Sekapur sirih merupakan budaya yang melekat pada bangsa melayu sedari zaman nenek moyang terdahulu. Budaya ini menyebar di daerah-daerah yang memiliki masyarakat dengan mayoritas suku melayu seperti di Negara Indonesia tepatnya pulau Sumatra kemudian negara Malaysia, Singapore, Brunei dan Thailand yang zaman dulu dikenal dengan semenanjung melaya dengan kerajaan islam terbesar dan menjadi pusat perdagangan di asia tenggara disebut kerajaan Melaka.
Kerajaan Melaka ini berdiri pada tahun 1390-1511 oleh raja Parameswara yang kemudian dikenal dengan nama sultan Iskandar Syah yang menjadi raja pertama kerajaan Melaka ia memimpin hingga tahun 1414, kemudian digantikan oleh Megat Iskandar Syah 1414-1424, lalu Sultan Muhammad Syah 1424-1444, kemudian Seri Parameswara Dewa Syah 1444-1445, lalu sultan Mudzzafar Syah 1445-1459, dan digantikan oeh sultan Mansur Syah 1459-1457.
Kemudian pada masa kepemimpinan Mansur Syah inilah kerajaan Melaka mencapai puncak kejayaannya dengan berhasil menaklukkan daerah Pahang, kedah, trengganu, dan sejumlah bangsa di Sumatera, setelah sultan Mansur Syah wafat ia digantikan dengan Sultan Alauddin Riayat Syah 1477-1488 dan kemudian diganti dengan Sultan Mahmud Syah 1488-1511 dan menjadi raja yang terakhir dari kerajaan Melaka sebelum runtuh karena diserang oleh bangsa portugis.
Namun setelah kerajaan Melaka runtuh banyak budaya yang sudah menyebar keberbagai daerah kekuasaan kerajaan Melaka ini, salah satu hal yang masih melekat hingga saat ini adalah Sekapur Sirih atau dibeberapa daerah dikenal dengan nama Tepak Sirih.
Hal ini menjadi adat istiadat bangsa melayu hingga saat ini bagi bangsa melayu adat adalah suatu cara hidup menurut Abdul Kadir wan Yusoff (2000) adat merupakan peraturan sosial yang mengandung etika dan moral yang sesuai dengan norma-norma sosial.
Dan adat inilah yang menjadi cikal bakal budaya seperti yang dijelaskan Abdul Samad Ahmad (1990) bahwa kebudayaan dikenal dalam masyarakat umum mulai pada tahun 1940an. Dan sekapur sirih ini pun termasuk kedalam warisan budaya bangsa melayu hingga saat ini, adapun beberapa bahan-bahan yang terdapat dalam tepak sirih adalah daun sirih, pinang, kapur, dan tembakau.
Terdapat juga beberapa perlengkapan tambahan yang terdapat dalam tepak sirih ini yaitu 2 copuk, 1 kupuran, 1 kancip pinang. Tepak sirih sendiri umumnya terbuat dari bahan dasar kuningan namun ada juga yang terbuat dari perak, kayu atau rotan. Sekapur sirih ini pun memiliki beberapa jenis tepak antara lain adalah:
1. Tepak perisik
Tepak perisik berbentu segi empat yang berisi pinang yang dimasak dengan bumbu tertentu, gambir, kapur, tembakau dan sirih semuanya dimasukkan kedalam cembul, kecuali sirih.
Daun sirih sebanyak tiga atau tujuh lembar dan setiap lembarnya dilipat dua kemudian dilipat tiga dengan bagian tengah dibentuk simpul yang melambangkan kerahasiaan.
2. Tepak peminang
Tepak ini biasanya juga disebut tepak induk, isinya sama dengan tepak perisik hanya berbeda penyajian bahannya. Sirih terdiri dalam lima ikat setiap ikatnya berisi lima lembar jadi totalnya dua puluh lima lembar sirih, ikatan sirih dinamai simpai dengan posisi telungkup menghadap ulu kacip yang melambangkan rendah diri, berserah diri.
Pinangnya bulat yang dikupas kulitnya sampai licin dan bersih, gambir dan tembakau juga berbentuk bulat, artinya bulat hati memegang janji.
3. Tepak pengikat janji
Tepak ini digunakan dalam prosesi perkawinan, didalam tepak terdapat dua copuk, satu kupuran, daun sirih, pinang, tembakau dan kacik pinang, dan serta dimasukkan juga mas kawin kedalam tepak ini.
Ketentuan isinya ujungnya saling bertemu, ditindih dengan bunga cengkeh yang terlebih dahulu dicelupi ke sekapur sirih, gambir dibentuk bulat, pinang tua sebutir dan diukir menyerupai sanggul, kemudian semua hal ini dikenal dengan nama susun sirih bertemu ujung yang kemudian melambangkan sudah adanya ikatan.
4. Tepak penyapa
Tepak ini merupakan tepak yang digunakan untuk menyambut tamu saat datang berkunjung ke rumah, bahan didalam tepak kurang lebih sama dengan tepak yang lain dan tidak ada ketentuan khusus dalam menyusun bahan-bahannya.
Inilah bentuk kecil dari budaya melayu yang bernama sekapur sirih, namun banyak hal yang disayangkan terjadi pada kebudayaan ini di era modern salah satu contoh permasalahannya adalah sekapur sirih yang seharusnya berisikan tepak dan berbagai macam bahan dan perlatannya tidak lagi digunakan karena alasan membuang waktu dan ketinggalan zaman, bahkan para pemilik kebudayaan ini sekarang mengganti bahan dalam tepak tersebut dengan permen.
Tentu esensi dan sacral yang terdapat dalam warisan turun temurun ini menjadi berkurang dan bahkan hampir hilang, pada zaman sekarang banyak anak muda melayu yang bahkan tidak tahu cara untuk mengkonsumsi sekapur sirih ini, sehingga kebudayaan ini lambat laun akan hilang dikarenakan tidak ada yang menjalaninya lagi.
Hal ini tentu tidak terlepas dari konsep berpikir orang di zaman sekarang yang berbeda dengan orang pada zaman dahulu maka teori antropologi dan psikologi sangat cocok untuk menjelaskan mengapa kebudayaan ini berubah dan bahkan bisa saja hilang.
Berdasarkan teori antropologi adat sekapur sirih dapat dilihat sebagai salah satu contoh dari praktik kebudayaan yang memiliki kelanjutan atau persistensi dalam masyarakat dari masa lampau hingga masa kini.
Teori ini menyoroti bagaimana beberapa aspek kebudayaan dapat bertahan atau berubah seiring waktu, dan bagaimana praktik-praktik tersebut dapat memberikan wawasan tentang nilai-nilai, norma-norma, dan struktur sosial dalam masyarakat.
Transformasi sekapur sirih menjadi permen dapat dilihat sebagai suatu fenomena yang mencerminkan dinamika budaya dan perubahan perilaku manusia dalam konteks sosial tertentu. Antropologi mempelajari bagaimana individu memahami, merespons, dan berinteraksi dengan budaya mereka, serta bagaimana budaya memengaruhi pembentukan identitas dan perilaku individu (Markus, H. R., & Kitayama, S, 2010)
Transformasi ini dapat dijelaskan melalui beberapa konsep dalam antropologi :
1. Pembentukan Identitas
Penggunaan sekapur sirih dalam budaya tradisional mungkin memiliki makna simbolis yang dalam dalam pembentukan identitas individu dan komunitas. Namun, dengan perubahan zaman dan penyebaran budaya global, preferensi dan identitas konsumen juga berubah. Proses transformasi ini dapat mencerminkan bagaimana individu merespons perubahan dalam budaya dan lingkungan mereka.
2. Perilaku Konsumen
Perubahan dari sekapur sirih tradisional menjadi permen modern juga mencerminkan perubahan dalam perilaku konsumen dan preferensi rasa. Antropologi mempelajari bagaimana individu membuat keputusan konsumsi dan bagaimana pengaruh budaya, nilai, dan norma memengaruhi perilaku konsumen.
3. Adaptasi Budaya
Transformasi ini juga mencerminkan adaptasi budaya terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Konsep adaptasi budaya dalam antropologi menjelaskan bagaimana masyarakat dan individu menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan mereka untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan sosial mereka.
Berdasarkan teori antropologi diatas, kebudayaan sekapur sirih mengalami perubahan karena adanya faktor sosial seperti modernisasi. Sekapur sirih yang dulunya merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat sekarang mulai dianggap kurang praktik dan ketinggalan zaman.
Penyebab lainnya yaitu adanya perubahan nilai dan norma dalam masyarakat yang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Hal tersebut dapat mempengaruhi makna dan simbolisme yang terkandung dalam budaya sekapur sirih.
Selain itu, adaptasi budaya juga memainkan peran penting dalam perubahan ini, masyarakat dan individu selalu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan kebutuhan mereka.
Ketersediaan bahan-bahan untuk sekapur sirih dan pembuatan tepak sirihnya mungkin menjadi lebih sulit dan mahal. Hal ini dapat mendorong masyarakat untuk mencari alternatif yang lebih murah dan praktis.
Sekapur sirih merupakan salah satu bagian penting dari warisan dan identitas kita. Meskipun zaman terus berubah, penting untuk menghargai dan mempertahankan tradisi-tradisi yang membentuk kita sebagai bangsa.
Transformasi budaya bisa saja terjadi, tetapi kita juga harus berupaya untuk menjaga esensi dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita. Jangan biarkan kebudayaan kita hilang begitu saja karena alasan-alasan yang sepele. Selalu ada cara untuk menyelaraskannya dengan zaman modern tanpa mengorbankan keasliannya.
Penulis:
- Debby Pamikasih
- Ayuningrum Tri Haryono
- Medy Afrione Harahap
Mahasiswa Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Wan Abdul Kadir Wan Yusoff. 2000. Tradisi dan Perubahan Norma dan Nilai di Kalangan Orang Melayu. Kuala Lumpur. Masfami Enterprise.
Abdul Samad Ahmad. 1990. Kesenian Adat, Kepercayaan dan Petua. Melaka. Associated Educational Distributor.
Markus, H. R., & Kitayama, S. 2010. Cultures and selves: A cycle of mutual constitution. Perspectives on Psychological Science, 5(4), 420–430.
Link gambar: https://images.app.goo.gl/CFkeyaptr7fk9x9i6
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














