Perempuan: Ibu Kehidupan dan Penjaga Peradaban

Peran Perempuan
Sumber: freepik.com

Perempuan adalah permata berharga dalam kehidupan. Dalam setiap fase hidupnya, Tuhan menganugerahkan keindahan dan pesona yang luar biasa.

Jiwa seorang perempuan menjadi wadah yang merekam perjalanan hidup anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW memandang perempuan sebagai pilar utama dalam kehidupan berbangsa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sementara itu, Nietzsche berpendapat bahwa perempuan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dalam ajaran Buddha, ibu dipandang sebagai kuil suci bagi kehidupan manusia.

Naluri keibuan yang dimiliki perempuan harus senantiasa dijaga agar tetap murni, menjadi tempat bersemayamnya jiwa yang bersih.

Keindahan yang melekat pada diri perempuan harus terus dijaga dengan penuh kesadaran sehingga menjadikannya sebagai sumber kehidupan.

Dari rahim perempuan, lahirlah generasi yang membawa cahaya, menerangi dunia dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.

Dari rahim perempuan juga kehidupan lahir, diperjuangkan, dan memperoleh makna serta martabat.

Baca Juga: Rendahnya Partisipasi Perempuan Indonesia Akibat Diskriminasi dalam Kesetaraan Gender

Peradaban dunia tidak akan mencapai kejayaannya tanpa kehadiran perempuan. Nafas seorang perempuan selalu membawa kedamaian, kesejukan, dan ketentraman.

Para pemikir bijak pada era Aksial (900–200 SM) menyampaikan bahwa perempuan adalah sosok yang menjunjung tinggi perasaan, mengutamakan cinta, keadilan, kemanusiaan, serta kesetaraan, melampaui batas egoisme dan egosentrisme.

Tokoh-tokoh, seperti Zoroaster, Buddha, Socrates, Konfusius, Yeremia, para mistikus Upanishad, Mencius, dan Euripedes menjadi panutan pada masanya dalam menyebarkan nilai-nilai bela rasa.

Hal ini tidak terlepas dari pengaruh sisi keperempuanan yang mereka pelajari dari ibu mereka, yang kemudian menjadi fondasi ajaran dan pemikiran mereka.

Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., Nabi Muhammad saw., serta para guru bijak lainnya melihat perempuan sebagai pilar utama dalam keberlangsungan suatu bangsa.

Bagi mereka, jika perempuan berperan dengan baik, maka negara akan sejahtera, namun jika perempuan terabaikan atau mengalami kemunduran, maka negara akan menghadapi kehancuran dan kekacauan.

Baca Juga: Kontekstualisasi Hadis Nabi ﷺ tentang Kepemimpinan Perempuan

Sepanjang sejarah, perempuan telah ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Namun pada saat yang sama, sejarah juga mencatat bagaimana perempuan kerap mengalami perlakuan yang tidak adil dan termarginalkan.

Sejarah memang tidak berjalan secara linier, tetapi jiwa perempuan senantiasa mewarnai peradaban dengan kelembutan dan makna yang mendalam.

Saat pertama kali diciptakan, Adam tidak mencari kekuasaan atau harta, melainkan kehadiran seorang perempuan.

Dari Hawa, Adam menemukan kehidupan dan hidupnya menjadi lebih sempurna dengan hadirnya keturunan. Hawa adalah sumber kehidupan bagi Adam.

Di Indonesia, menurut Pramoedya Ananta Toer, sosok yang meletakkan dasar sejarah modern bukanlah tokoh politik atau pejuang perang, melainkan Kartini.

Pram menegaskan bahwa Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah yang pertama kali menggagas aspirasi kemajuan di Indonesia yang muncul di Demak, Kudus, dan Jepara sejak pertengahan kedua abad ke-19. Di tangannya, gagasan kemajuan itu dirumuskan, diperinci, dan diperjuangkan hingga akhirnya menjadi milik seluruh bangsa Indonesia.”

Baca Juga: Eksistensi Perempuan dalam Menyuarakan Pendapatnya

Pandangan Pramoedya Ananta Toer tidak bermaksud mengabaikan peran Budi Utomo (1908) atau gerakan lainnya, tetapi ia melihat bahwa Kartini sebagai Perempuan telah menandai awal sejarah modern Indonesia.

Dari Kartini, perempuan Indonesia mulai bangkit dan merintis gerakan yang turut “menghidupkan” Indonesia.

Kartini menjadi sumber bagi lahirnya gerakan emansipasi Perempuan dan dari gerakan itulah tercipta kehidupan baru bagi bangsa ini.

Hal ini bukan sekedar penyederhanaan atau pengabaian terhadap gerakan lain, tetapi sebuah kenyataan bahwa peradaban yang terbentuk melalui perjuangan perempuan telah menjadi pilar penting dalam membangun Indonesia modern yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Hingga saat ini, ruang publik yang setara bagi perempuan masih sangat terbatas. Hal ini mencerminkan kurangnya kesadaran masyarakat akan kehidupan yang sudah melekat dalam diri perempuan.

Berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan menunjukkan bahwa peradaban yang dibangun oleh kaum pria sering kali memunculkan banyak kekerasan dan kebiadaban.

Baca Juga: Kesetaraan Gender dalam Islam: Menggali Al-Qur’an dan Hadis dalam Perjuangan Hak-Hak Perempuan

Ideologi maskulinisme telah menyebabkan peradaban dipenuhi dengan onak dan duri, menjadikan wajah dunia terasa kusam dan menakutkan.

Politik yang mengabaikan perempuan sering kali memicu perang dan kemarahan, karena nafsu kehidupan dikuasai oleh keinginan untuk menang dan berjaya sendiri tanpa mempertimbangkan kesejahteraan bersama.

Sebagai ibu kehidupan, tanggung jawab perempuan jauh dari kata mudah. Di tengah gejolak zaman yang penuh dengan keganjilan dan kemunafikan, perempuan dituntut untuk menjadi sumber kedamaian, ketentraman, dan keindahan.

Tentu saja, ini bukan hanya soal penampilan fisik semata, tetapi perempuan harus berani tampil didepan publik untuk menyuarakan gerakan kehidupan yang memperjuangkan kaum tertindas, menentang kebiadaban, dan melanjutkan perjuangan kemanusiaan yang membela rasa, mengutamakan keadilan, cinta, dan kesetaraan.

Salah satu hak perempuan yang harus terpenuhi adalah hak untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki.

Ketika perempuan memiliki akses yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi, maka kehidupan mereka pun akan lebih layak.

Baca Juga: Kemerdekaan Perempuan: Sudahkah Terpenuhi?

Selain itu, perempuan juga berhak mendapatkan lingkungan yang ramah terhadap mereka, di mana tidak ada tempat bagi kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan mental.

Hak untuk merasa aman dan dihargai dalam setiap aspek kehidupan adalah bagian dari martabat dan hak asasi perempuan yang perlu dijaga.

Dalam diri perempuan, terdapat potensi luar biasa yang perlu digali dan diberdayakan, bukan dibiarkan begitu saja atau dianggap remeh.

Potensi ini bisa mengubah peradaban perempuan, bahkan peradaban umat manusia secara keseluruhan.

William James, seorang psikolog ternama dari Amerika Serikat berpendapat bahwa penemuan atas potensi manusia yang belum tergali adalah penemuan terpenting pada masanya.

James mengungkapkan, “Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kebanyakan orang, baik secara fisik, intelektual, maupun moral, hidup dalam potensi lingkaran yang sangat terbatas…”

Baca Juga: Menjadi Seorang Perempuan Harus Cantik dan Serba Bisa

Menurutnya, ketika potensi ini digali, manusia termasuk perempuan akan mampu menciptakan perubahan besar dalam kehidupan mereka dan masyarakat.

Selain itu, potensi tersebut tidak hanya akan memperkaya kehidupan perempuan itu sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi besar dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan berperadaban.

 

Anggita Maghfirotul Ismanudin

Penulis: Anggita Maghfirotul Ismanudin
Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah, Universitas Al-Qolam Malang
Aktif Juga di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses