Sekolah Rakyat: Solusi Pendidikan untuk Semua Kalangan

Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat (Sumber: Penulis)

Fakta Pencetus Masalah

Pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 31. Namun dalam praktiknya, akses terhadap pendidikan yang layak belum merata di seluruh Indonesia.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu yang kesulitan mengakses pendidikan formal, baik di sekolah negeri maupun swasta. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan ekonomi, tetapi juga dengan keterbatasan geografis dan fasilitas yang tersedia di daerah-daerah tertinggal.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut data dari BPS (2023), sekitar 21,61 anak usia 16-18 tahun tidak bersekolah, terutama di sebabkan oleh faktor ekonomi, jarak sekolah yang jauh, serta kewajiban membantu pekerjaan orang tua. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan formal belum sepenuhnya menjangkau kelompok masyarakat terpencil.

Di sinilah kemudian muncul konsep Sekolah Rakyat sebagai alternatif solusi yang berupaya menjawab permasalahan tersebut dengan pendekatan yang lebih terbuka, inklusif, dan berbasis pada semangat gotong royong.

 

Respon Publik yang Pro dan Kontra

Gagasan tentang Sekolah Rakyat menuai berbagai respons dari publik. Sebagian kalangan menyambut positif inisiatif ini karena dinilai mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan formal.

Pendekatan non-formal yang fleksibel, murah, dan berorientasi pada kebutuhan lokal dianggap relevan untuk konteks masyarakat akar rumput. Beberapa komunitas bahkan mulai membentuk Sekolah Rakyat dengan dukungan sukarelawan, tokoh masyarakat, dan lembaga sosial yang peduli terhadap pendidikan.

Namun, di sisi lain, terdapat pula kritik dari kalangan tertentu yang mempertanyakan efektivitas dan legalitas Sekolah Rakyat. Mereka beranggapan bahwa Sekolah Rakyat bisa menimbulkan standar ganda dalam sistem pendidikan, atau justru memperkuat ketimpangan antara pendidikan formal dan non-formal.

Ada pula kekhawatiran bahwa lulusan Sekolah Rakyat tidak memiliki pengakuan secara administratif dan akan kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Perbedaan pandangan ini mencerminkan pentingnya dialog dan kebijakan yang integratif agar Sekolah Rakyat tidak diposisikan sebagai tandingan, melainkan pelengkap dari sistem pendidikan nasional.

Baca juga: Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan di Tingkat Sekolah Dasar

 

Opini dan Dukungan Teoritis

Sekolah Rakyat merupakan bentuk inovasi sosial yang patut didukung dan dikembangkan lebih lanjut. Upaya ini bukan sekadar alternatif pendidikan, tetapi juga bentuk nyata dari keterlibatan masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendekatan berbasis komunitas, Sekolah Rakyat mampu menyesuaikan materi dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik tanpa dibatasi oleh kurikulum nasional yang kaku.

Lebih dari itu, Sekolah Rakyat kini menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Sekolah ini dirancang khusus untuk memuliakan keluarga miskin melalui pendidikan berbasis boarding school atau berasrama.

Program ini diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Seluruh kebutuhan hidup siswa mulai dari pendidikan, seragam, makan-minum, buku pelajaran, hingga layanan kesehatan, sepenuhnya ditanggung oleh negara secara gratis.

Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum nasional yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Selain pembelajaran formal, siswa juga diberikan pendidikan karakter, nasionalisme, keterampilan hidup, kepemimpinan, dan empati sosial.

Program ini menargetkan 20.000 siswa dari keluarga miskin untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah Rakyat juga unggul karena kurikulumnya adaptif. Siswa bisa masuk kapan saja dan tidak harus memulai dari awal. Sistem ini cocok untuk anak yang pernah putus sekolah.

Program ini menjadi harapan besar bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tidak lagi putus sekolah karena alasan biaya. Sekolah Rakyat diharapkan membawa perubahan nyata dalam hidup keluarga miskin dan menjadi jalan untuk memutus rantai kemiskinan.

Baca juga: Peran Pendidikan Bahasa Indonesia dalam Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Dasar

Jika terus dikembangkan secara menyeluruh dan merata di seluruh wilayah Indonesia, maka Sekolah Rakyat dapat menjadi sekolah unggulan yang inklusif. Program ini juga menjadi bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, dengan menciptakan generasi yang kreatif, cerdas, dan berdaya saing.

Ismail Muhammad dkk (2024) dalam penelitiannya Educator Development Journal mengulas jenis-jenis pendidikan nonformal di Indonesia. Mereka menekankan bahwa pendidikan nonformal berkembang sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, sesuai dengan kebutuhan lokal dan dapat dilakukan secara praktis, baik dengan cara gotong royong atau swadana.

Hal ini mendukung gagasan bahwa Sekolah Rakyat, sebagai bentuk pendidikan nonformal, dapat menjadi solusi efektif dalam menjangkau masyarakat yang belum terlayani oleh pendidikan formal.

Bahkan, dalam kajian UNESCO (2019) tentang pendidikan inklusif di Asia Tenggara, disebutkan bahwa pendidikan non-formal memainkan peran penting dalam menjembatani kesenjangan akses pendidikan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Oleh karena itu, peran pemerintah seharusnya bukan untuk memarginalkan keberadaan Sekolah Rakyat, tetapi justru merancang kebijakan yang mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan nasional. Misalnya, melalui pengakuan kompetensi lulusan, pelatihan bagi guru relawan, dan pemberian bantuan operasional berbasis komunitas.

Rencananya, pemerintah akan membangun 200 Sekolah Rakyat mulai tahun 2025/2026. Langkah ini patut diapresiasi karena mencerminkan komitmen untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi semua kalangan. Dengan kerja sama antara masyarakat dan negara, Sekolah Rakyat bukan hanya solusi sementara, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, merata, dan bermutu.

 

Penulis: Nur Syamsiatu Khusnul Khotimah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan

Dosen Pengampu: Dr. Azaki Khoirudin, M.Pd.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses