BMKG, Strategi Komunikasi Pemerintah ala Image Restoration di Tengah Ancaman Banjir

Pendekatan komunikasi dari atas ke bawah seperti ini bisa menciptakan keselarasan yang terlihat, tapi mungkin belum sepenuhnya membuka ruang untuk pandangan berbeda.

Dalam pemberdayaan masyarakat, komunikasi idealnya melibatkan dialog dua arah yang seimbang, bukan hanya penyampaian satu arah.

Menurut Jürgen Habermas, ruang publik adalah ruang yang bebas dari penindasan, di mana setiap orang di dalamnya ditempatkan secara egaliter, dan bebas melangsungkan beragam tema diskusi, bahkan tema subversif sekalipun.

Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas menekankan dialog dua arah yang setara, rasional, dan bebas paksaan (communicative action) untuk mencapai konsensus bersama.

Hal ini bertentangan  dengan dominasi kekuasaan dan lebih mengutamakan kehidupan di mana individu berpartisipasi aktif, bertukar argumen, dan memahami satu sama lain tanpa ego.

Hal ini membantu masyarakat mengembangkan pemikiran kritisnya, termasuk dalam isu-isu seperti Palestina dan Iran.

Baca Juga: Redenominasi Rupiah dan Tantangan Komunikasi Publik

Untuk isu geopolitik seperti BoP, pemerintah bisa mempertimbangkan forum yang lebih inklusif atau menyesuaikan langkah agar selaras dengan prinsip keadilan.

Dengan dialog yang terbuka, komunikasi bisa menjadi alat yang lebih efektif untuk membangun pemahaman bersama dan menyelesaikan isu secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, komunikasi politik seperti diplomasi Board of Peace mengajarkan kita bahwa netralitas dalam berkomunikasi adalah hal yang mustahil, tapi dialog simetris bisa menjadi jembatan pemberdayaan dan menghasilkan persatuan yang tulus.


Penulis: Nyimas Selvy
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa


Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Ahmad Sihabudin, M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses