Di era digital seperti sekarang, tak sulit menemukan balita yang akrab dengan layar. Belum bisa membaca, tapi jempolnya sudah lincah memilih video di YouTube. Belum lancar bicara, tapi sudah paham cara membuka game favoritnya. Fenomena ini makin umum terjadi dan menimbulkan satu pertanyaan penting: apakah mereka benar-benar belajar?
Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sebanyak 36,5% anak menggunakan gadget 1–2 jam per hari di luar kepentingan belajar. Lalu, 34,8% anak menggunakan 2–5 jam, dan 25,4% lainnya memakai lebih dari 5 jam setiap hari (Media Indonesia, 23/7/2022).
Alih-alih menjadi sarana belajar, gadget lebih sering digunakan sebagai hiburan. Ketika anak lebih sering bermain game daripada membaca buku atau belajar, perlahan semangat belajarnya pun bisa tergeser.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pernah menyampaikan, “Ketagihan terhadap gadget ini saya kira terkait dengan budaya kita yang sejak kecil itu memanjakan anak-anak itu dengan gadget anak TK itu mungkin belum bisa baca tapi dia bisa main game dengan sangat cepat melebihi saya yang profesor atau mungkin pak rektor dan doktor,” (Okezone Edukasi, 30/1/2025).
Pernyataan ini menjadi gambaran betapa tidak seimbangnya perkembangan anak-anak di tengah kemajuan teknologi. Di satu sisi, gadget bisa menjadi alat bantu belajar. Di sisi lain, tanpa pendampingan yang tepat, justru bisa menjadi penghalang semangat belajar.
Sebagian orang tua menganggap bahwa mengenalkan gadget sejak dini adalah bentuk adaptasi zaman. Teknologi dianggap mampu merangsang kreativitas dan memperluas wawasan anak. Namun, tidak sedikit pula yang merasa khawatir.
Tanpa arahan, gadget justru menjadi sumber distraksi yang menurunkan minat belajar anak. Apalagi, jika digunakan secara berlebihan tanpa batasan waktu dan tujuan.
Tantangan ini makin terlihat dari hasil pendidikan nasional. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-72 dari 77 negara dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains (PDM Dikdasmen, 2/10/2025).
Ini menjadi sinyal kuat bahwa pembenahan pendidikan harus dimulai dari yang paling dasar: menanamkan semangat belajar sejak dini, bukan hanya mengejar hasil instan.
Sayangnya, masih banyak orang tua dan guru yang terlalu fokus pada hasil. Padahal, belajar adalah proses panjang yang tidak bisa instan. Anak tidak akan menjadi pintar hanya karena memiliki akses teknologi. Mereka membutuhkan kebiasaan belajar yang menyenangkan dan dilakukan secara konsisten.
Misalnya dengan membacakan cerita sebelum tidur, mengajak diskusi sederhana, atau memuji usaha anak saat mencoba hal baru. Dari kebiasaan kecil inilah identitas sebagai pembelajar sejati mulai tumbuh.
Baca Juga: Dari Kebiasaan Menjadi Karakter: Menjadikan Anak Hebat dengan 7 Kebiasaan Produktif
Untuk memperkuat semangat belajar anak sejak dini, pemerintah telah memperkenalkan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, dengan salah satu poin utamanya adalah “Gemar Belajar”. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk pola pikir yang kuat.
Konsep ini sejalan dengan teori dari buku Atomic Habits karya James Clear (2019). Ia menulis, “Kalau kamu perbaiki diri 1% setiap hari, dalam setahun kamu akan jadi 37 kali lebih baik.” Bayangkan jika semangat belajar itu sudah tertanam sejak masa kanak-kanak?
Memang, memulai langkah awal tidak selalu mudah. Apalagi di tengah derasnya arus digital. Namun jika orang tua dan guru mampu bersinergi membentuk rutinitas belajar yang sehat, hasilnya akan terasa. Misalnya dengan menetapkan jam belajar yang menyenangkan, membuat rutinitas membaca, atau melibatkan anak dalam aktivitas sederhana yang merangsang rasa ingin tahu mereka.
Anak yang terbiasa diajak berpikir dan bereksplorasi akan lebih mudah membangun kepercayaan diri dan keterampilan berpikir kritis.
Penting juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah dan komunitas sekitar. Guru dapat menjadi teladan semangat belajar, sementara lingkungan sosial membantu membangun budaya membaca.
Ketika anak tumbuh di lingkungan yang mendukung eksplorasi dan kreativitas, mereka lebih mudah menemukan dan mengembangkan potensi dirinya.
Teknologi pun tidak harus menjadi musuh. Orang tua tetap bisa memanfaatkannya sebagai alat bantu belajar mulai dari aplikasi edukatif, video pembelajaran, hingga platform interaktif. Namun yang paling penting adalah adanya pendampingan dan keterlibatan emosional dari orang tua.
Jangan hanya memberi gadget lalu pergi. Jadikan proses belajar anak sebagai bagian dari kebersamaan dalam keluarga. Anak perlu merasa bahwa usahanya dihargai, sekecil apa pun itu.
Anak-anak yang merasa diapresiasi akan lebih termotivasi untuk terus mencoba. Satu pujian tulus bisa berdampak lebih besar daripada sepuluh teguran. Mereka perlu tahu bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang bermakna bukan sekadar mengejar nilai. Pendidikan sejati adalah tentang menumbuhkan cinta belajar.
Anak-anak yang terbiasa belajar bukan karena dipaksa, tetapi karena menikmati prosesnya, akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan berempati. Dan yang paling penting: mereka akan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Penulis: Hapni Laila
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan
Dosen Pengampu: Dr. Azaki Khoirudin, M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












