Banyak orang pernah melihat seseorang tiba-tiba membuka celana atau memperlihatkan alat kelaminnya di tempat umum. Perilaku ini sering dianggap iseng atau ulah orang tidak waras.
Padahal tindakan seperti ini punya nama dan berdampak besar pada rasa aman korban. Banyak orang tidak tahu harus merespons bagaimana, sehingga korban menghadapi situasi ini sendirian.
Kasus yang Terjadi di Instagram
Pada 17 November, seorang perempuan membagikan pengalamannya di Instagram. Ia menulis bahwa seorang tukang ojek sering berada di depan kosnya. Awalnya hanya siulan dan panggilan dari jauh. Pada 11 November pagi, pelaku bersembunyi di balik pot besar dan mengagetkannya sambil memperlihatkan alat kelaminnya.
Korban berlari menjauh. Pelaku malah tertawa. Sejak itu korban merasa tidak aman keluar kos. Ia menghentikan rutinitas lari paginya karena khawatir kejadian itu terulang. Pelaku masih sering terlihat di sekitar kos dan tetap bersikap mengganggu.
Beberapa hari kemudian korban mengunggah video baru. Ia bercerita bahwa ia sudah melapor ke beberapa tempat, tetapi belum ada hasil. Ketakutannya bertambah ketika pelaku kembali meneriakinya saat ia berlari pagi. Ia akhirnya meminta bantuan ke pos Damkar Benhil.
Petugas menindaklanjuti laporannya dan mendatangi lokasi. Dalam video itu korban menegur pelaku dan berkata, “Bapak pernah nunjukkin kelamin ke saya. Saya jadi takut mau lari pagi di sini. Tolong jangan ganggu perempuan lagi.”
Temuan Survei Instagram
Survei yang diikuti 56 responden menunjukkan bahwa perilaku ini sering ditemui. Sebanyak 58% pernah mendengar kasusnya. Sebanyak 31% pernah melihatnya langsung atau melalui media. Hanya 11% yang belum pernah melihat atau mendengar sama sekali.
Responden menyebut bahwa cara paling aman adalah tetap tenang dan menjauh. Dari wawancara langsung dengan penjaga rumah sakit, juru parkir, dan ibu rumah tangga, mereka tahu perilakunya salah, tetapi tidak tahu jalur pelaporan. Ada yang menegur. Ada yang diam karena takut. Ada yang menutupi agar orang lain tidak melihat.
Mereka juga memberi jawaban yang sama. Mereka sama-sama tidak tahu ke mana harus melapor karena tidak ada alur pelaporan yang jelas.
Baca Juga: Perilaku Seksual Menyimpang di Era Kemudahan Akses Informasi
Dampak pada Korban
Kasus Instagram menunjukkan dampak yang besar pada korban. Ia takut keluar kos. Ia menghentikan aktivitas hariannya. Ia merasa tidak aman di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.
Dampak ini tidak terlihat secara fisik, tetapi memengaruhi hidup korban setiap hari. Kondisi ini semakin berat ketika korban tidak tahu harus meminta pertolongan ke mana.
Apa itu Eksibisionisme?
Eksibisionisme adalah perilaku ketika seseorang mendapatkan kepuasan dengan memperlihatkan alat kelamin atau bagian tubuh tertentu kepada orang lain tanpa izin. Perilaku ini sering terjadi di tempat umum.
Pelaku tidak berniat melakukan kontak seksual lebih lanjut. Mereka mencari reaksi seperti kaget atau takut dari orang yang melihatnya. Perilaku ini lebih sering dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan atau remaja perempuan.
Kenapa Seseorang Melakukan Ekshibisionisme?
Penelitian menunjukkan bahwa eksibisionisme muncul dari gabungan faktor biologis, psikologis, dan sosial. Dorongan seksual yang sulit dikendalikan dan pola kerja otak tertentu membuat sebagian orang lebih rentan. Dalam pendekatan psikodinamika perilaku ini dikaitkan dengan perkembangan masa kanak-kanak yang tidak tuntas.
Pendekatan kognitif melihatnya sebagai pola pikir yang keliru, di mana pelaku menafsirkan reaksi kaget sebagai bentuk perhatian. Pengalaman hidup dan lingkungan yang tidak aman ikut memperkuat perilaku ini.
Cara Merespons Saat Kejadian
Pelaku mencari reaksi dari orang yang mereka sasar. Kamu bisa menjaga jarak. Tetap tenang. Jangan menatap atau berbicara pada pelaku. Arahkan pandangan ke tempat aman lalu bergerak ke area yang ramai. Jika memungkinkan, ingat lokasi, waktu, dan ciri pelaku untuk kebutuhan laporan.
Cara Bertindak Setelah Kejadian
Setelah berada di tempat aman, ceritakan kejadian ini kepada orang yang kamu percaya. Simpan informasi penting seperti lokasi dan waktu. Jika kamu siap, kamu bisa melapor ke satpam, RT, RW, kepolisian, atau layanan publik terdekat. Kamu bisa meminta pendamping saat melapor.
Baca Juga: Adakah Perlindungan Hukum bagi Anak Jalanan yang Mengalami Kekerasan Seksual?
Cara Mendukung Korban
Kamu bisa mendengarkan cerita korban. Jangan menilai atau menyalahkan. Korban butuh ruang aman untuk bercerita. Jika korban ingin melapor, kamu bisa menemani.
Cara Menanggapi Pelaku
Perilaku eksibisionisme membutuhkan penanganan profesional. Kamu tidak perlu berkonfrontasi langsung. Kamu bisa mendorong pihak berwenang untuk menindaklanjuti dan merujuk pelaku ke layanan psikolog atau tenaga kesehatan mental. Langkah ini membantu mencegah kejadian berulang.
Penutup
Perilaku eksibisionisme bukan hal sepele. Dampaknya besar bagi rasa aman korban. Survei dan wawancara menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui perilaku ini, tetapi tidak tahu jalur pelaporannya.
Ketidaktahuan ini membuat korban menghadapi situasi tersebut sendirian. Dengan memahami cara merespons dan cara mendukung korban, kamu bisa ikut menjaga lingkungan tetap aman.
Penulis:
1. Otniel Benaya Tarigan (G1C124082)
2. Fasya Garwa Yanur Hasanah (G1C124083)
3. Anita Nike Septiana (G1C124090)
4. Nayla Agustina Salsabilla (G1C124103)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)
Dosen Pengampu:
1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












