Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara masyarakat memandang dunia, termasuk dalam hal hubungan dan pernikahan. Salah satu topik yang sering muncul dalam berbagai pemberitaan, film, maupun media sosial adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Konten semacam ini tidak hanya berfungsi memberikan informasi, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap hubungan pernikahan. Generasi Z, yang sangat aktif menggunakan media digital, terus terpapar berbagai narasi negatif tentang kehidupan rumah tangga.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa paparan berlebihan terhadap konten kekerasan dapat mengurangi kepercayaan terhadap institusi pernikahan. Banyak dari mereka mulai melihat pernikahan sebagai komitmen yang berisiko tinggi, yang dapat menimbulkan ketidaksetaraan, konflik, bahkan kekerasan emosional dan fisik.
Media yang menampilkan kekerasan dalam rumah tangga berpengaruh besar terhadap keputusan Generasi Z untuk menunda pernikahan, karena paparan tersebut membentuk pandangan negatif terhadap hubungan jangka panjang, menurunkan kepercayaan interpersonal, serta mengubah pemahaman mereka tentang arti dan makna pernikahan.
Rahmawati (2023) dalam Sahaja: Jurnal Kajian Gender dan Sosial menjelaskan bahwa pemberitaan tentang KDRT sering kali disajikan secara emosional dan sensasional, sehingga menimbulkan ketakutan serta stigma negatif terhadap kehidupan berumah tangga.
Ketika kekerasan ditampilkan seolah menjadi hal yang umum terjadi dalam hubungan domestik, masyarakat, terutama kalangan muda akan cenderung memandang pernikahan sebagai sumber penderitaan dan dominasi antarjenis kelamin.
Selain itu, algoritma media sosial juga memperbesar kemungkinan seseorang terpapar konten mengenai KDRT. Hal ini menyebabkan generasi muda yang aktif mencari informasi sosial menjadi lebih rentan menganggap bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar dalam pernikahan, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Representasi yang tidak seimbang ini justru memperkuat rasa takut dan keraguan generasi muda terhadap pernikahan sebagai lembaga yang aman dan harmonis.
Paparan yang terus-menerus terhadap kasus kekerasan rumah tangga juga dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang.
Smith et al. (2025) dalam Journal of Family Violence menemukan bahwa individu yang sering menyaksikan atau membaca berita tentang KDRT cenderung mengalami peningkatan kecemasan terhadap hubungan romantis dan memandang pernikahan secara negatif.
Representasi kekerasan dalam rumah tangga di media membentuk pola berpikir berbasis ketakutan (fear-based cognition), di mana individu lebih berfokus pada risiko daripada pada manfaat positif dari sebuah hubungan.
Kondisi ini dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mempercayai orang lain, membuat banyak anggota Generasi Z menjadi lebih berhati-hati bahkan curiga terhadap hubungan yang menuntut komitmen jangka panjang.
Akibatnya, menunda pernikahan dianggap sebagai bentuk perlindungan diri dari potensi konflik dan kekerasan yang mereka bayangkan akan terjadi di masa depan.
Lebih jauh lagi, Hameleers dan van der Meer (2022) dalam Journalism Studies menjelaskan bahwa cara media membingkai isu sosial dapat memengaruhi cara masyarakat menilai lembaga-lembaga sosial seperti keluarga dan pernikahan.
Ketika media lebih sering menyoroti sisi negatif kehidupan rumah tangga dibandingkan dengan kisah yang berhasil, hal ini menimbulkan kebingungan dan sikap ambivalen di kalangan generasi muda.
Generasi Z kini memandang pernikahan bukan lagi sebagai kewajiban sosial atau tuntutan agama, melainkan sebagai pilihan pribadi yang memerlukan kesiapan emosional dan finansial.
Zillmann et al. (2021) dalam Media Psychology Review juga menemukan bahwa paparan kekerasan interpersonal di media dapat menurunkan rasa percaya terhadap cinta dan menumbuhkan sikap skeptis terhadap hubungan romantis.
Akibatnya, Generasi Z lebih memilih untuk fokus pada pengembangan diri dan karier, serta menunda komitmen hingga merasa cukup siap secara psikologis.
Perubahan nilai ini menunjukkan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu menggeser cara generasi muda memandang hubungan antarmanusia dan struktur keluarga.
Kesimpulan
Berdasarkan berbagai penelitian dan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa eksposur media terhadap kekerasan rumah tangga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara Generasi Z memandang dan mengambil keputusan terkait pernikahan.
Representasi kekerasan yang berulang di media menimbulkan ketakutan, menurunkan kepercayaan terhadap hubungan interpersonal, serta mengubah nilai-nilai sosial yang sebelumnya melekat kuat dalam budaya pernikahan.
Generasi Z cenderung menunda pernikahan bukan karena menolak konsep cinta atau keluarga, melainkan karena mereka ingin menghindari risiko yang sering ditampilkan dalam media sebagai konsekuensi dari hubungan rumah tangga yang tidak sehat.
Oleh karena itu, penting bagi media untuk menampilkan isu kekerasan rumah tangga secara lebih berimbang, tidak hanya menyoroti sisi gelap dan emosionalnya, tetapi juga memberikan ruang bagi narasi positif seperti upaya penyembuhan, edukasi, kesetaraan gender, dan strategi membangun hubungan yang sehat.
Baca Juga: Budaya Patriarki dan Ketakutan Psikologis Generasi Z untuk Menunda Pernikahan
Pemberitaan yang konstruktif akan membantu masyarakat memahami bahwa kekerasan bukanlah bagian tak terpisahkan dari pernikahan, melainkan masalah sosial yang dapat dicegah dan diatasi bersama.
Selain itu, peningkatan literasi media di kalangan Generasi Z juga sangat dibutuhkan agar mereka mampu menafsirkan informasi secara kritis dan tidak terjebak dalam persepsi negatif yang diciptakan oleh algoritma media digital.
Dengan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran terhadap bias media, generasi muda dapat menumbuhkan pandangan yang lebih seimbang tentang hubungan dan pernikahan.
Dengan demikian, media dapat berfungsi bukan sebagai sumber ketakutan terhadap komitmen, melainkan sebagai sarana edukatif yang membantu masyarakat membangun hubungan yang lebih sehat, setara, dan berlandaskan rasa saling menghargai.
Penulis: Nur Aufa Hermasyawilla (G1C124074)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Rahmawati, N. (2023). Representasi Kekerasan Rumah Tangga dalam Media dan Dampaknya terhadap Persepsi Generasi Muda. Sahaja: Jurnal Kajian Gender dan Sosial, Universitas Darunnajah. https://ejournal.darunnajah.ac.id/index.php/sahaja/article/view/403
Smith, A., et al. (2025). Media Exposure and Young Adults’ Fear of Intimate Partner Violence. Journal of Family Violence. https://doi.org/10.1007/s10896-025-00906-0
Hameleers, M., & van der Meer, T. (2022). Media Framing and Public Trust in Institutions: The Case of Family and Gender Narratives. Journalism Studies. https://doi.org/10.1080/17512786.2022.2037452
Zillmann, D., et al. (2021). Media Exposure, Interpersonal Trust, and Romantic Skepticism in Digital Generations. Media Psychology Review. https://doi.org/10.1007/s12147-021-09284-5
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












