Ketidakstabilan Finansial sebagai Faktor Utama yang Membuat Generasi Z Menunda Pernikahan: Solusi melalui Literasi Finansial

Pernikahan, yang dahulu dianggap sebagai tahap penting dalam kehidupan, saat ini semakin sering ditunda oleh Generasi Z di Indonesia. Generasi ini umumnya lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di era digital dan menghadapi tantangan sosial-ekonomi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa jumlah pernikahan menurun dari 2,21 juta pada tahun 2013 menjadi 1,58 juta pada tahun 2023, menegaskan adanya tren penurunan tingkat pernikahan di kalangan generasi muda.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Salah satu penyebab utama adalah ketidakstabilan finansial, yang mencakup tekanan biaya hidup yang tinggi, ketidakpastian pekerjaan, serta kebutuhan untuk mencapai kemandirian finansial pribadi sebelum membangun rumah tangga.

Banyak Generasi Z merasa belum siap secara ekonomi untuk menghadapi tanggung jawab finansial yang melekat pada pernikahan, sehingga mereka memilih menunda keputusan ini hingga kondisi keuangan lebih aman dan stabil.

Berdasarkan Penelitian yang dilaksanakan oleh Ramadhan, Sukmayanti, Perdana, & Rukmana (2025) menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia tidak menolak pernikahan, tetapi cenderung menundanya, salah satunya karena pertimbangan kesiapan finansial.

Untuk memperjelas peran faktor finansial, penelitian oleh Herliana Riska dkk. (2023) menunjukkan bahwa 64,8% Generasi Z menunda pernikahan hingga mencapai kestabilan finansial melalui karier atau pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa ketidakstabilan finansial merupakan faktor dominan dalam penundaan pernikahan.

Oleh karena itu, penulis sepakat bahwa ketidakstabilan finansial merupakan faktor utama yang membuat Generasi Z menunda pernikahan, menunjukkan pentingnya tercapainya stabilitas ekonomi bagi generasi muda sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Esai ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai keterkaitan antara aspek ekonomi dan keputusan sosial dalam konteks pernikahan, serta menekankan pentingnya peningkatan literasi finansial sebagai langkah solutif bagi Generasi Z di era modern.

Baca juga: Angka Pernikahan di Ambang Kemunduran: Apakah Pernikahan Masih Penting di Era Digital?

Salah satu penyebab paling nyata ketidakstabilan finansial Generasi Z adalah meningkatnya biaya hidup. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara kenaikan upah tidak sebanding dengan laju inflasi. Generasi Z kini hidup di tengah realitas ekonomi yang membuat mereka harus bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Berdasarkan survei dari IDN Research Institute (2024), sebanyak 63% responden Generasi Z mengaku menunda pernikahan karena tekanan biaya hidup dan perencanaan finansial yang belum matang.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Maslow Hierarchy of Needs yang menekankan bahwa individu akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan makan atau tempat tinggal (physiology) serta kebutuhan akan stabilitas ekonomi dan keamanan hidup (safety needs) sebelum beralih ke kebutuhan tingkat lebih tinggi seperti kasih sayang dan komitmen jangka panjang.

Selain itu, budaya konsumtif di kalangan muda turut memperberat beban finansial. Keinginan untuk mengikuti tren gaya hidup modern seperti nongkrong di kafe atau membeli barang-barang lifestyle membuat kesulitan menabung. Mereka akhirnya merasa belum siap menanggung biaya besar untuk membangun rumah tangga.

Survei Populix (2025) bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar Generasi Z baru merasa siap menikah pada usia 28–30 tahun, ketika kondisi ekonomi pribadi dianggap lebih stabil. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pernikahan kini tidak hanya dihadapkan pada urusan emosional, tetapi juga pada pertimbangan ekonomi yang kompleks dan rasional.

Sementara itu di sisi lain ketidakstabilan finansial akibat kondisi pekerjaan juga menjadi faktor signifikan. Banyak Generasi Z bekerja di sektor freelance atau kontrak jangka pendek, yang menyebabkan pendapatan tidak menentu dan berujung pada ketidakstabilan finansial.

Rubin, Chen, & Tung (2024) menyoroti bahwa kondisi finansial yang tidak stabil ini membuat Gen Z ragu mengambil keputusan jangka panjang seperti menikah. Bagi banyak anak muda, karier dianggap sebagai pondasi utama untuk membangun kehidupan rumah tangga.

Namun, persaingan dunia kerja yang ketat dan sulitnya mendapatkan posisi dengan penghasilan tetap membuat sebagian besar dari mereka menunda langkah menuju pernikahan hingga mereka merasa “cukup aman” secara ekonomi. Dengan kata lain, stabilitas karier menjadi prasyarat penting sebelum seseorang berani berkomitmen secara finansial terhadap keluarga baru yang akan dibangun.

Selain itu, Generasi Z yang termasuk sandwich generation menghadapi tekanan finansial ganda. Mereka harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus mempersiapkan masa depan keluarga sendiri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harahap & Tantiani (2023), pasangan dalam generasi sandwich dapat menghadapi tantangan dalam mengelola tanggung jawab finansial, yang berdampak pada kepuasan hidup dan keputusan penting dalam keluarga, termasuk pernikahan.

Fenomena ini dapat dipahami melalui teori role strain yang dikemukakan oleh Goode (1960). Teori ini menjelaskan bahwa individu yang memegang banyak peran sosial yang saling bertentangan, seperti sebagai anak yang mendukung orang tua sekaligus sebagai calon kepala keluarga, akan mengalami ketegangan yang memengaruhi kesejahteraan psikologis dan pengambilan keputusan mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa keputusan menunda pernikahan bukan berarti menghindari komitmen, tetapi justru bentuk tanggung jawab. Mereka ingin memastikan bahwa ketika menikah nanti, mereka bisa menjadi pasangan yang siap secara finansial dan emosional untuk menjalani kehidupan keluarga yang sehat dan stabil.

Fenomena penundaan pernikahan di kalangan Generasi Z bukan sekadar tren sosial sementara, melainkan cerminan dari perubahan nilai dan cara berpikir yang lebih realistis terhadap kehidupan. Ketidakstabilan finansial, meliputi meningkatnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan stabil, dan tuntutan kemandirian ekonomi menjadi alasan yang paling dominan di balik keputusan ini.

Bagi banyak Generasi Z saat ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban sosial, melainkan keputusan hidup yang menuntut perencanaan matang, terutama dalam hal finansial.

Sebagai upaya untuk  mengatasi hal tersebut, penguatan literasi finansial menjadi langkah strategis yang dapat membantu mengurangi dampak ketidakstabilan ekonomi terhadap keputusan hidup, termasuk pernikahan.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (OJK, 2024), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai 65,43% meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang pengelolaan uang, investasi, serta perencanaan keuangan mulai mendapat perhatian yang lebih luas, khususnya di kalangan generasi muda.

Selaras dengan temuan tersebut, penelitian oleh Pangestu & Karnadi (2020) menunjukkan bahwa literasi finansial memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan Gen Z dalam mengelola tabungan dan membuat keputusan finansial, termasuk persiapan menghadapi komitmen jangka panjang seperti pernikahan.

Pemahaman finansial yang baik meningkatkan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan, sehingga menunda pernikahan bukan sekadar menghindari komitmen, tetapi ekspresi kedewasaan dalam merancang masa depan.

Secara keseluruhan, menunda pernikahan bukanlah bentuk ketakutan terhadap komitmen, melainkan ekspresi kedewasaan dalam merancang masa depan. Generasi Z yang melek finansial akan lebih siap membangun rumah tangga yang stabil tidak hanya dari segi emosional, tetapi juga dari aspek ekonomi dan tanggung jawab jangka panjang.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, literasi finansial menjadi kunci agar pernikahan bukan sekadar impian romantis, melainkan langkah realistis menuju kehidupan yang mapan dan berkelanjutan.

 

Penulis: Haniyah Azzahra (G1C124057)
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi 

 

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Pernikahan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id

CNBC Indonesia. (2024, 14 Februari). Gen Z dan Milenial Tunda Menikah karena Biaya Hidup Makin Mahal. https://www.cnbcindonesia.com

Harahap, A. C., & Tantiani, F. F. (2023). Marital satisfaction of the sandwich generation in East Java. KnE Social Sciences, 8(19), 19–34. https://doi.org/10.18502/kss.v8i19.14345

Herliana, R., Putri, D., & Sari, M. (2023). Financial Stability and Marriage Delay among Generation Z in Indonesia: The Mediating Role of Career Development. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 25(1), 45–59. https://doi.org/10.47134/inhis.v2i1.44

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024, 2 Agustus). Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2024. Jakarta: OJK. https://www.ojk.go.id

Pangestu, S., & Karnadi, E. B. (2020). The effects of financial literacy and materialism on the savings decision of generation Z Indonesians. Cogent Business & Management, 7(1), 1743618.
https://doi.org/10.1080/23311975.2020.1743618

Rubin, D., Tare, M., & Divanji, R. A. (2024). Generation Z’s Challenges to Financial Independence: Adolescents’ and Early Emerging Adults’ Perspectives on Their Financial Futures. SAGE Open, 14(2), 21582440241256572. https://doi.org/10.1177/21582440241256572

The Jakarta Post. (2023, 10 Juli). Young Indonesians Delay Marriage for Financial Reasons. https://www.thejakartapost.com

UNICEF Indonesia. (2023). Youth Perspectives on Financial Independence and Life Readiness. Jakarta: UNICEF Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses