Mahasiswa KKN Tematik Tim 110 Undip Melaksanakan Pengabdian Berupa Monitoring & Diversifikasi PMT juga Peningkatan Pola Asuh di Kelurahan Srondol Wetan

KKN Tematik Tim 110 Undip
Kegiatan Mahasiswa KKN Tematik Tim 110 Undip (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Banyumanik, MMI – Sebagai bentuk nyata dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro melaksanakan program pengabdian masyarakat di Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Provinsi Jawa tengah, sejak tanggal 4 Juli hingga 15 Agustus 2025 (12/08/2025).

Kegiatan KKN Tematik Tim 110 ini mengusung tema “Peningkatan Pemberdayaan Keluarga dan Masyarakat dalam Program Penurunan Stunting di Komunitas” yang berfokus pada upaya menurunkan angka stunting dengan pendekatan keluarga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ketua kelompok KKN, Shayra Hidza Abira, menyampaikan bahwa selama pelaksanaan KKN mahasiswa melaksanakan berbagai program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, seperti:

1. Garamanis


GARAMANIS (Garam Aman, Inovasi Sabun) merupakan program kolaboratif yang digagas oleh Shayra Hidza Abira, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat bersama Eko Bagas Saputra dari Program Studi Teknik Mesin. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara langsung mendemonstrasikan cara pembuatan sabun inovatif kepada para ibu atau pengasuh yang memiliki balita stunting.

Tak hanya sebagai media pembelajaran, kegiatan ini juga melibatkan anak-anak secara aktif sehingga mendorong interaksi antara anak dan kedua orang tuanya. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kualitas interaksi keluarga dan menjaga stabilitas pola asuh yang positif dalam proses tumbuh kembang anak.

Selain itu, dilakukan pula pengecekan kandungan yodium dalam garam rumah tangga menggunakan reagen iodine. Dengan metode sederhana ini, masyarakat dapat mengetahui apakah garam yang mereka gunakan sudah mengandung yodium yang sangat penting untuk mendukung status gizi dan perkembangan anak.

Program GARAMANIS diharapkan dapat menjadi contoh inovasi edukatif yang tidak hanya aplikatif, akan tetapi juga memperkuat keterlibatan orang tua dalam pencegahan stunting sejak dini.

Program ini dilaksanakan dengan mengunjungi 7 dari total 10 rumah yang memiliki balita stunting. Dari kunjungan tersebut didapatkan hasil berupa sebanyak 8 balita stunting menerima manfaat langsung dari program ini.

Selain itu, sebanyak 8 ibu atau pengasuh yang memiliki balita stunting berhasil membuat sabun cuci tangan menggunakan formula yang telah disediakan. Dari jumlah tersebut, 6 ibu atau pengasuh telah menerapkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun cair, sementara 2 ibu atau pengasuh lainnya masih menggunakan sabun batang.

Oleh karena itu, diberikan edukasi tambahan mengenai pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan sabun berbahan cair yang lebih efektif dalam menjaga kebersihan tangan dan mencegah penyebaran penyakit.

 

2. Mini Klinik

Mini Klinik adalah program yang dirancang secara kolaboratif oleh tiga mahasiswa Program Studi Kedokteran, yaitu Sheila Ajeng Rahmaditya, Qlaziesco Qievziliano, dan Haifa Syafakillah untuk mendeteksi dini masalah kesehatan pada balita stunting serta pengasuhnya. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan glukosa darah, tekanan darah, dan skrining klinis anemia juga infeksi ringan bagi ibu.

Bagi anak dilakukan pemeriksaan antropometri seperti berat badan, tinggi badan, usia, lingkar lengan atas (LILA), dan lingkar kepala. Seluruh hasil pemeriksaan selanjutnya dipetakan ke dalam kurva pertumbuhan WHO sebagai acuan status gizi.

Setelah itu, dilakukan edukasi kepada ibu berdasarkan hasil skrining, baik pada anak maupun ibu guna memberikan pemahaman tentang kondisi kesehatan dan langkah-langkah perbaikan yang dapat dilakukan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini, meliputi pengukuran antropometri, pemeriksaan hemoglobin (Hb), tekanan darah, plotting kurva WHO, dan sesi edukasi gizi serta kesehatan.

Program ini dilaksanakan melalui kunjungan ke 7 dari 10 rumah yang tercatat memiliki balita stunting dan diperoleh hasil berupa sebanyak 8 balita dan 7 pengasuh balita memperoleh manfaat langsung dari kegiatan tersebut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dari kelompok ibu terdapat 2 orang dengan status underweight, 2 orang mengalami anemia, 2 orang terdeteksi hipertensi, dan 2 orang mengalami obesitas.

Sementara itu, dari kelompok anak ditemukan 9 balita dengan perawakan pendek, 1 balita dengan perawakan sangat pendek, dan 3 balita dengan berat badan kurang. Hasil temuan ini menjadi dasar penting untuk ditindaklanjuti melalui intervensi gizi dan kesehatan yang lebih intensif pada tingkat keluarga dan komunitas.

 

3. Sehati

SEHATI (Sayangi dengan Hangat, Aman, Tulus dari Hati) merupakan program yang berfokus pada peningkatan kualitas pengasuhan balita, khususnya dalam keluarga yang memiliki balita stunting. Program ini mencakup tiga materi edukatif utama yang disampaikan oleh mahasiswa lintas disiplin ilmu.

Materi pertama membahas tentang kewajiban orang tua dalam merawat anak yang disampaikan oleh Fransiscus Xaverius Bayu Aji Pratama dari Program Studi Hukum.

Materi kedua membahas mengenai psikoedukasi dalam pola asuh anak dengan penekanan pada peran ayah dalam pengasuhan dan manajemen emosi bagi pengasuh, yang disampaikan oleh Guhita Primadesy, mahasiswa Program Studi Psikologi.

Materi ketiga mengangkat topik tentang pola asuh responsif dalam pemberian makan balita serta skrining perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang disampaikan oleh Setyaningsih Rosita Dewi dari Program Studi Ilmu Keperawatan.

Seluruh kegiatan dilaksanakan secara door to door untuk memastikan keterlibatan aktif serta kenyamanan balita dan pengasuh dalam proses edukasi. Program SEHATI berhasil mengunjungi 9 dari 11 rumah yang menjadi sasaran dan menjangkau 9 balita stunting beserta pengasuhnya.

Berdasarkan hasil pemberian materi mengenai kewajiban orang tua dalam merawat anak diketahui bahwa seluruh orang tua telah menjalankan tanggung jawab mereka dalam pengasuhan, meskipun sebagian masih melibatkan kakek dan nenek dalam pengasuhan sehari-hari.

Namun demikian, orang tua kandung dari anak-anak tersebut tetap berperan sebagai pengasuh utama dan tidak melepaskan tanggung jawabnya dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Setelah dilakukan edukasi, terpantau bahwa sebagian besar keluarga dengan balita stunting melibatkan peran ayah yang cukup nyata. Beberapa orang tua mulai menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan anak dan telah menyesuaikan pola asuh yang lebih baik.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa orang tua yang belum sepenuhnya memahami peran penting mereka dalam mendukung tumbuh kembang anak. Selain itu, 5 dari 9 balita juga diasuh oleh keluarga besar, terutama kakek dan nenek.

Namun, menurut keterangan orang tua, pola asuh yang diterapkan oleh keluarga besar tetap mengikuti arahan dan prinsip yang ditetapkan oleh orang tua kandung sehingga tidak terdapat perbedaan yang mencolok dalam pola pengasuhan sehari-hari.

Baca juga: Mahasiswa KKN-T UNDIP Bantu Desa Sukorejo Kabupaten Sragen Lakukan Pemetaan Potensi Pertanian, Peternakan, dan Perikanan

Hasil skrining perkembangan menggunakan KPSP menunjukkan bahwa 2 balita memiliki perkembangan yang meragukan, diantaranya satu balita mengalami keterlambatan dalam aspek bicara dan bahasa, sedangkan satu balita lainnya mengalami keterlambatan pada aspek motorik.

Hasil ini telah dikomunikasikan kepada pengasuh disertai edukasi tentang pola asuh demokratis dan responsif yang mendukung perkembangan anak serta strategi pemberian makan yang tepat. Seluruh pengasuh telah berkomitmen untuk menerapkan pola asuh yang direkomendasikan, termasuk melatih anak untuk fokus saat makan tanpa gangguan bermain atau menonton video di ponsel.

 

4. Monitoring Pencahayaan di Rumah Balita Stunting

 

Monitoring Pencahayaan Ruangan dalam Pola Asuh Anak Stunting merupakan salah satu bagian yang mendukung lingkungan pengasuhan yang sehat dan optimal. Program ini dilaksanakan oleh Farah Salsabila Habib, mahasiswa Program Studi Teknik Listrik Industri.

Kegiatan ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap pencahayaan ruangan menggunakan lux meter untuk mengukur tingkat pencahayaan lampu LED di rumah-rumah yang dihuni oleh balita stunting.

Pencahayaan yang memadai dinilai penting untuk mendukung aktivitas harian anak dan orang tua, termasuk saat makan, bermain, ataupun berinteraksi. Oleh karena itu, setelah dilakukan pengukuran pada rumah keluarga tersebut, khususnya pengasuh balita mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pencahayaan yang baik dalam mendukung tumbuh kembang anak serta saran teknis terkait penyesuaian pencahayaan di dalam rumah.

Kegiatan ini menyasar setiap rumah yang memiliki balita stunting dengan fokus pada peningkatan kualitas lingkungan fisik guna mendukung pola asuh yang positif. Program ini berhasil menjangkau 9 balita stunting beserta pengasuhnya melalui kunjungan ke 9 dari total 11 rumah yang menjadi target sasaran.

Hasil monitoring menunjukkan bahwa 2 dari 10 rumah memiliki ruangan yang sering digunakan balita stunting untuk beraktivitas dengan tingkat pencahayaan di bawah standar. Berdasarkan pengukuran menggunakan lux meter, standar pencahayaan yang ideal adalah 200-500 lux. Pencahayaan yang di bawah standar ini berdampak pada ketidaknyamanan saat anak beraktivitas di dalam ruangan tersebut.

 

5. Meja Makan adalah Diplomasi Keluarga

Meja Makan adalah Diplomasi Keluarga merupakan sebuah kampanye edukatif yang bersifat ajakan dengan mengangkat pentingnya pola makan sehat dalam keluarga sebagai pondasi utama bagi tumbuh kembang anak. Kampanye ini disampaikan oleh Kiesha Aurelia Rasedha, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional.

Dalam kampanye ini disampaikan pemahaman umum mengenai stunting, dampaknya terhadap perkembangan anak, dan berbagai cara pencegahannya. Stunting juga dikenalkan sebagai isu global yang menjadi perhatian banyak organisasi internasional, seperti WHO.

Kampanye ini menekankan bahwa momen makan bersama tidak hanya penting untuk pemenuhan gizi, akan tetapi juga sebagai ruang membangun komunikasi keluarga, menanamkan kebiasaan sehat, dan memperkuat pola asuh yang positif.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui sosialisasi door to door kepada keluarga yang memiliki balita stunting dengan tujuan menanamkan pemahaman sejak dini mengenai pentingnya gizi seimbang dan peran keluarga dalam pencegahan stunting. Seluruh pengasuh balita stunting mendengarkan dengan seksama dan menunjukkan perhatian penuh terhadap materi tentang stunting yang merupakan isu global.

 

6. Aquaponik

Aquaponik merupakan program yang bertujuan meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus memperbaiki kualitas gizi masyarakat melalui budidaya pangan mandiri berbasis sistem aquaponik skala rumah tangga.

Sistem ini menggabungkan budidaya ikan konsumsi, seperti lele dengan tanaman sayuran bernutrisi tinggi, seperti pakcoy dalam satu ekosistem tertutup yang ramah lingkungan, hemat air, dan efisien lahan. Program ini digagas oleh Aisyah Munawaroh dari Program Studi Agribisnis dan Zakia Amalia Vega dari Program Studi Perikanan

Program ini secara khusus menargetkan ibu balita, ibu rumah tangga, dan kader posyandu sebagai salah satu agen perubahan dalam keluarga, salah satunya melalui budidaya tanaman pakcoy yang dikenal tinggi akan kandungan vitamin dan mineral juga aman serta bermanfaat untuk meningkatkan imunitas ibu hamil dan balita.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan membudidayakan ikan lele dan tanaman pakcoy dalam satu sistem budidaya terpadu. Sebagai salah satu bentuk bagian dari edukasi masyarakat, mahasiswa juga menyusun materi edukatif dalam bentuk leaflet yang kemudian dibagikan kepada kader kesehatan di Kelurahan Srondol Wetan.

Saat ini, telah terbangun satu unit sistem pertanian terintegrasi antara budidaya lele dan pakcoy yang ditempatkan di Kantor Kelurahan Srondol Wetan.

Melalui pendekatan ini diharapkan keluarga mampu menghasilkan sumber protein hewani dan nabati secara mandiri dan berkelanjutan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dalam mencegah stunting juga mendukung peningkatan kualitas hidup.

Kami ingin memberikan kontribusi nyata melalui pengabdian singkat yang tidak hanya bermanfaat saat ini, tetapi juga berkelanjutan bagi masyarakat di Kelurahan Srondol Wetan,” ujar Shayra Hidza Abira selaku Ketua Kelompok KKN.

Kegiatan KKN ini juga mendapatkan dukungan dari aparat desa dan masyarakat setempat dalam berbagai bentuk. Melalui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama lebih dari satu bulan, KKN Tematik Tim 110 Universitas Diponegoro Kelurahan Srondol Wetan berhasil memberikan kontribusi nyata dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di kelurahan tersebut.

Program-program yang dijalankan tidak hanya menyasar aspek nutrisi dan kesehatan, akan tetapi juga memperhatikan faktor pengasuhan, lingkungan fisik, ketahanan pangan keluarga, hingga edukasi berbasis komunitas.

Dengan pendekatan lintas disiplin dan metode partisipatif, mahasiswa KKN mampu menjalin kolaborasi yang erat dengan masyarakat dan perangkat kelurahan. Keberhasilan pelaksanaan program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, akan tetapi  meninggalkan dampak berkelanjutan yang dapat diteruskan oleh kader lokal dan keluarga sasaran.

Melalui KKN ini, mahasiswa mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan sekaligus menjadi agen perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, kelurahan, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi konkret atas permasalahan sosial yang ada.

 

Penulis: Tim KKN-T 110 Undip Kelompok 3 Srondol Wetan
Mahasiswa Universitas Diponegoro

Editor: Salwa Alifah Yusrina

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses