Di sebuah desa di Pulau Sumba, seorang ibu tersenyum malu ketika ditanya kapan terakhir kali memeriksakan giginya.
“Belum pernah, Nak,” ujarnya pelan. “Kalau sakit, ya kumur air garam saja.”
Kisah sederhana itu bukan satu-satunya. Di berbagai pelosok negeri, ribuan orang masih menganggap kesehatan gigi bukanlah bagian penting dari hidup sehat.
Mereka lebih mengenal dokter umum daripada dokter gigi; lebih paham pentingnya vaksin daripada pentingnya menjaga kebersihan mulut. Padahal, dari sanalah segalanya bermula dari mulut.
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, tapi ironisnya, banyak dari kita menyembunyikan senyum di balik masalah gigi yang tak terurus.
Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, hanya 10,2% masyarakat Indonesia yang pernah ke dokter gigi dalam setahun terakhir.
Sembilan dari sepuluh sisanya baru datang ketika rasa nyeri sudah tak tertahankan.
Masalahnya bukan hanya di kesadaran masyarakat, tapi juga pada sistem yang belum menempatkan kesehatan gigi sejajar dengan kesehatan tubuh lainnya.
Dokter gigi sering kali bekerja di ruang yang sempit baik secara fisik di puskesmas maupun secara simbolik dalam sistem kesehatan nasional.
Padahal, kesehatan gigi punya hubungan erat dengan penyakit jantung, diabetes, hingga stroke. Infeksi kecil di gusi bisa memicu peradangan sistemik yang berujung pada komplikasi serius.
Tapi sayangnya, pengetahuan ini belum banyak sampai ke masyarakat luas.
Di Balik Putihnya Jas Dokter Gigi, Ada Cerita yang Tak Terlihat
Menjadi dokter gigi di Indonesia bukan sekadar memegang bor dan tambal. Di balik ruang praktik yang steril, ada perjuangan panjang untuk mengubah cara masyarakat memandang kesehatan mulut.
Banyak mahasiswa kedokteran gigi yang turun langsung ke desa, mengajar anak-anak cara menyikat gigi, membagikan dental kit di panti asuhan, hingga membuat program kesehatan mandiri di daerah 3T.
Mereka percaya, senyum sehat harus dimulai dari kesadaran bukan dari rasa sakit.
Namun, idealisme itu sering kali terbentur kenyataan: keterbatasan alat, fasilitas, bahkan jumlah tenaga medis.
Rasio dokter gigi terhadap penduduk Indonesia masih sekitar 1 banding 9.000, jauh dari standar WHO yaitu 1 banding 2.000.
Artinya, jutaan warga Indonesia belum pernah sekalipun tersentuh pelayanan dokter gigi seumur hidup mereka.
Dari “Bor dan Tambal” ke “Cegah dan Rawat”
Kita butuh revolusi kecil — bukan dengan alat, tapi dengan cara berpikir. Kedokteran gigi harus keluar dari paradigma “bor dan tambal” menuju sistem “cegah dan rawat”.
Bayangkan jika setiap posyandu menyediakan edukasi sikat gigi untuk anak-anak. Bayangkan jika BPJS tidak hanya menanggung pencabutan, tapi juga pemeriksaan rutin untuk pencegahan.
Bayangkan jika di setiap kampanye kesehatan nasional, gigi dan mulut menjadi topik utama bukan pelengkap semata.
Langkah-langkah sederhana seperti ini bisa menjadi pondasi transformasi besar dalam
Kesehatan gigi tidak bisa berdiri sendiri. Dokter gigi harus berjalan berdampingan dengan dokter umum, perawat, dan tenaga kesehatan masyarakat.
Sinergi lintas profesi ini penting agar pendekatan kesehatan menjadi holistik karena mulut bukan organ yang terpisah, tetapi gerbang utama tubuh manusia.
Beberapa kampus di Indonesia mulai menerapkan community-based dental education, di mana mahasiswa langsung belajar di lapangan.
Dari kegiatan seperti ini, lahir kesadaran bahwa menjadi dokter gigi bukan hanya soal estetika, tapi juga soal keadilan sosial: memastikan setiap orang, dari kota hingga pelosok, berhak atas senyum yang sehat.
Sudah saatnya kedokteran gigi Indonesia keluar dari bayang-bayang dan berdiri di panggung utama kesehatan nasional.
Senyum yang sehat bukan hanya urusan estetika, melainkan cerminan kualitas hidup.
Dan setiap dokter gigi — dari klinik kecil di desa hingga rumah sakit besar di kota — adalah bagian dari perjuangan besar itu.
Karena di balik setiap senyum pasien, ada cerita tentang dedikasi, ilmu, dan kepedulian.
Dan mungkin, di balik setiap bor dan tambal, tersimpan harapan kecil bahwa bangsa ini suatu hari akan benar-benar memahami “Kesehatan gigi adalah pintu pertama menuju tubuh yang sehat dan bangsa yang kuat”.
Penulis: Florika Nasyamuza
Mahasiswa Prodi Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga
Aktif Juga sebagai Staff Officer Academy Divisi Program Nara Cita
Dosen Pengampu: Siti Nuraini, S.E., M.E.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












