Kamu pernah merasa sering berpikiran buruk mengenai hal-hal yang tidak nyata secara berulang? Atau mengecek pintu berkali-kali padahal kamu sendiri sudah tahu kalau pintu itu sudah terkunci? Peristiwa-peristiwa tersebut bisa jadi merupakan gejala awal dari Obsessive-Compulsive Disorder atau yang sering kita ketahui sebagai OCD.
Sebuah istilah yang rasanya tidak asing lagi di benak kita ini biasanya dikaitkan dengan kebersihan dan sifat perfeksionisme yang selalu menuntut kerapian. Namun, pada dasarnya OCD tidak hanya sebatas penyuka kebersihan atau perfeksionisme saja.
Stein, et.al (2025) dalam studinya menyatakan bahwa dari 10 negara besar yang ia survei, OCD banyak muncul pada usia dini dan sangat persisten, selain itu juga OCD kurang mendapat perhatian di mata masyarakat sehingga kondisi ini sering diabaikan. Oleh karena itu, pada artikel ini kita akan mengenal OCD ini secara lebih dalam lagi. Yuk kita cari tahu!
Apa itu OCD?
Penggunaan istilah OCD kini semakin sering terdengar, tetapi masih banyak yang salah memahaminya hingga menimbulkan kecenderungan self-diagnose.
Padahal, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan mental yang ditandai oleh obsesi yakni pikiran atau dorongan berulang yang tidak diinginkan dan menimbulkan kecemasan, serta kompulsi, yaitu perilaku atau tindakan mental berulang untuk meredakan kecemasan tersebut (Anggriani et.al, 2024).
Gejala-Gejala OCD beserta Kriteria Diagnosis menurut DSM-5
Gejala Obsesi:
- Pikiran berulang tentang kuman, kontaminasi, atau takut kotor.
- Ketakutan berlebihan akan membuat kesalahan atau membahayakan orang lain.
- Pikiran agresif, mengganggu, atau tabu yang tidak diinginkan.
- Dorongan kuat untuk semuanya terlihat “sempurna”, simetris, atau berada di posisi tertentu.
Gejala Kompulsi:
- Mencuci tangan atau membersihkan secara berlebihan.
- Mengecek berulang kali (pintu, kompor, tas, pesan).
- Menyusun atau merapikan objek secara kaku dan berulang.
- Mengulang tindakan/kata-kata tertentu untuk “mencegah hal buruk”.
- Mengulang prosesi ibadah untuk memastikan bahwa tidak menimbulkan dosa.
- Menghitung kembali untuk memastikan tidak ada kekeliruan.
- Menghindari situasi yang memicu kecemasan atau pikiran mengganggu.
Apabila gejala-gejala ini sering kali terjadi lebih dari satu jam per hari, serta secara signifikan mengganggu fungsi sosial dan aktivitas sehari-hari maka kriteria diagnostik dapat ditegakkan.
Individu yang merasa mengalami gejala-gejala di atas disarankan untuk menemui profesional, seperti psikolog atau psikiater agar mendapat gambaran jelas mengenai kondisi yang dialami oleh individu tersebut.
Penyebab OCD
Sampai saat ini, penyebab pasti Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) belum diketahui, tetapi para ahli sepakat bahwa OCD muncul dari kombinasi berbagai faktor.
Penelitian menunjukkan adanya gangguan pada sirkuit otak yang mengatur perilaku dan kontrol diri, serta ketidakseimbangan zat kimia otak seperti serotonin, dopamin, dan glutamat.
Pada saat yang sama, pengalaman hidup, pola asuh, stres, dan cara seseorang belajar merespons rasa takut juga berperan, misalnya melalui kebiasaan mengulang tindakan untuk merasa aman.
Dengan kata lain, OCD bukan disebabkan oleh satu hal sederhana, melainkan hasil interaksi antara faktor biologis dan psikososial yang saling memengaruhi.
Terapi untuk OCD
1. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dengan ERP
Terapi utama untuk OCD adalah CBT dengan teknik Exposure and Response Prevention (ERP), yaitu menghadapkan diri secara bertahap pada pemicu kecemasan (misalnya takut najis, takut salah ibadah) sambil menahan diri untuk tidak melakukan ritual.
2. Obat-obatan (Farmakoterapi)
Psikiater biasanya meresepkan antidepresan jenis SSRI, seperti fluoxetine, fluvoxamine, atau sertraline, untuk membantu menurunkan intensitas obsesi dan kompulsi.
3. Teknik Neuromodulasi (Kasus OCD Berat)
Pada OCD yang sangat berat dan tidak membaik dengan terapi dan obat, dapat dipertimbangkan teknik seperti Deep Brain Stimulation (DBS), yang menstimulasi area tertentu di otak.
4. Kombinasi terapi
Banyak kasus terbantu dengan kombinasi CBT/ERP dan obat. Terapi membantu mengubah pola pikir dan perilaku, sementara obat menyeimbangkan sistem kimia otak sehingga gejala lebih terkendali.
Baca Juga: Mengetahui dan Memahami Gangguan Kecemasan
Dampak OCD pada Kehidupan Sehari-hari
1. Mengganggu aktivitas sehari-hari dan fungsi sosial
Penderita sering menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan obsesi dan melakukan kompulsi, sehingga aktivitas seperti belajar, bekerja, dan urusan rumah terganggu. Menghindari pemicu kecemasan juga bisa membuat mereka membatasi diri dan sulit berfungsi optimal di sekolah, kampus, atau pekerjaan.
2. Mengganggu hubungan dengan orang lain
Obsesi (misalnya tentang bahaya atau kontaminasi) dapat membuat interaksi dengan keluarga dan teman terasa menakutkan. Akibatnya, penderita cenderung menghindar, menjaga jarak, dan dalam jangka panjang berisiko merasa kesepian dan mengalami konflik.
3. Menghambat prestasi akademik dan pekerjaan
Kebutuhan untuk terus mengulang atau “membetulkan” sesuatu membuat tugas sekolah, skripsi, atau pekerjaan sulit diselesaikan. Hal ini bisa menurunkan prestasi, bahkan berujung pada kegagalan akademik atau masalah di tempat kerja.
4. Dampak fisik dan Kesehatan
Ritual seperti mencuci tangan berlebihan dapat menyebabkan kulit rusak, sementara ketakutan terhadap kuman dapat membuat penderita menghindari fasilitas kesehatan dan mengabaikan kondisi tubuh.
5. Menghambat kemandirian (bila mulai sejak dini)
Jika muncul sejak kanak-kanak atau remaja, OCD dapat mengganggu pergaulan dan kesiapan hidup mandiri. Penderita bisa lebih bergantung pada keluarga dan memiliki sedikit hubungan di luar rumah.
Tips Mengelola Gejala OCD
1. Kenali pemicunya
Kamu bisa membuat jurnal untuk mencatat daftar hal-hal yang menjadi pemicu gejala yang kamu alami setiap hari. Dengan memahami polanya, kamu akan lebih mudah untuk mengantisipasi dorongan kompulsif sebelum ia muncul.
2. Tantang pikiran obsesif
Ketika pikiran mengganggu muncul, coba berhenti sejenak dan tanya pada diri sendiri “Apa ini benar, atau hanya kecemasanku yang sedang membesar?” Cara ini membantu kamu melihat pikiran obsesif dengan lebih objektif.
3. Lawan kompulsi yang muncul
Walaupun dorongan untuk melakukan kompulsi terasa kuat, tapi kamu bisa mulai membangun kontrol sedikit demi sedikit.
Kalau langsung menahan terasa berat, gunakan teknik delay: tunda kompulsi selama 30 detik, lalu 1 menit, dan tambah perlahan. Menunda membuat kompulsi kehilangan kekuatannya dan memberi kamu kesempatan untuk mengambil alih kendali.
4. Kelola stres dengan baik
Stres sering kali memperburuk gejala OCD, jadi penting untuk bantu tubuh dan pikiran tetap tenang. Coba teknik pernapasan dalam, grounding, journaling, atau sekadar jalan santai. Cara-cara kecil ini bisa bantu menurunkan kecemasan yang memicu gejala.
5. Terapkan gaya hidup sehat
Tidur cukup, makan teratur, olahraga ringan, dan pola hidup yang stabil bisa bikin gejala lebih mudah diatur. Ketika tubuh terawat, kesehatan mental pun punya landasan yang lebih kuat.
Baca Juga: Pentingnya Kesadaran Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa
Oleh karena itu memahami OCD secara utuh membantu kita melihat bahwa gangguan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan perfeksionis atau suka bersih.
Dengan informasi yang tepat, dukungan lingkungan, serta akses ke layanan profesional, setiap individu memiliki kesempatan untuk kembali berdaya dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
Penulis:
1. Revania Ayuri (G1C124023)
2. Pretty Violetta (G1C124014)
3. Auliya Rahma (G1C124019)
4. Atika Muthya Khairunissa (G1C124022)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)
Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber:
Anggriani, et.al. (2024). Diagnosa Penyakit Obsessive-Compulsive Disorder Menggunakan Metode Certainty Factor. MODEM: JURNAL INFORMATIKA DAN SAINS TEKNOLOGI, 33-50.
A.P.A. (2013). DIAGNOSTIC AND STATISTICAL MANUAL OF MENTAL DISORDERS FIFTH EDITION (DSM-5). Washington DC: American Psychiatric Publishing.
Jalal, et.al. (2023). Obsessive-compulsive disorder: Etiology, neuropathology, and cognitive dysfunction. Brain and Behavior, 1-18.
Samsudin, et.al. (2024). Terapi Exposure and Response Provention (ERP) dalam Mengurangi Gejala Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) pada Remaja. Proceeding Conference on Psychology and Behavioral Sciences (pp. 240-249). Jakarta: CV. Doki Course and Training.
Stein, et.al. (2025). Obsessive-compulsive disorder in the World Mental Health surveys. BMC Medicine, 1-16.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












