Melawan Era Post-Truth: Pentingnya Memahami Karakteristik Pengetahuan Non Ilmiah Realitas Era Post-Truth

Melawan Era Post-Truth: Pentingnya Memahami Karakteristik Pengetahuan Non Ilmiah
Melawan Era Post-Truth: Pentingnya Memahami Karakteristik Pengetahuan Non Ilmiah

Bayangkan jika kita berada di sebuah dunia di mana kebenaran ditentukan bukan lagi melalui bukti objektif, melainkan melalui perasaan dan keyakinan pribadi.

Inilah era post-truth, di mana fakta objektif sering diabaikan dan digantikan oleh keyakinan emosional atau preferensi pribadi (Oxford Dictionaries, 2016).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di ranah sosial, perbedaan pandangan yang tajam memicu polarisasi dan perpecahan, sementara di dunia politik, retorika emosional melemahkan demokrasi yang idealnya berlandaskan kebijakan, dan di bidang budaya, semakin sulit membedakan mana fakta dan mana opini atau narasi yang direkayasa (Marino, et al., 2024).

Dalam situasi ini, pemahaman terhadap karakteristik pengetahuan, termasuk pengetahuan non ilmiah yang sering diabaikan merupakan kunci untuk membedakan kebenaran dari sekadar “bumbu emosi” dan melawan arus disinformasi.

Dominasi Emosi dan Bias Kognitif

Era post-truth menempatkan emosi dan keyakinan pribadi di atas fakta objektif, dipicu oleh bias kognitif di mana individu cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya (Universitas Negeri Surabaya, 2024).

Hal ini telah mengubah cara kita menilai realitas. Dalam konteks ini, pengetahuan non ilmiah mengambil peran penting dalam menyediakan sudut pandang yang tidak selalu didasarkan pada metode ilmiah, namun tetap memiliki relevansi mendalam dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Parasocial Relationship di Era Digital: Baik atau Buruk?

Memahami Pengetahuan Non Ilmiah

Pengetahuan non ilmiah meliputi berbagai bentuk informasi seperti tradisi dan kearifan lokal, pengalaman pribadi, kepercayaan, kebenaran agama, mitos, intuisi, dan opini publik.

Tradisi dan kearifan lokal memberikan pedoman moral dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun dalam komunitas.

Keyakinan agama membentuk landasan nilai yang mendalam bagi individu dan masyarakat. Sementara itu, opini publik yang berkembang melalui media mencerminkan pandangan kolektif terhadap suatu isu meskipun sering kurang memiliki dasar ilmiah.

Berbeda dengan pengetahuan ilmiah yang berbasis bukti dan melalui proses sistematis, pengetahuan non ilmiah lebih mengedepankan intuisi, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai budaya.

Meskipun kerap dianggap kurang valid dalam konteks pengambilan keputusan, pengetahuan ini berperan melengkapi dan memperkaya perspektif kita terhadap dunia serta membantu memahami konteks emosional di balik berbagai fenomena sosial.

Mengurangi Polarisasi dan Menangkal Disinformasi

Peran pengetahuan non ilmiah di era post-truth sangat relevan. Karena bias kognitif mendorong individu menerima informasi yang mendukung pandangan pribadi tanpa memperhatikan validitas atau objektivitas (Universitas Negeri Surabaya, 2024), pemahaman yang mendalam mengenai pengetahuan non ilmiah dapat membantu masyarakat menilai informasi secara kritis.

Dengan demikian, tidak hanya meningkatkan daya analisis terhadap informasi, tetapi juga membuka ruang untuk memahami perspektif berbeda secara lebih empatik.

Menghargai tradisi dan keyakinan lokal pun memungkinkan dialog antar kelompok yang inklusif, mengurangi konflik, dan mempererat kesolidaritasan.

Selain itu, pemahaman latar belakang budaya ataupun nilai-nilai di balik narasi tertentu membantu masyarakat untuk lebih mudah membedakan fakta nyata dari opini subjektif yang mungkin telah direkayasa untuk tujuan tertentu.

Selain itu, pengetahuan non ilmiah berfungsi sebagai alat penting untuk menangkal disinformasi. Dalam banyak kasus, disinformasi memanfaatkan narasi emosional yang membangkitkan perasaan ketakutan, kemarahan, atau euforia.

Dengan memahami karakteristik pengetahuan non ilmiah, masyarakat dapat lebih mudah menilai apakah sebuah narasi hanya didasarkan pada emosi tanpa dasar fakta yang kuat ataukah berdasarkan fakta objektif yang tepat.

Pemahaman ini juga membantu memperkaya diskusi sosial dengan mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dan budaya ke dalam solusi yang lebih holistik.

Hal ini sangat penting dalam memastikan bahwa kebijakan atau tindakan yang diambil relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal, sekaligus menghindari konflik akibat perbedaan pandangan.

Baca juga: Kesadaran Literasi Digital di Era Post Truth

Strategi Mengoptimalkan Manfaat Pengetahuan Non Ilmiah

Untuk mengoptimalkan peran pengetahuan non ilmiah di era post-truth, diperlukan beberapa strategi:

1. Meningkatkan Literasi Media: Program literasi kritis yang fokus pada kemampuan memilah informasi, baik yang berbasis fakta ilmiah maupun perspektif non ilmiah, dapat membantu individu menjaga daya kritisnya. Hal ini termasuk memahami perbedaan antara fakta dan opini serta cara bias kognitif dan emosi mempengaruhi penerimaan informasi (Ginting, n.d.).

2. Kolaborasi Multidisipliner: Mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai budaya melalui kolaborasi antara ilmuwan, budayawan, dan tokoh adat merupakan kunci untuk menciptakan solusi yang holistik.

Ilmuwan dapat menyajikan data objektif berdasarkan penelitian, sementara budayawan dan tokoh adat memastikan bahwa solusi tersebut sesuai dengan nilai dan kearifan lokal.

Pendekatan multidisipliner seperti ini membuka ruang dialog inklusif, memungkinkan berbagai pandangan didengar, dan mengurangi potensi konflik akibat perbedaan perspektif.

Baca juga: Media Awareness: Meningkatkan Kesadaran Media di Era Digital

Kesimpulan: Menuju Masyarakat yang Kritis dan Inklusif

Memahami karakteristik pengetahuan non ilmiah merupakan langkah penting dalam menghadapi dampak negatif era post-truth.

Pengetahuan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menilai informasi secara kritis, tetapi juga membuka ruang dialog yang inklusif dan empatik.

Dengan meningkatkan literasi media serta mendorong kolaborasi multidisipliner, kita dapat menciptakan keseimbangan antara fakta dan opini, memperkuat hubungan sosial, dan menghargai keberagaman.

Meski era post-truth membawa banyak tantangan, ia juga menawarkan peluang untuk mewujudkan masyarakat yang lebih kritis, inklusif, dan bermakna.

Untuk menciptakan sebuah dunia yang di mana kebenaran dihargai tidak hanya berdasarkan data, tetapi juga melalui nilai-nilai yang mencerminkan kemanusiaan kita.

 

Penulis: Zoera Dhestreian Lacitara

Mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Brawijaya 

Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi:

Ginting, I. (n.d.). Pentingnya daya kritis masyarakat tangkal hoax. Babel Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. https://babelprov.go.id/artikel_detil/pentingnya-daya-kritis-masyarakat-tangkal-hoax%C2%A0

Marino, E. B., Beleato, J. M. B., & Ribeiro, A. S. (2024). The polarization loop: How emotions drive propagation of disinformation in online media-The case of conspiracy theories and extreme right movements in southern europe. Jurnal Ilmu Sosial, 13(11). https://doi.org/10.3390/socsci13110603

Oxford Dictionaries. (2016, November 8). Post-truth. In Word of The Year 2016. Oxford Languages. https://languages.oup.com/word-of-the-year/2016/

Samuji, S. (2021). Pengetahuan, ilmu pengetahuan dalam filsafat dan islam. Jurnal Paradigma, 12(01), 66-87. https://www.staimmgt.ac.id/wp-content/uploads/2021/12/3.-PENGETAHUAN-ILMU-PENGETAHUAN-DALAM.pdf

Universitas Negeri Surabaya. (2024, November 19). Post-truth: Pengertian dan pengaruhnya dalam pembelajaran bahasa inggris. Universitas Negeri Surabaya. https://s1pbing.fbs.unesa.ac.id/post/post-truth-pengertian-dan-pengaruhnya-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses