Pengalaman Magang Mandiri Mahasiswa Fisika UPN ”Veteran” Jawa Timur di Radioterapi dan Radiologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo

Fisika Medis
Kegiatan Magang Mahasiswa (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sidoarjo – Perkenalkan nama saya Stivvia Putri Pridanis mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur program studi Fisika yang telah melaksanakan magang di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo merupakan salah satu rumah sakit umum daerah kelas A pendidikan milih pemerintah daerah Kabupaten Sidoarjo, yang telah menerapkan pola pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Saya menjalani kegiatan magang mandiri pada instalasi Radioterapi selama 3 bulan dan pada instalasi Radiologi selama 1 bulan. Program magang mandiri saya dilaksanakan mulai 5 Januari hingga 9 Mei 2026.

Pelaksanaan magang mandiri saya didamping dengan dosen pembimbing yaitu Bapak Fajar Timur, M.Si dan pembimbing lapangan instalasi Radiologi yaitu Bapak Ahmad Mujahid Faizudin, A.Md. Rad, serta pembimbing lapangan instalasi Radioterapi yaitu Ibu Vivin Fashihatil Harfiyyah, M.Si.

Dalam upaya peningkatan kemampuan pada bidang fisika medis, saya menjalani magang di dua instalasi (Radiologi dan Radioterapi) RSUD R.T.Notopuro Sidoarjo. Tujuan dari kegiatan magang mandiri ini untuk memberikan pengalaman kepada saya selaku mahasiswa yang sedang menjalankan studi “Fisika”, terutama dalam perencanaan dosis pada terapi kanker dan bagaimana melakukan perawatan pada alat untuk memastikan keamanan pada pasien.

Meningkatnya potensi kanker di Indonesia telah menjadikan peran fisika medis sangat penting pada sebuah rumah sakit untuk dapat membantu memberikan strategi yang efektif dan optimal untuk pengobatan pasien.

Selama menjalani kegiatan magang saya telah belajar berbagai hal di instalasi Radiologi dan Radioterapi. Selama di instalasi Radioterapi saya mengenal 2 alat yaitu Linear Accelerator (LINAC) dan Brakiterapi. LINAC merupakan alat yang digunakan untuk pengobatan kanker, LINAC menghasilkan sinar-X yang berenergi tinggi.

Saya juga mempelajari bagaimana cara Quality Control dosis absolute pada LINAC untuk menjamin keamanan dan akurasi terapi pada pasien, saya juga diajarkan untuk melakukan Patient Spesific Quality Assurance (PSQA) untuk memverifikasi akurasi dosis radiasi yang telah direncanakan sebelum diberikan pada pasien.

Di sana saya juga mempelajari beberapa hal pada alat Brakiterapi, di mana Brakiterapi sendiri merupakan jenis pengobatan kanker dengan menempatkan sumber radioaktif secara langsung di dalam maupun di dekat kanker. Metode pengobatan ini akan menghantarkan dosis radiasi tinggi secara presisi dan meminimalisir paparan pada organ yang sehat.

Brakiterapi yang ada di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo menggunakan sumber Cobalt-60 yang memancarkan radiasi gamma berenergi tinggi dan memiliki waktu paruh 5 tahun.

Saya mempelajari bagaimana melakukan Quality Assurance (QA) harian, dengan tujuan untuk memeriksa lampu indikator paparan sumber di dalam ruangan, memastikan CCTV dan mikrofon berfungsi dengan baik, memastikan sensor pada pintu berfungsi dengan baik, jika pintu terbuka maka Brakiterapi tidak memancarkan radiasi begitupun sebaliknya, jika pintu tertutup maka Brakiterapi akan memancarkan sumber sesuai dengan planning fisika medis.

Pada instalasi Radiologi saya dikenalkan dengan beberapa alat seperti CT Scan, Mammografi, Radigrafi Konvensional dan Ultrasonografi (USG), peneliti juga diajarkan QC harian pada alat Radiografi Konvensional, Mammografi dan CT Scan serta beberapa uji, seperti Uji kebocoran tabung dan uji paparan.

Uji kebocoran tabung sinar-X dilakukan untuk menjamin keselamatan bagi pasien, pekerja radiasi dan masyarakat sekitar, dari uji ini akan dihasilkan beberapa data yang akan diakumulasikan sehingga dapat dipastikan tidak ada radiasi bocor yang melebihi batas aman.

Selanjutnya uji paparan radiasi dilakukan oleh fisika medis sebagai upaya untuk mengukur tingkat radiasi yang ada di lingkungan kerja untuk memastikan keamanan pasien, operator alat serta masyarakat sekitar agar tidak terpapar melebihi Nilai Batas Dosis (NBD) yang telah di tetapkan oleh BAPETEN.

Selama menjalani program magang saya dapat berinteraksi dengan fisikawan medis pada dua instalasi tersebut, saya juga berinteraksi dengan dokter spesialis onkologi dan perawat yang ada di kedua instalasi. Pengalaman magang mandiri saya selama 4 bulan membantu saya untuk mengetahui peran fisikawan medis dalam lingkup rumah sakit dan membantu peneliti untuk melihat kesulitan yang ada di dunia pekerjaan.

Dengan meningkatnya pengetahuan serta keterampilan yang telah saya dapatkan melakukan magang mandiri ini, saya berharap dapat membantu untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta dapat menekan angka kematian akibat penyakit berbahaya seperti tumor dan kanker.

Melalui pengalaman magang ini saya juga dapat membentuk karakter sebagai tenaga kerja profesional yang memiliki etika kerja, kemampuan berkomunikasi yang baik serta kerja sama yang baik dalam bidang medis. Semua pengalaman yang telah saya peroleh akan menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja dan memiliki kontribusi besar dalam pelayanan kesehatan.

 


Penulis: Stivvia Putri Pridanis
Mahasiswa Fisika, UPN Veteran Jawa Timur 


Dosen Pengampu: Fajar Timur, M.Si


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses