Di era digital ini, informasi mengenai kesehatan menjadi sangat mudah diakses melalui internet. Banyak orang mencari gejala yang mereka alami di mesin pencari atau media sosial, lalu mencoba menyimpulkan sendiri penyakit yang dialami.
Fenomena ini dikenal sebagai self diagnose. Meskipun terlihat mudah dan cepat hasilnya, hal ini menimbulkan pertanyaan penting yaitu apakah self-diagnose benar-benar membantu menegakkan diagnosis, atau malah memiliki dampak berbahaya yang perlu diperhatikan?
Salah satu alasan utama ramai terjadinya self diagnose adalah kemudahan untuk mengakses informasi. Berbagai artikel, video, dan konten yang mengandung topik kesehatan lainnya tersedia secara gratis dan mudah diakses. Namun, tidak semua sumber tersebut dapat dipercaya atau sesuai dengan kondisi penyakit yang dialami.
Informasi yang bersifat umum di media sosial sering kali tidak cukup valid untuk menegakkan diagnosa karena tidak mempertimbangkan faktor penting yang dialami penderita seperti riwayat penyakit, kondisi tubuh, keluhan tambahan, interaksi obat dan faktor penting lainnya.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melaporkan 82,5% pengguna swa-periksa (self-check) mengalami masalah psikologis.
Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bagaimana dampak self-diagnose, salah satunya pada contoh kesehatan jiwa yang tidak menutup kemungkinan bahwa faktor psikologis tersebut berdampak besar pada kesehatan fisik akibat enggannya sebagian besar masyarakat untuk konsultasi lanjutan ke tenaga medis profesional.
Keyakinan bahwa seseorang sudah merasa cukup terhadap informasi yang beredar di internet mengenai penyakit yang diidapnya merupakan faktor psikologis yang membawa seseorang dari asumsi menjadi tindakan nyata yang benar benar diinterpretasikan. Namun dampak yang timbul dari perilaku inilah yang perlu ditinjau.
Self-diagnose dapat menyebabkan kesalahan interpretasi gejala. Gejala yang sama bisa dimiliki oleh berbagai penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Misalnya, sakit kepala bisa saja hanya karena gejala ringan flu, tetapi juga bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius. Tanpa pengetahuan medis yang cukup dan relevan, seseorang dapat salah menyimpulkan kondisi kesehatannya, dan dapat berakibat fatal bahkan sampai mengancam jiwa.
Selain itu, self diagnose juga dapat menimbulkan kecemasan berlebih. Banyak orang yang setelah membaca informasi di internet menjadi khawatir bahwa mereka mengidap penyakit serius, padahal hal tersebut belum tentu sepenuhnya benar.
Hal ini menyebabkan kecemasan berlebih yang pada beberapa kasus dapat memperburuk kondisi penderita, terutama jika tidak segera mendapat penanganan medis yang dibutuhkan.
Baca Juga: Pengaruh Media Sosial TikTok terhadap Fenomena Self-Diagnose
Di sisi lain, self diagnose juga bisa menyebabkan keterlambatan dalam mendapatkan penanganan yang tepat. Seseorang mungkin merasa sudah mengetahui penyakitnya dan mencoba mengobati sendiri, padahal diagnosis tersebut tidak tepat. Akibatnya, kondisi bisa semakin memburuk sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis yang sesuai.
Meskipun demikian, self diagnose tidak sepenuhnya buruk. Dalam batas wajar, mencari informasi kesehatan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan tubuh mereka sendiri jika dilakukan dengan bijak.
Hal ini dapat membantu seseorang lebih peka terhadap gejala yang dialami dan mendorong untuk mencari pertolongan medis sebelum penyakit bertambah parah. Namun, informasi tersebut seharusnya hanya dijadikan landasan dasar, bukan sebagai dasar diagnosis akhir.
Kesimpulannya, self diagnose di era internet ini memiliki berbagai dampak berupa manfaat sekaligus risiko yang harus diperhatikan. Hal ini menjadi berbahaya jika dilakukan tanpa pemahaman yang benar dan tanpa konfirmasi dari tenaga kesehatan yang kompeten.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bersikap bijak dalam mengakses informasi kesehatan, serta tetap menjadikan dokter atau tenaga kesehatan lainnya sebagai sumber utama dalam menentukan diagnosis dan pemberian pengobatan yang diperlukan.
Penulis: Angelica Jelita Kausar Nadine (1102025021)
Mahasiswa Universitas YARSI
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













