Misi Makan di Antariksa: Teknologi Pangan di Luar Angkasa

Misi Makan di Antariksa: Teknologi Pangan di Luar Angkasa
Ilustrasi Makanan Astronaut (Sumber: bing.com)

Pernah membayangkan ingin makan, tapi tak ada api, kulkas, atau bahkan warung makan di sekitar? Di luar angkasa, seperti itulah kenyataannya.

Astronaut tidak punya dapur serba lengkap layaknya kita di Bumi. Satu-satunya cara adalah membawa bekal—yang tentunya bukan ‘bekal biasa’.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bekal astronaut harus mampu bertahan dalam jangka panjang, aman dari kontaminasi mikroba dan keadaan atmosfer yang berbeda, namun tetap dapat menjaga cita rasa dan zat gizi.

Hal ini mendorong pengembangan makanan luar angkasa yang tidak hanya tahan lama dan bergizi tinggi, tetapi juga lezat untuk disantap.

Seperti apakah makanan tersebut dan teknologi apa yang digunakan? Mari coba kupas satu persatu.

Apa Itu Makanan Astronaut?

Makanan astronaut, atau space food merupakan makanan yang ditujukan untuk dikonsumsi oleh astronaut yang berada di luar angkasa atau space station.

Pada awal era penjelajahan luar angkasa, seperti misi Mercury dan Gemini di tahun 1960-an, pilihan makanan astronot sangat terbatas.

Mereka mengonsumsi pasta kental dari daging dan sayuran yang dibuat menjadi semi-solid dalam tube mirip pasta gigidan dikonsumsi lewat sedotan.

Namun, seiring waktu, perkembangan teknologi dan kesadaran akan kebutuhan zat gizi yang lebih seimbang mendorong pengembangan berbagai menu makanan astronaut.

Kini, astronot dapat menikmati makanan, seperti sup instan, daging, nasi, bahkan buah-buahan, yang telah melalui proses pengolahan canggih.

Beberapa jenis makanan astronaut beserta teknologi pengolahannya antara lain; Rehydratable foods dengan teknologi freeze drying, thermostabilized foods dengan teknologi proses termal, serta pangan hasil iradiasi yang dapat mengawetkan makanan, seperti buah dan sayuran segar.

Rehydratable Foods dan Teknologi Freeze Drying

Teknologi freeze drying adalah metode pengeringan yang bertujuan menghilangkan air dari bahan makanan agar lebih kering dan awet.

Yang membedakannya dengan proses pengeringan konvensional seperti pengeringan sinar matahari dan oven adalah adanya tahap pembekuan yang menggunakan teknologi ‘freezing’ sebelum dilakukan pengeringan.

Secara umum, proses freeze drying terdiri dari dua tahap, yaitu proses pembekuan, dimana produk dibekukan terlebih dahulu dan proses sublimasi, di mana es di dalam produk dihilangkan langsung menjadi uap air tanpa mencair pada tekanan yang sangat rendah.

Hal ini menjadikan struktur mikro produk pangan hampir tidak rusak, sehingga bentuk dan teksturnya tetap terjaga.

Produk yang telah melalui freeze-drying dapat mudah dan cepat menyerap air kembali (rehidrasi) sehingga disebut juga rehydratable foods. 

Contoh pangan freeze drying antara lain; buah-buahan, daging, bahkan ice cream!

Meski pada awalnya es krim freeze-dried tidak berjalan mulus karena serpihan dari es dapat berterbangan di kondisi luar angkasa dan berpotensi masuk ke mata astronaut atau masuk ke bagian mesin kapal luar angkasa, produk ini akhirnya justru populer di Bumi saat diluncurkan kembali sebagai produk ‘astronaut ice cream’.

Misi Makan di Antariksa: Teknologi Pangan di Luar Angkasa
Ilustrasi Astronaut Ice Cream (Sumber: canva.com)

Thermostabilized Foods dan Teknologi Sterilisasi

Makanan termostabilisasi (thermostabilized foods) adalah makanan yang telah disterilisasi dengan panas tinggi agar bisa tahan lama di suhu ruang, tanpa perlu disimpan di kulkas.

Proses ini melibatkan sterilisasi retort, yaitu proses saat makanan dipanaskan dalam kemasan tertutup (seperti kaleng atau pouch) pada suhu tinggi (sekitar 115–121°C) untuk membunuh mikroorganisme berbahaya seperti Clostridium botulinum.

Umumnya, sterilisasi dilakukan untuk produk pangan yang berisiko tinggi karena memiliki pH>4,6 dan aw (aktivitas air) >0,85, sehingga mudah ditumbuhi oleh mikroba.

Proses sterilisasi dilakukan dengan suhu dan waktu panas berbeda tergantung jenis makanan dan mikroba patogen yang ingin dieliminasi.

Makanan yang telah melalui proses ini kemudian akan menjadi ‘steril secara komersial’ dan bisa disimpan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Selain makanan astronaut, makanan hasil sterilisasi juga dapat dijumpai di kehidupan sehari-hari, seperti; makanan siap saji dalam retort pouch, sosis siap makan, susu UHT serta makanan kaleng.

Ilustrasi pangan hasil sterilisasi (Sumber: canva.com)

Food Irradiation: Pengawetan Tanpa Panas

Berkebalikan dari sterilisasi, iradiasi makanan adalah metode pengawetan tanpa proses panas.

Teknologi ini menggunakan radiasi atau pancaran ion dari sumber iradiasi untuk menjaga umur simpan membunuh patogen, mencegah pembusukan, serta memperpanjang umur simpan makanan.

Pada proses iradiasi, makanan diletakkan di atas ban berjalan dan dipaparkan pada dosis radiasi yang terukur (dalam kilogray/kGy), tergantung jenis makanan dan mikroorganisme target.

Radiasi dapat merusak DNA mikroba dan serangga sehingga mereka tidak bisa berkembang biak.

Sumber iradiasi yang banyak digunakan, antara lain iradiasi dengan accelerated electron beams (E-beams), iradiasi gamma dengan radioisotope cobalt – 60 ataupun cessium – 137 serta iradiasi dengan X–ray.

Di antara ketiga metode tersebut, metode iradiasi gamma adalah metode paling banyak digunakan di industri pangan.

Iradiasi terkadang mungkin masih agak terasa ‘asing’ di masyarakat sehingga menimbulkan kekhawatiran apakah pangan iradiasi aman dikonsumsi.

Untuk itu, pangan iradiasi harus melewati serangkaian peraturan atau regulasi yang diatur oleh badan hukum yang bertanggung jawab.

Food and Drugs Admnistration (FDA), atau Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan di Amerika menyatakan iradiasi tidak akan membuat makanan menjadi radioaktif.

Proses ini juga tidak mengurangi kualitas nutrisi, mengubah rasa, tekstur, atau tampilan makanan secara signifikan.

FDA bertanggung jawab untuk mengatur sumber radiasi yang digunakan untuk menyinari makanandan hanya akan menyetujui sumber radiasi tersebut setelah memastikan bahwa penyinaran makanan tersebut aman.

Beberapa contoh produk iradiasi antara lain; buah, sayur, sereal, daging segar, seafood, telur, eempah, makanan siap saji, herbal kering, dan sebagainya.

Ilustrasi pangan hasil iradiasi (Sumber: freepik.com)

 

Menuju Makanan Masa Depan

Misi luar angkasa telah menginspirasi lahirnya berbagai inovasi dalam dunia pangan.

Dari dapur tanpa gravitasi hingga makanan yang awet tanpa bantuan pendinginan atau api, semua dilakukan demi memastikan para astronaut tetap sehat, serta terjaga kecukupan gizinya.

Kini, meskipun fasilitas dapur luar angkasa telah semakin canggih—dilengkapi air panas, lemari pendingin, dan bahkan sistem budidaya tanaman segar—teknologi pangan tetap memainkan peran kunci.

Banyak dari inovasi ini bahkan telah digunakan dalam industri pangan di Bumi, memperluas dampaknya bagi masyarakat luas.

 

Penulis: Nadira Irfana
Mahasiswa Prodi Ilmu Pangan, IPB University

 

Referensi

Dakkumadugula A, Pankaj L, Alqahtani AS, Ullah R, Ercisli S, Murugan R. 2023. Space nutrition and the biochemical changes caused in Astronauts Health due to space flight: A review. Food Chemistry: X. 20(2023). DOI: 10.1016/j.fochx.2023.100875.

Jimenez PS, Bangar SP, Suffern M, Whiteside WS. 2023. Understanding retort processing: A review. Food Science & Nutrition. 12(3):1-19. DOI: 10.1002/fsn3.3912.

Mshelia RD, Dibal NI, Chiroma SM. Food irradiation: an effective but under-utilized technique for food preservations. J Food Sci Technol. 60(10):2517-2525. doi: 10.1007/s13197-022-05564-4.

Raleng A, Huirem B, Subba R, Marak TB, Chanu SN. 2024. Space Food: Evolution, Recent Advances, and its Futuristic Approach. J. Agriculture and Food. 6(7): 265-270. https://www.researchgate.net/publication/381852546_Space_Food_Evolution_Recent_Advances_and_its_Futuristic_Approach. (diakses 28 Mei 2025).

JAXA Japan Aerospace Exploration Agency. 2025. Food in Space. https://humans-in-space.jaxa.jp/en/life/food-in-space/. (diakses 28 Mei 2025).

Prosapio V, Lopez-Quiroga E. Freeze-Drying Technology in Foods. Foods. 2020; 9(7):920. DOI:10.3390/foods9070920.

Teixeira AA. 2019. Thermal Processing for Food Sterilization and Preservation. Di dalam: Kutz M, editor. Handbook of Farm, Dairy and Food Machinery Engineering (Third Edition). Cambridge(CB): Academic Press. hlm 499-523.

[USDA] U.S. Food and Drug Administration. 2024. Food Irradiation: What You Need to Know. https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/food-irradiation-what-you-need-know. (diakses 28 Mei 2025).

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses