Pengalaman Pertama Bersama Growmates Mengajar Anak-Anak TPA Antang

Relawan Mengajar
Foto Komunitas Growmates bersama Anak-Anak TPA Tamangapa Antang di Rumah Belajar Setara (Sumber: Penulis)

Di balik sampah yang menguar, berdiri sebuah rumah belajar.

Anak-anak tampak asyik mendengarkan sambil sesekali mengangkat tangan untuk berceletuk cerdas. Bernyanyi riang tentang proses hujan sambil berlomba siapa paling keras. Menghiraukan bau, demi ilmu.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Potret di atas adalah yang saya dapati ketika menyambangi TPA Tamangapa Antang, Kota Makassar pada 25 Agustus 2024. Saya bersama komunitas Growmates menjadi relawan pendamping ajar di Rumah Belajar Setara selama tiga hari setiap hari Minggu.

Tugas saya sebagai relawan adalah untuk membantu anak-anak di TPA Antang untuk belajar. Saya tidak sendiri, saya ditemani dengan sepuluh relawan lain.

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, penting untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Tidak peduli jenis kelamin atau latar belakang ekonominya, harus mendapat pendidikan yang layak dan setara.

Namun, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat persentase penduduk yang tidak tamat SD dan yang belum pernah sekolah masih cukup tinggi, yaitu masing-masing sebesar 9,01% dan 3,25%.

Sementara, sebesar 0,68% tidak sekolah menurut jenjang SD bagi anak laki-lagi dan 0,66% bagi anak perempuan. Data ini menunjukkan bahwa masih ada anak-anak yang harus putus sekolah karena faktor ekonomi.

Baca Juga: Ketimpangan Sosial dalam Akses Pendidikan pada Daerah Pedesaan

Itulah sebabnya, komunitas sosial ambil alih sebagai wadah alternatif untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia, terkhusus kelompok marginal.

Growmates misalnya, merupakan komunitas yang berfokus pada SDGs nomor 4 dan 5 di Makassar. SDGs nomor 4 adalah tujuan pembangunan berkelanjutan untuk pendidikan berkualitas, sementara SDGs nomor 5 mengenai kesetaraan gender bagi perempuan dan anak perempuan.

Itulah alasan mengapa saya tertarik bergabung dalam program Growmates pada Agustus lalu. Selain itu pendirinya adalah sesama mahasiswa Universitas Hasanuddin, Naila Azzahra, sehingga tidak asing bagi saya.

Awal mengenal Growmates dari salah-satu teman yang membagikan tangkapan layar unggahan open recruitment. Saya segera mendaftarkan diri, toh ini kan baru awal semester, jadi tidak sibuk-sibuk amat. Pikirku kala itu.

Proses seleksi harus melewati wawancara secara daring, meski awalnya cemas, alhamdulillah saya berhasil lolos. Ini bukan pertama kalinya saya ke sekolah untuk berinteraksi dengan anak-anak, tetapi ini pertama kalinya saya harus berinteraksi secara intens.

Hari pertama terdiri dari lima kegiatan. Masing-masing rencananya berlangsung selama 25 menit jika tanpa kendala.

Kegiatan-kegiatan tersebut ialah pembukaan untuk bonding, penyampaian aturan kelas, roleplay berisi cerita edukatif, mencari harta karun, dan refleksi sebagai evaluasi harian.

Setiap siswa yang aktif berpartisipasi akan mendapatkan bintang dan pengurangan bintang bagi pelanggar aturan kelas.

Baca Juga: Akankah Kurikulum Sekolah Penggerak Dapat Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia?

Sebagai seseorang dengan baterai sosial kembung, 25 menit pertama terasa sangat melelahkan. Di situ pula saya mengamati beragam karakteristik anak-anak yang ada. Anak yang saya pegang sulit untuk terbuka dan tidak terlalu aktif dalam menjawab pertanyaan dalam kegiatan roleplay.

Namun, dia menjadi aktif di sesi bermain scavenger hunt, mencari harta karun. Di sesi terakhir untunglah rekan saya dapat mendampinginya sebentar untuk kegiatan refleksi.

Dia lebih banyak bicara, entah karena sudah terbiasa dengan kehadiran kami atau rekan saya itu lebih mahir, tetapi saya jadi lebih banyak belajar untuk menangani anak-anak.

Andi Nailah Isna Maghfirah

Saya membantu anak perempuan tersebut untuk menulis karena masih kesulitan mengeja selama sesi evaluasi. Ia juga meminta digambarkan dirinya di papan nama.

Untunglah dengan kemampuan menggambar yang sudah karatan lima tahun, saya dapat membantunya untuk menggambar berbagai bentuk.

Ada pula satu anak laki-laki yang menjadi “pentolan” di antara teman satu gengnya. Ia sering berceletuk di sela-sela penjelasan kelas, meski begitu ia termasuk ke dalam siswa yang cerdas. Ia sangat aktif menjawab hingga mendapat bintang bagi kelompoknya. Anak tersebut jugalah yang semakin memeriahkan suasana kelas.

Baca Juga: Komunikasi Interpersonal: Terhubung dengan Hati dan Pikiran

Banyak hal yang saya dapati di hari pertama, salah-satunya ialah mengetahui ada seorang anak yang belum bisa membaca meski sudah kelas 6 SD. Kemampuan belajarnya baru meningkat setelah mengikuti kegiatan Rumah Belajar Setara.

Namun, ini menjadi miris karena meski kuantitas anak-anak yang mengenyam pendidikan di Indonesia sudah cukup tinggi, rupanya segi kualitas masih perlu ditingkatkan.

Tanggal 31 Agustus 2024, hari kedua, terjadi tragedi yang sangat mengiris. Dilansir dari detikcom, sehari sebelumnya terjadi kebakaran besar di TPA Antang yang menghanguskan 20 rumah.

Ditambah lagi saya memiliki kendala dan tidak dapat hadir di hari tersebut untuk menemani anak-anak belajar. Menurut rekan saya, meskipun siswa yang datang berkurang, tetapi semangat mereka begitu besar selama kegiatan.

Sementara itu, tanggal 8 September merupakan hari terakhir kegiatan relawan dan menjadi hari mengharukan bagi rekan-rekan Growmates saya.

Pada sesi Art Exhibition, anak- anak menampilkan gambar berisi ilustrasi cita-cita mereka kepada orang tua. Seorang anak perempuan meneteskan air mata selagi menjelaskan cita-citanya untuk menjadi polwan. Ia berlari ke pelukan sang ibu ketika selesai.

Baca Juga: Mahasiswa FMIPA UI Berbagi Ilmu dan Inspirasi melalui Program Mengajar di Panti Asuhan

Kegiatan lain adalah pemberian hadiah dan foto bersama. Orang tua dengan haru menyampaikan ucapan terima kasih kepada kami. Ada pula anak-anak yang menangis sampai memeluk kaki rekan teman saya karena tidak ingin berpisah.

Meskipun hari yang dilewati singkat, tetapi kesannya membekas untuk kami semua. Secara pribadi, ini juga menjadi pengalaman berharga bagi saya untuk dapat menjadi relawan ajar di TPA Antang.

 

Penulis: Andi Nailah Isna Maghfirah

Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses