Saat saya masih aktif di dunia olahraga yakni lebih tepatnya olahraga renang ada sebuah momen yang membuat saya kecewa di akhir dari masa atlet saya. Yaitu adanya sosok orang dalam yang membuat saya tersingkir dari tim utama estafet renang gaya ganti lebih tepatnya untuk posisi saya sebagai perenang gaya dada.
Dari kejadian ini saya sudah mulai merasa tersingkirkan dan semakin tidak dianggap baik oleh klub dan pelatih itu sendiri. Betul saja, sejak kejadian tersebut, lomba-lomba berikutnya terbukti saya tidak dimasukkan ke dalam tim estafet padahal hasil waktu gaya dada saya lebih cepat.
Dari pengalaman yang saya alami ternyata di luar sana juga ada kejadian yang hampir sama dengan pengalaman saya yaitu, seorang atlet renang di Amerika yang tidak menyebutkan namanya juga pernah menulis di forum internasional bahwa dirinya sangat-sangat merasa kecewa karena pada saat ada seleksi kejuaraan, pelatih di sebuah klub yang ia ikuti itu lebih memilih atlet dari keluarga yang punya pengaruh di klub tersebut padahal hasil akhir seleksi lebih bagus si penulis daripada atlet yang mempunyai pengaruh di klub tersebut.
Kejadian-kejadian seperti inilah yang membuat saya bingung seperti dalam olahraga itu apakah masih ada yang namanya keadilan? Apa hanya angan-angan semata untuk menutupi kenyataan bahwa kekuasaan dan kekayaan itu selalu punya caranya sendiri dalam meraih kemenangan?
Saya sangat ingin mengungkap realita dunia olahraga yang tidak adil seperti pengalaman saya ini dan untuk menunjukkan bahwa kekuasaan dan kekayaan dari seseorang itu sangat-sangat mempengaruhi keputusan di dalam tim/ klub tersebut.
Dalam hal apapun tidak terkecuali di dunia olahraga, sudah seharusnya bersikap adil, jujur, dan setara. Tetapi kenyataanya, sebuah klub, pelatih, dan pengurus dalam dunia olahraga sering dipengaruhi oleh faktor-faktor luar (orang berpengaruh).
Dalam olahraga yang saya tekuni saja yaitu renang, olahraga yang terukur oleh waktu saja bisa terjadi kecurangan seperti ini apalagi dalam olahraga yang tidak terukur dalam pemilihan atletnya contohnya dalam olahraga sepak bola, itu lebih banyak sekali kasus seperti ini yang membuat olahraga sepak bola di Indonesia menjadi kurang berprestasi, karena pemilihan pemain hanya menurut pandangan dan keyakinan dari pelatih.
Itu pun ada pemilihan pemain yang berdasar dan ada juga yang tidak berdasar, dan itu semua juga karena adanya faktor dari luar seperti pemain titipan, anak dari orang berpengaruh di klub, kenal dekat dengan pelatih yang menyeleksi, dan lain-lain.
Menurut teori dari John Rawls, keadilan adalah adalah kesetaraan dalam kesempatan dan perlakuan yang punya arti, setiap individu harus dinilai berdasarkan kemampuan dan usahanya bukan dinilai dari latar belakang sosial/ kedekatan pribadi.
Baca Juga: Antara Prestasi Dunia dan Prestasi Akhirat: Jalan Tengah Menuju Kesuksesan Sejati
Bagi sebagian orang akan melihat pengalaman yang saya alami ini suatu ketidakadilan, karena hasil waktu di perlombaan menunjukkan saya yang lebih cepat dan sudah seharusnya begitu di dunia olahraga renang, mereka—para petinggi dan pelatih klub—seharusnya menilai atlet yang akan dimasukkan kedalam tim estafet itu yang paling cepat yang dipunyai suatu klub, dan saya sudah membuktikanya lewat hasil yang telah saya peroleh di perlombaan itu yakni lebih unggul dari semua teman saya yang berlomba dengan gaya yang sama dengan saya yaitu gaya dada.
Tetapi kesempatan saya untuk masuk ke dalam tim estafet malah diberikan ke teman saya yang secara jelas hasilnya masih di bawah saya. Situasi seperti ini yang bisa mematikan semangat para atlet muda di luar sana karena ketika usaha dan hasil tidak lagi dihargai, maka semangat dan keinginan untuk terus berkembang akan hilang.
Namun di sisi yang lain, tidak semua orang melihat ini sebuah ketidakadilan, bisa saja beberapa pendapat akan menilai bahwa pelatih mungkin juga mempunyai pertimbangan lain sebelum memlih teman saya untuk masuk ke dalam tim estafet yang sudah secara jelas di bawah saya dan mungkin pertimbanganya di luar soal hasil, yaitu bisa saja kerja sama tim, kesiapan mental, kedisiplinan, dan lain-lain.
Mungkin yang dipilih oleh pelatih saya itu memiliki kerja sama tim yang lebih kompak, pengalaman yang lebih tinggi, dan bukan bentuk pilih kasih maupun karena punya keluarga berpengaruh.
Namun tetap saja bagi saya dan para atlet yang sudah pernah merasakan hal yang sama, penjelasan apapun tidak akan bisa menghapus rasa kecewa yang telah kita alami.
Dalam beberapa contoh kasus yang terjadi salah satu contohnya yaitu terjadi pada ajang pemilihan atlet renang untuk event PON XX pada tahun 2021, karena ada keluhan dari beberapa atlet di daerah yang merasa tidak dipanggil untuk masuk tim yang akan berlomba di Papua padahal mempunyai catatan waktu yang lebih bagus kalau dibanding dengan catatan waktu teman se-daerahnya.
Oleh karena itu, banyak atlet-atlet yang akhirnya memilih untuk berpindah daerah. Beberapa sumber media olahraga dan komunitas renang yang saya ketahui sering kali membericarakan faktor kedekatan dengan pengurus daerah ataupun pelatih yang sangat berpengaruh dalam jalanya pemilihan tim.
Dari pengalaman saya jika dilihat sisi keadilan dalam dunia olahraga, kejadian seperti ini akan memperlihatkan kepada dunia luar bahwa sportivitas dalam dunia olahraga telah terkikis oleh kepentingan sosial.
Yang seharusnya setiap atlet mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersaing tanpa melihat status ekonomi dan sosial, kini orang yang tidak mempunyai status sosial dan ekonomi yang kuat seperti saya perlahan akan tersingkir jika benar-benar tidak mempunyai tekad, keinginan, dan semangat yang benar-benar besar untuk maju dan berkembang lebih jauh lagi.
Konsekuensi paling realistis dari pengalaman saya yaitu tidak lagi terpanggil di tim estafet gaya ganti untuk perlombaan-perlombaan selanjutnya. Padahal ini penting buat tim dan saya sendiri untuk meningkatkan kualitas tim dan menambah pengalaman saya di dalam tim estafet.
Baca Juga: Prestasi Tanpa Batas: Mengukir Prestasi Melalui Hobi yang Ekstrem
Hal-hal seperti ini yang membuat saya semakin kehillangan semangat untuk berlatih karena usaha saya untuk berlatih saja tidak dihargai dan dilihat dari tidak dipanggilnya saya lagi ke tim estafet untuk menjadi bagian.
Dampak yang ditimbulkan tidak hanya sampai di sini saja, ada juga dampak lainya seperti implikasi yang ditimbulkan juga lebih luas dan bersifat jangka panjang yaitu menurunya kepercayaan atlet-atlet terhadap sistem seleksi dalam klub, atlet-atlet berpotensi yang lain juga akan berpikir bahwa cara untuk masuk ke dalam tim estafet tidak hanya dari faktor hasil latihan dan hasil lomba melainkan juga adanya faktor dari segi sosial, kemampuan, dan ekonomi.
Itu membuat para atlet menjadi minder dan enggan berjuang agar dapat posisi dalam tim estafet, karena dalam olahraga persaingan tidak lagi sehat melainkan cerminan dari kehidupan sosial saat ini.
Dalam beberapa pandangan yang ada, banyak yang setuju dengan pendapat saya bahwa yang terjadi seperti pengalaman saya itu tidak adil, tetapi pasti juga ada yang tidak setuju dengan pendapat yang saya kemukakan ini.
Beberapa pandangan yang setuju dengan cerita saya seperti Pierre Bourdieu—dalam dunia olahraga sangat tidak steril jika ada campur tangan dari orang-orang yang mempunyai kekuasaan, ekonomi, modal sosial karena dapat dipastikan akan mendapat kemudahan untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan.
John Rawls—keadilan dalam hal apapun tidak terkecuali dalam dunia lahraga harus diukur dari kesempatan yang adil. Nelson Mandela—olahraga bisa mempersatukan seluruh bangsa/ dunia tetapi jika dijalankan dengan adil dan transparan.
Beberapa pendapat yang tidak setuju juga ada seperti pandangan dari Max Weber—dalam dunia sosial termasuk dunia olahraga itu sudah dikendalikan oleh birokrasi dan relasi-relasi poltik dari berbagai kekuasaan jadi sistemnya sulit hampir tidak bisa untuk diubah begitu saja.
Thomas Hobbes—manusia sebagai mahluk yang secara alami egois, berjuang demi kepentinganya sendiri dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dimau.
Ayn Rand—dalam hal apapun tidak akan pernah sepenuhnya adil termasuk dunia olahraga yang sudah ada wasitnya sekalipun karena dari setiap individu memiliki kemapuan yang berbeda beda dari segi manapun.
Setelah semua kejadian yang menurut saya kurang mengenakan ini, saya juga sadar daripada terus mengkritik hal-hal seperti ini yang menurut saya kemungkinan besar tidak akan bisa berubah dan diubah.
Lebih baik untuk adik-adik di luar sana atau atlet-atlet yang juga merasakan hal yang sama dengan saya, untuk lebih giat dalam berlatih lagi seperti menambah jam latihan sendiri dari segi fisik, speed, endurance, power, dan tidak hanya itu saja hal-hal seperti attitude, kedisiplinan dalam mengatur pola istirahat, makan, berlatih, juga kepada pelatih yang meskipun tidak berpihak kepada kita.
Baca Juga: Mahasiswa UPI Bandung Borong Prestasi di Kejuaraan Taekwondo 7Pyongwon 4 Championship 2024
Perjuangan tidak selalu sejalan dengan hasil yang akan kita terima. Tetapi hasil yang kita terima akan lebih mengecewakan jika hasil itu tidak bisa diubah dengan usaha dan kerja keras kita di dalam dan luar latihan seperti kekuasaan dan koneksi.
Namun di balik itu semua, saya mulai tersadar di zaman sekarang prestasi tidak bisa diraih jika ada orang yang kotor di dalamnya, dan akan membuang waktu, tenaga, serta kerja keras kita.
Tetapi dengan adanya pengalaman seperti ini membuat saya menjadi karakter yang lebih kuat lagi juga berusaha lebih giat untuk nomor perlombaan yang lain dan saya juga belajar bahwa di dunia zaman sekarang apapun tidak ada yang adil tetapi kejujuran dan ketulusan hati tetap menjadi kekuatan alami yang akan saya pegang di manapun saya berada.
Dari ketulusan dan kejujuran hati, saya berpikir bahwa seharusnya di manapun kita berada, keadilanlah yang harus dijungjung tinggi dan tidak hanya di dalam dunia olahraga. Karena jika semua hal berlaku adil, prestasi akan lahir dari kerja keras, bakat, keseriusan atlet dan bukan dari ketenaran, koneksi, maupun kekuatan sosial yang dipunya.
Meski saya sempat terpinggir dan tidak lagi dilirik sedikit pun oleh pihak klub, pelatih itu tidak membuat saya minder ataupun malas justru saya ingin membuktikan pada mereka bahwa saya tidak hanya terpaku di satu gaya tersebut melainkan gaya yang lain juga saya kuasai seperti gaya kupu-kupu.
Saya juga meyakini pada diri saya sendiri bahwasanya kerja keras tidak akan kalah selamanya juga keadilan mungkin bisa saja tertunda tapi tidak akan bisa dikalahkan.
Pengalaman-pengalaman menyedihkan seperti inilah yang membuat saya pribadi sedih dan merenung sejenak membuat saya berpikir, seharusnya di dunia olahraga itu tempat yang adil dan paling jujur, tempat di mana semua atlet yang telah bekerja keras diakui dalam perlombaan dengan podium juara.
Di kenyataanya tidak semudah dan sesimpel itu, terdapat banyak politisasi yang sebelumnya jauh bahkan tidak ada dalam pemikiran saya.
Baca Juga: Berkarya dan Berprestasi: Ikatan OSIS se-Kota Bekasi Membantu Siswa Meraih Impian Mereka
Meskipun prestasi yang telah saya capai tidak diakui oleh orang lain, paling tidak saya tetap berpegang teguh terhadap sportivitas dan kerja keras yang saya telah lakukan tanpa harus mengkhianati diri sendiri.
Saya tidak ingin hanya menjadi atlet yang cepat dan berprestasi tetapi saya juga ingin membuktikan kepada atlet-atlet yang lain bahwa jika kemenangan ataupun prestasi yang diperoleh dengan bantuan orang berpengaruh dan sejenisnya itu tidak ada nilai apapun di dalamnya.
Lain hal jika kita melakukanya dengan kerja keras kita sendiri dalam berlatih, mengatur pola disiplin kita, dan yang paling penting jujur terhadap diri sendiri untuk berjuang dengan hati yang bersih tidak mengandalkan bantuan dari pihak luar.
Penulis: Ahmad Wildan Ziaulhaq (240631606574)
Mahasiswa Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nurul Riyad Fadhli, S.Pd., M.Or.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













