Abstrak
Limbah kulit jeruk Bali (Citrus maxima) di Desa Klampisan selama ini cenderung terabaikan dan hanya menjadi residu organik tanpa nilai guna, padahal potensi tekstur dan aromanya sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi komoditas ekonomi.
Program pengabdian masyarakat melalui kegiatan KKN ini bertujuan untuk mentransformasi limbah tersebut menjadi Inovasi Produk Lokal yang dapat memperkuat sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), serta mengakselerasi pemberdayaan ekonomi warga desa.
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif-eksplanatif dengan metode demonstrasi partisipatif yang dilaksanakan pada 22 Januari 2026 di Balai Desa Klampisan.
Melalui serangkaian proses teknis yang sistematis, limbah Kulit Jeruk Bali berhasil dikonversi menjadi Manisan Kulit Jeruk Bali yang memiliki karakteristik rasa manis-asam yang seimbang, tekstur kenyal, dan profil aroma yang khas.
Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sosialisasi ini efektif dalam meningkatkan literasi keterampilan masyarakat serta menginisiasi peluang usaha berbasis sumber daya lokal yang bersifat ekonomis dan berkelanjutan.
Strategi pengolahan limbah ini tidak hanya memberikan solusi lingkungan, tetapi juga menjadi pemicu kemandirian ekonomi masyarakat Desa Klampisan melalui hilirisasi produk kreatif.
Kata kunci: kulit jeruk Bali, Citrus maxima, manisan kulit jeruk bali, UMKM, inovasi produk lokal.
Abstract
The abundance of Pomelo Peels (Citrus maxima) in Klampisan Village has long been underutilized and regarded merely as organic residue, despite its significant potential to be developed into value-added commodities.
This community service program, conducted through KKN activities, aims to transform this waste into a Local Product Innovation to strengthen the SME sector and accelerate the economic empowerment of rural residents.
This study employs a descriptive-explanatory qualitative approach with a participatory demonstration method, held on January 22, 2026, at the Klampisan Village Hall.
Through a systematic technical process, the Pomelo Peels were successfully converted into Candied Pomelo Peels, featuring a balanced sweet-sour flavor profile, a signature chewy texture, and a distinctive aroma.
The results indicate that this outreach was effective in enhancing community technical literacy and initiating business opportunities based on local resources that are affordable and sustainable.
This waste management strategy provides not only an environmental solution but also serves as a catalyst for the economic independence of the Klampisan community through the downstreaming of creative products.
Keywords: Pomelo peels, Citrus maxima, candied Bali orange peel, SMEs, local product innovation.
Pendahuluan
Desa Klampisan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, merupakan wilayah dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup besar.
Mayoritas Penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perkebunan.
Namun, di tengah potensi tersebut, masih banyak penduduk Desa Klampisan yang tidak bekerja dan memiliki penghasilan yang tetap, khususnya pada kelompok ibu rumah tangga.
Di sisi lain, Desa Klampisan memiliki banyak pohon jeruk Bali yang berpotensi dan dapat dimanfaatkan kulit jeruknya untuk diolah menjadi produk manisan sebagai peluang pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (UMKM) berbasis sumber daya lokal.
Buah ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena memiliki rasa yang khas serta kandungan gizi yang baik bagi kesehatan.
Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada bagian daging buah, sedangkan kulit jeruk Bali umumnya dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Limbah kulit jeruk Bali yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan, seperti bau tidak sedap dan penumpukan sampah organik.
Kulit jeruk Bali (Citrus maxima) merupakan salah satu bagian buah yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal dan seringkali menjadi limbah organik.
Padahal, bagian kulit buah ini diketahui mengandung senyawa bioaktif yang menarik untuk dikembangkan dalam berbagai produk olahan.
Penelitian terbaru menunjukan bahwa kandungan antioksidan pada jeruk Bali berkontribusi dalam menangkal radikal bebas dan berpotensi mendukung kesehatan sistem imun serta metabolisme tubuh (Putri et al.,2021; Zhang et al; 2022; Liu et al; 2023).
Selain daging buahnya, bagian albedo (kulit putih bagian dalam) jeruk Bali juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku manisan.
Bagian ini kaya akan pektin dan serat pangan, namun sering kurang dimanfaatkan karena memiliki rasa pahit yang cukup kuat akibat kandungan senyawa naringin.
Penelitian terbaru menunjukan bahwa proses perendaman dengan air garam, diikuti dengan pemanasan dan perendaman gula bertahap, efektif dalam mengurangi rasa pahit sekaligus memperbaiki tekstur produk akhir (Liu et al., 2023).
Adanya teknik pengolahan yang tepat, albedo jeruk Bali dapat diubah menjadi produk manisan yang memiliki cita rasa khas, tekstur kenyal,serta nilai jual yang lebih tinggi.
Kulit jeruk, termasuk kulit jeruk Bali (Citrus maxima), diketahui mengandung pektin dalam konsentrasi yang relatif tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan sebagai agen pembentuk gel atau pengental.
Pektin merupakan polisakarida yang banyak ditemukan pada lapisan kulit buah jeruk dan telah diteliti secara ekstraktif (Anantami et al., 2023).
Kandungan pektin yang cukup tinggi pada kulit jeruk Bali memungkinkan bahan ini diolah menjadi produk pangan seperti manisan karena pektin dapat membentuk gel atau tekstur kenyal yang khas.
Selain itu, lapisan kulit jeruk juga memiliki aroma alami yang menarik, sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik produk olahan.
Apabila tidak dimanfaatkan, limbah kulit jeruk Bali dapat menumpuk dan menimbulkan permasalahan lingkungan berupa bau serta pembusukan sampah organik.
Pemanfaatan kulit jeruk Bali sebagai bahan baku manisan merupakan salah satu bentuk inovasi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga maupun skala UMKM.
Proses pengolahannya relatif mudah, bahan tambahan yang digunakan sederhana, serta tidak memerlukan teknologi yang kompleks.
Hal ini menjadikan produk manisan kulit jeruk Bali berpotensi dikembangkan sebagai produk lokal unggulan Desa Klampisan, dimana potensi pengembangan UMKM berbasis sumber daya lokal masih dapat dioptimalkan.
Inovasi pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali menjadi manisan dapat menjadi alternatif usaha yang meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus mengurangi limbah organik.
Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan ini juga mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali sebagai inovasi produk lokal UMKM di Desa Klampisan serta mengidentifikasi peluang pengembangannya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Metode
Pemanfaatan kulit jeruk Bali sebagai bahan dasar pembuatan manisan merupakan salah satu inovasi dalam pengolahan limbah hasil perkebunan yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Metode dalam penulisan artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model deskriptif-eksplanatif yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara rinci mengenai pelaksanaan salah satu program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN), yaitu Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk Bali sebagai Inovasi Produk Lokal UMKM Desa Klampisan.
Selain itu, penelitian ini juga menggunakan metode demonstrasi partisipatif, yang diikuti perwakilan ibu-ibu warga Desa Klampisan.
Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengkaji kegiatan pengolahan pangan berbasis pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan sumber daya lokal (Rozy Zarkasih et al., 2024).
Pendekatan ini digunakan untuk menjelaskan tahapan kegiatan secara runtut, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga hasil akhir serta output dan outcome yang dihasilkan dari program kerja tersebut.
Data yang digunakan dalam penulisan artikel ini merupakan data primer yang diperoleh melalui pengalaman langsung dan hasil observasi selama pelaksanaan kegiatan KKN oleh tim pelaksana.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 22 Januari 2026 yang bertepatan di Desa Klampisan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi.
Kegiatan ini dilakukan di Balai Desa Klampisan dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai peserta pelatihan.
Bahan dan Alat
1. Bahan-Bahan
Bahan utama yang digunakan untuk membuat ±500 gram antara lain:
- 1 buah kulit jeruk Bali segar
- 250 gram gula batu
- Air secukupnya (±500 ml)
- Asam sitrat secukupnya (±½ sdt)
2. Alat-Alat
Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan antara lain:
- Wajan ukuran sedang
- Sutil atau spatula
- Saringan
- Baskom
- Pisau
- Talenan
Tahap Pelaksanaan Program
1. Tahap Persiapan dan Pre-Processing Bahan Baku
Pada tahap awal, kulit jeruk Bali (Citrus maxima) dipisahkan dari daging buahnya.
Bagian yang digunakan adalah lapisan albedo (bagian putih kulit yang tebal).
Kulit tersebut dipotong-potong dengan ukuran seragam agar tingkat kematangannya merata, kemudian dilakukan pencucian awal untuk menghilangkan kotoran yang menempel.
2. Tahap Eliminasi Rasa Pahit (Debittering)
Untuk menghasilkan cita rasa yang unggul, dilakukan proses penghilangan zat pahit alami (naringin) melalui dua langkah:
- Blansing: Potongan kulit jeruk direbus dalam air mendidih selama kurang lebih 2 menit untuk melunakkan tekstur dan membuka pori-pori kulit.
- Pencucian Berulang: Setelah ditiriskan, kulit jeruk dicuci kembali sebanyak empat kali dengan air mengalir. Pada tahap ini, kulit diperas secara perlahan namun kuat guna memastikan sisa getah pahit keluar sepenuhnya hingga kadar air dalam pori-pori kulit berkurang signifikan.
3. Tahap Pengolahan dan Karamelisasi
Proses inti dilakukan dengan mencampurkan kulit jeruk yang telah bersih ke dalam wajan.
Ditambahkan gula batu dan air secukupnya sebagai agen pemanis sekaligus pengawet alami.
Proses pemasakan menggunakan teknik slow cooking dengan api kecil sambil diaduk secara konsisten.
Hal ini bertujuan agar larutan gula meresap hingga ke serat terdalam (osmotik) dan menghasilkan tekstur yang kenyal.
4. Tahap Formulasi Rasa dan Pengentalan
Setelah larutan gula meresap, ditambahkan asam sitrat secukupnya untuk memberikan keseimbangan rasa manis-asam serta bertindak sebagai pengatur keasaman (pH) agar manisan lebih tahan lama.
Proses pengadukan terus dilakukan hingga adonan mengental dan mencapai konsistensi yang diinginkan, kemudian diangkat untuk proses pendinginan pada suhu ruang.
5. Tahap Finalisasi, Packaging, dan Labelling
Tahap akhir dari program ini adalah pengemasan. Manisan yang telah dingin dimasukkan ke dalam toples transparan yang steril dan tertutup rapat untuk menjaga higienitas serta kerenyahan tekstur.
Untuk meningkatkan nilai jual dan identitas produk UMKM Desa Klampisan, setiap kemasan diberi label yang menarik sebelum akhirnya produk siap untuk didistribusikan atau dipasarkan secara luas.
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
- Observasi Partisipatif: Mengamati secara langsung potensi limbah kulit jeruk Bali dan kondisi awal UMKM di Desa Klampisan.
- Angket (Kuesioner): Menyebarkan angket kepada warga untuk mengukur tingkat minat, persepsi, dan ketertarikan mereka terhadap inovasi pengolahan manisan.
- Demonstrasi & Dokumentasi: Praktik langsung pembuatan produk bersama warga disertai pengambilan foto kegiatan sebagai data pendukung.
Indikator Keberhasilan Program
Keberhasilan program ini diukur melalui tiga indikator utama, yakni kualitas produk, penguasaan keterampilan warga, dan minat keberlanjutan.
Berdasarkan hasil observasi dan analisis angket, program ini telah memenuhi indikator tersebut dengan tingkat partisipasi aktif warga sebesar 80% dan tingkat kepuasan hasil produk yang sangat baik.
Hasil dan Pembahasan
Desa Klampisan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi memiliki potensi komoditas hortikultura berupa jeruk Bali (Citrus maxima).
Buah ini dikonsumsi masyarakat secara rutin, namun pemanfaatannya masih terbatas pada bagian daging buah, sedangkan kulitnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, kulit jeruk Bali umumnya dibuang sebagai limbah rumah tangga tanpa proses pengolahan lebih lanjut.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan akumulasi sampah organik yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan bau tidak sedap.
Kulit jeruk Bali memiliki potensi besar sebagai bahan baku pangan karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, serat, serta komponen fungsional yang bermanfaat dalam pengolahan makanan.
Kulit jeruk Bali memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.
Pada kulit jeruk Bali terdapat senyawa alkaloid, flavonoid, likopen, vitamin C, serta pektin dan tanin (Rabiatunnisa & Ropiatningsuari, 2025).
Kulit jeruk Bali memiliki berbagai manfaat yang cukup besar.
Ekstrak etanol dari kulit jeruk Bali diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, triterpenoid atau steroid, saponin, serta tanin, yang berperan sebagai antioksidan (Filbert et al., 2023).
Buah jeruk memiliki beragam potensi pemanfaatan.
Baik bagian luar maupun bagian dalam kulit jeruk Bali, khususnya bagian putihnya (albedo), dapat diolah menjadi produk pangan seperti manisan dan permen jelly.
Selain itu, bagian tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengekstraksi kandungan pektin yang terdapat di dalamnya (Munir & Zaimar, 2024).
Berdasarkan potensi tersebut, tim KKN melaksanakan program pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali menjadi manisan sebagai inovasi produk lokal UMKM Desa Klampisan.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui demonstrasi pembuatan manisan yang melibatkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.
Selama pelaksanaan kegiatan, masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Sebelum adanya kegiatan ini, kulit jeruk Bali hanya dibuang sebagai limbah rumah tangga tanpa nilai ekonomi.
Setelah diberikan pelatihan, masyarakat mulai memahami bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai jual.

Program pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali dilaksanakan pada 22 Januari 2026 di Balai Desa Klampisan melalui metode demonstrasi partisipatif.
Pada tahap pertama, mahasiswa menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan sekaligus melakukan percobaan pembuatan manisan dari kulit jeruk Bali.
Percobaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses pembuatan dapat dilakukan dengan peralatan sederhana dan menghasilkan produk yang layak dikonsumsi.
Tahap pelaksanaan dilakukan dengan mengadakan kegiatan demonstrasi pembuatan manisan kulit jeruk Bali kepada masyarakat.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa menjelaskan secara langsung tahap pengolahan, mulai dari pengupasan kulit jeruk, merebus untuk mengurangi rasa pahit, memasak dengan gula, hingga proses pendinginan dan pengemasan.
Proses pembuatan yang sederhana membuat masyarakat mudah memahami dan mengikuti setiap langkah yang disampaikan.

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa manisan kulit jeruk Bali yang dihasilkan memiliki rasa manis dengan sedikit rasa asam yang segar, tekstur cukup kenyal, serta aroma khas jeruk yang masih terasa.
Produk manisan kemudian dikemas menggunakan toples sehingga terlihat lebih rapi dan menarik, serta siap untuk disajikan maupun dijual.
Dari segi rasa dan tampilan, produk ini dinilai cukup baik untuk dikembangkan sebagai olahan pangan skala rumah tangga.
Selain itu, daya terima peserta terhadap produk tergolong positif karena cita rasa yang dihasilkan sesuai dengan preferensi konsumen lokal.
Dengan potensi bahan baku yang melimpah dan proses produksi yang relatif sederhana, manisan kulit jeruk Bali berpeluang menjadi produk inovatif yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan.

Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat setelah kegiatan pelatihan dilaksanakan.
Sebelum program kerja berlangsung, sebagian besar peserta belum mengetahui bahwa kulit jeruk Bali yang selama ini dianggap sebagai limbah rumah tangga dapat diolah menjadi produk pangan berupa manisan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Melalui program kerja ini, peserta memperoleh pemahaman baru mengenai potensi pemanfaatan limbah tersebut sebagai bahan baku olahan bernilai tambah.
Peningkatan ini tidak hanya terlihat pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek keterampilan, di mana peserta mampu mempraktikkan kembali tahapan pembuatan manisan secara mandiri sesuai prosedur yang telah dicontohkan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa metode pelatihan yang digunakan efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, baik dari segi pengetahuan maupun kemampuan teknis dalam pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal.
Aspek peluang ekonomi menjadi salah satu dampak signifikan dari pelaksanaan program ini.
Sebelum program kerja ini dilakukan, masyarakat belum memiliki gagasan usaha yang memanfaatkan limbah kulit jeruk Bali sebagai produk bernilai tambah.
Namun, setelah mengikuti pelatihan dan praktik langsung, muncul inisiatif untuk mengembangkan manisan kulit jeruk Bali sebagai produk UMKM lokal yang potensial.
Produk tersebut berpeluang dipasarkan dalam skala kecil melalui pasar tradisional setempat, serta dikembangkan lebih lanjut untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui pemanfaatan platform pemasaran digital (Zarkasih et al., 2025).
Keunggulan produk ini terletak pada ketersediaan bahan baku yang melimpah dan mudah diperoleh, biaya produksi yang relatif rendah, serta proses pengolahan yang sederhana tanpa memerlukan teknologi yang kompleks.
Adanya dukungan pengemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat, manisan kulit jeruk Bali berpotensi menjadi produk unggulan desa yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Berdasarkan diagram tersebut, terlihat bahwa mayoritas responden memiliki keinginan untuk melanjutkan usaha manisan kulit jeruk Bali.
Dari 30 responden yang terlibat, sebanyak 80% menyatakan bersedia mengembangkan usaha tersebut.
Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Klampisan cukup antusias untuk menjadikan manisan kulit jeruk Bali sebagai salah satu produk UMKM yang berpotensi dikembangkan di desa.
Di sisi lain, 13% responden masih merasa ragu-ragu, sedangkan 7% responden menyatakan tidak bersedia.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali sebagai produk olahan memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan sebagai usaha yang dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa melalui kegiatan UMKM (Nurina et al., 2024).
Secara keseluruhan, kegiatan program kerja pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali sebagai manisan yang dilaksanakan dalam program kerja kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah organik secara produktif.
Inovasi sederhana yang diperkenalkan tidak hanya berkontribusi pada pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Klampisan melalui pengembangan usaha berbasis potensi lokal UMKM.
Kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat dalam pelaksanaan program menunjukkan bahwa kegiatan KKN dapat menjadi penggerak perubahan sosial dan ekonomi di tingkat desa dengan adanya pendampingan lanjutan dan manajemen usaha dan pemasaran.
Kesimpulan
Pemanfaatan limbah kulit jeruk Bali (Citrus maxima) menjadi produk manisan di Desa Klampisan terbukti merupakan langkah inovatif yang strategis dalam mentransformasi residu organik menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Melalui penerapan metode kualitatif deskriptif-eksplanatif yang dipadukan dengan demonstrasi partisipatif selama masa KKN, program ini secara signifikan telah mengonversi keterbatasan pengetahuan masyarakat menjadi sebuah keterampilan teknis yang aplikatif.
Keberhasilan program ini terukur dari kemampuan warga dalam menguasai teknik pengolahan, mulai dari eliminasi rasa pahit (debittering) hingga proses kristalisasi gula yang menghasilkan manisan dengan profil organoleptik yang unggul—memiliki keseimbangan rasa manis-asam, tekstur kenyal, serta aroma khas yang terjaga.
Ketersediaan bahan baku yang melimpah secara musiman di Desa Klampisan, ditambah dengan struktur biaya produksi yang rendah, memposisikan produk ini sebagai peluang usaha mikro yang sangat menjanjikan.
Secara sistemik, inisiatif ini tidak hanya berfungsi sebagai stimulus penguatan ekonomi keluarga melalui diversifikasi produk UMKM, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam manajemen limbah yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Kesinambungan program ini di masa depan akan sangat bergantung pada pendampingan intensif, terutama dalam standarisasi mutu produk, desain pengemasan yang kompetitif, serta perluasan akses pasar digital.
Jika dikelola secara profesional, manisan kulit jeruk Bali memiliki prospek kuat untuk ditetapkan sebagai produk unggulan daerah (One Village One Product) yang mampu menggerakkan roda kesejahteraan masyarakat Desa Klampisan secara jangka panjang.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
- Universitas Sebelas Maret (UNS), atas dukungan pendanaan serta kesempatan yang diberikan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
- Dr. Anita Zulfiani, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Lapangan, atas bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berharga selama proses penelitian hingga penyusunan artikel ini.
- Rekan-rekan KKN UNS Kelompok 96 Desa Klampisan: Olivia Hanum Fatmasari, Ronaldo Maria Pereira Alves, Lyvia Zahrani, Atiatu Kiky Lu`lu`a, Evani Chilvi Almaisyaroh, Maria Ananda Titis Maylani, Nabilla Rasya Crishanty, Siti Latifah, dan Reza Johan Tribuana. Terima kasih atas kerja keras, dedikasi, dan kerja sama tim yang luar biasa selama pelaksanaan program di lapangan.
Semoga bantuan dan kerja sama yang telah diberikan menjadi amal kebaikan dan bermanfaat bagi kemajuan Desa Klampisan.
Penulis: Evani Chilvi Almaisyaroh
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret
Dosen Pengampu: Dr. Anita Zulfiani S.H., M.Hum., CLA
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Anantami, R., Pratiwi, D., & Nugraheni, M. (2023). Ekstraksi dan karakterisasi pektin dari kulit jeruk Bali (Citrus maxima) sebagai bahan pengental alami. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 34(1), 15–23. https://doi.org/10.6066/jtip.2023.34.1.15
- Filbert, K., Wijaya, S., Budi, A., Napolin, A., Tobing, L., Kedokteran, F., & Gigi, K. (2023). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Jeruk Bali (Citrus Maxima Pericarpium) Terhadap Pseudomonas Aeruginosa Dan Enterococcus Faecalis. Jambura Journal Of Health Science And Research, 5(1), 51-58. https://doi.org/10.29303/jbt.v25i4.10189
- Liu, Y., Chen, H., Zhang, M., & Wang, X. (2023). Effect of osmotic dehydration and sugar concentration on physicochemical and sensory properties of pomelo peel candied products. Journal of Food Processing and Preservation, 47(2), e16789. https://doi.org/10.3390/ani12223216.
- Munir, N. F., & Zaimar, Z. (2024, December). Pemberdayaan Masyarakat melalui Diversifikasi Olahan Kulit Jeruk Pamelo di Desa Alesipitto Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkep. In Prosiding Seminar Nasional Politeknik Pertanian Negeri Pang kajene Kepulauan (Vol. 5, pp. 407-412). https://doi.org/10.51978/proppnp.v5i0.568
- Nabilla, C. T., Aditya, D., Pinanta, R., Astuti, S., & Nova, G. D. A. (2026). Memanfaatkan Limbah Jeruk Bali jadi Permen Jelly yang Bernilai Jual di Desa Battu Winangun. Solusi Bersama: Jurnal Pengabdian dan Kesejahteraan Masyarakat, 3(1), 25-37. https://doi.org/10.62951/solusibersama.v3i1.2988
- Nurina, L., Magisa, N. S., Ekobelawati, F., Iswanto, I., & Ishak, I. (2024). Pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) berbasis digital. Journal of Human and Education, 4(6), 1–7. https://doi.org/10.31004/jh.v4i6.1751
- Putra, P. P., Salman, S., & Rustini, R. (2023). Edukasi dan pembuatan produk eco enzyme dari limbah kulit jeruk di Kelurahan Limau Manis Kota Padang. Warta Pengabdian Andalas, 30(1), 33–39. https://doi.org/10.25077/jwa.30.1.33-39.2023
- Putri, A. R., Widyastuti, N., & Hapsari, R. (2021). Antioxidant activity and phytochemical content of pomelo (Citrus maxima) from Indonesia. International Journal of Food Science, 2021, 8854321. https://doi.org/10.1155/2021/8854321
- Rabiatunnisa, A., & Ropiatningsuari, N. (2025). Pengolahan Limbah Kulit Jeruk Bali (Citru Grandis L. Osbeck) Menjadi Selai. Elumme: Journal of Students Journal, 3(2 (Desember)). https://elumme.sayangibu.sch.id/index.php/elumme/article/view/81
- Rozy Zarkasih, M. I., Resmayanti, R., Handayani, R., Septiandani, R., Saputra, I., et al. (2024). Peningkatan keterampilan masyarakat desa melalui pemanfaatan kulit jeruk Bali menjadi produk manisan. Jurnal Wicara, 3(1), 1–12. https://doi.org/10.29303/wicara.v3i1.6728
- Suryanita, S., Aliyah, A., Djabir, Y. Y., Wahyudin, E., Rahman, L., & Yulianty, R. (2019). Identifikasi Senyawa Kimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Jeruk Bali (Citrus maxima Merr.). Majalah Farmasi dan Farmakologi, 23(1), 16-20. https://doi.org/10.20956/mff.v23i1.6461
- Yuhono, T., Faturrahman, M., & Bintang, M., et al. (2023). Pembuatan manisan kering dari pepaya (Carica papaya L.) sebagai pemberdayaan PKK di Kampung Banjar Masin, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan. Laporan Upaya Nyata Inovasi Ilmu Komputer, 1(01), 17–22. https://doi.org/10.23960/lunik.v1i01.5
- Zarkasih, M. I. R., Resmayanti, R., Handayani, R., Septiandani, R. S., Saputra, I., Aini, K., … & Muthahanas, I. (2025). PENINGKATKAN KETERAMPILAN MASYARAKAT DESA JERUK MANIS MELALUI PEMANFAATAN KULIT JERUK Bali MENJADI PRODUK MANISAN. Jurnal Wicara Desa, 3(1), 102-108. https://doi.org/10.29303/wicara.v3i1.6728
- Zhang, L., Zhao, J., Li, Q., & Sun, Y. (2022). Bioactive compounds and health-promoting properties of pomelo (Citrus maxima): A review. Food Chemistry Advances, 1, 100012. https://doi.org/10.3390/ani12223216.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













