Pentingnya Layanan Konseling Realita dalam Mengurangi Kasus Depresi di Era Pandemi

Benny Prawira seorang suicidologist dan global mental health advocate,  mengatakan bahwa pandemi Covid-19 cenderung membuat seseorang menjadi mudah depresi. Selama pandemi, angka depresi cenderung meningkat, meskipun tak erat dengan kasus peningkatan angka bunuh diri.

Salah satu sasaran kasus depresi di era pandemi ini adalah masyarakat. Semenjak era pandemi ini hadir, membuat kehidupan masyarakat seketika berubah menjadi berbalik. Baik itu dalam hal ekonomi, sosial, pendidikan serta pribadi diri masyarakat itu sendiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Yang sebelumnya Ia membuka diri dengan orang lain, karena pandemi Ia mengurungkan diri dan tertutup dengan orang lain. Yang sebelumnya Ia WFO/ WFH, karena pandemi akhirnya Ia di PHK dan tidak memiliki pekerjaan.

Baca Juga: Dampak WFH (Work From Home) pada Manajemen Komunikasi Keluarga saat Pandemi COVID-19

Yang sebelumnya Ia rajin mengulang materi, namun semenjak daring Ia menjadi remeh terhadap materi yang sudah diajarkan, dan permasalahan lain sebagainya. Tentunya penyebab dari berbagai macam permasalahan yang terjadi di era pandemi ini membuat sebagian masyarakat depresi karena sistem kehidupannya yang seketika berubah drastis.

Kasus Depresi dan Bunuh diri di Era Pandemi

Perlu kita ketahui, bahwa depresi adalah salah satu permasalahan serius yang kerap terjadi di lingkungan masyarakat dan banyak menimpa usia remaja serta dewasa. Depresi yang diakibatkan dari kejadian pandemi ini membuat sebagian masyarakat merasa tidak mampu untuk melanjutkan hidup.

Ada yang memilih mengakhiri hidupnya dengan percobaan bunuh diri sehingga kasus kematian bunuh diri akibat depresi meningkat. Diperkirakan ada sekitar 300 juta orang mengalami depresi di seluruh dunia.

Bahkan, World Health Organization (WHO) sendiri memperkirakan bahwa kasus bunuh diri di seluruh dunia yang diakibatkan oleh depresi ini terjadi di setiap 40 detik. dr. Eka Viora, SpKJ,  selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), juga mengatakan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 15,6 juta orang yang mengalami depresi.

Namun sayangnya hanya 8 persen di antara mereka yang mencari tindakan pengobatan ke orang yang profesional (psikolog/ psikiater).

Baca Juga: Stop Body Shaming, Depresi Hingga Bunuh Diri

Apa itu Konseling Realita?

Pada kegiatan konseling ini, konselor dapat memberikan sebuah layanan konseling realita pada masyarakat yang mengalami depresi akibat permasalahan ekonomi, sosial, pendidikan maupun diri pribadi sejak era pandemi ini. Yang di mana konseling realita ini adalah suatu layanan yang difokuskan pada tingkah laku seseorang.

Dalam layanan ini, konselor berfungsi sebagai guru dan mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang sekiranya dapat membantu untuk menghadapi kenyataan serta memenuhi kebutuhan dasar tanpa merugikan diri klien itu sendiri ataupun orang lain.

Mengapa Masyarakat Pengidap Depresi Perlu Konseling Realita?

Karena dengan masyarakat mengambil langkah untuk melakukan konseling realita ini dapat meringankan serta membantu masyarakat dalam mengurangi rasa ingin melakukan hal-hal yang merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain seperti melakukan percobaan bunuh diri.

Tujuan dari adanya layanan konseling realita ini sendiri yaitu untuk membantu klien menemukan jalan lebih baik dalam memenuhi kebutuhan mereka seperti bertahan hidup, cinta dan kepemilikan, kekuasaan/ prestasi, kebebasan, dan juga kesenangan.

Tujuan lainnya juga seperti pertumbuhan pribadi, perbaikan pola gaya hidup, serta pengambilan keputusan yang lebih baik. Dengan kata lain, adanya layanan konseling realita ini menjadi sebuah tujuan ke mana arah perginya masyarakat di kala rasa stres akibat dari permasalahan-permasalahan yang sangat mengganggu pikirannya dengan bantu tangan seorang konselor.

Baca Juga: Analisa Psikologi Kognitif: Mahasiswi Bunuh Diri di Makam Ayahnya usai Hamil Dipaksa Aborsi oleh Pacarnya

Sampai saat ini masih banyak orang awam yang belum mengenal siapa konselor itu, namun perlu kita garis-bawahi bahwa konselor memiliki beberapa persamaan dengan psikolog ataupun psikiater. Yang di mana mereka sama-sama mengikat janji untuk memegang teguh kepercayaan masyarakat/ klien atas apa yang sudah disampaikan kepada mereka.

Tugas dari konselor itu sendiri hanya berfokus kepada bagian penanganan masalahnya saja. Meskipun sulit untuk berkonsultasi karena keadaan setiap orang berbeda, entah itu dengan alasan belum siap, takut, tidak memiliki biaya karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung.

Bukan berarti terus membiarkan kegelisahan serta hal-hal yang mengganggu pikiran kita menumpuk di diri kita saja. Ada salah satu platform konseling gratis untuk masyarakat umum yang ingin melakukan sebuah konseling tanpa dipungut biaya yaitu @_berbagicerita.id melalui Instagram.

Oleh karena itu, jangan takut dan ragu untuk berkonsultasi pada konselor mengenai permasalahan-permasalahan yang sekiranya berat untuk kita hadapi agar tidak timbul hal-hal negatif yang tidak diinginkan seperti pola pikir untuk percobaan bunuh diri akibat depresi.

Serta dapat membantu meminimalisir kasus bunuh diri di Indonesia ini. Serta menjadikan diri kita untuk lebih bersyukur atas nikmatnya oksigen yang sudah kita hirup di setiap detiknya.

Penulis: Haniyah Az-zahra
Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses