Abstract
Early childhood growth and development issues are not only related to nutritional deficiencies but also to the lack of parental understanding regarding children’s psychological aspects and the importance of proper sensory and motor stimulation. This community service activity was carried out by Subgroup 2 of the KKN Team from Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya in collaboration with the Simbaringin Village Auxiliary Health Center. The objective was to enhance the capacity of mothers with toddlers through education on balanced nutrition, early childhood developmental psychology, and training on the creation and utilization of Educational Play Tools (APE) in the form of a Busy Board. The methods included lectures, interactive discussions, hands-on practice, and pre- and post-test evaluations. The results showed a significant increase in participants’ knowledge, awareness, and skills in implementing healthier and more structured parenting. This program proves that an applicable and participatory educational approach can be an effective solution to support child development in rural communities.
Keywords: Child nutrition, developmental psychology, sensory-motor stimulation, Busy Board, toddler mothers, APE.
Abstrak
Masalah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini tidak hanya terkait dengan kurangnya asupan gizi, tetapi juga rendahnya pemahaman orang tua terhadap aspek psikologis anak serta pentingnya stimulasi sensorik dan motorik yang tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh Tim KKN Subkelompok 2 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bekerja sama dengan Puskesmas Pembantu Desa Simbaringin. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas ibu balita melalui edukasi gizi seimbang, penyuluhan psikologi perkembangan anak usia dini, serta pelatihan pembuatan dan pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) berupa Busy Board. Metode kegiatan mencakup ceramah, diskusi interaktif, praktik langsung, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan peserta dalam menerapkan pola pengasuhan yang lebih sehat dan terstruktur. Program ini membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang aplikatif dan partisipatif mampu menjadi solusi dalam mendukung tumbuh kembang anak di lingkungan pedesaan.
Kata kunci: Child nutrition, developmental psychology, sensory-motor stimulation, Busy Board, toddler mothers, APE.
Pendahuluan
Masa balita merupakan fondasi penting bagi perkembangan manusia yang akan memengaruhi kualitas hidup di masa depan. Pada masa ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat, sehingga segala bentuk stimulasi dan asupan yang diberikan akan berdampak langsung terhadap kecerdasan, kesehatan fisik, perilaku, dan kepribadian anak. Oleh karena itu, perhatian terhadap aspek gizi, psikologi, dan stimulasi sensorik-motorik menjadi suatu keharusan dalam pengasuhan anak usia dini.
Berbagai literatur menunjukkan bahwa usia dini adalah masa krusial di mana intervensi pengasuhan dapat menentukan arah perkembangan jangka panjang anak. Gizi yang tepat, pengasuhan yang empatik, serta permainan edukatif yang merangsang motorik dan sensorik merupakan faktor yang saling berkaitan dan saling memperkuat. Menurut Supariasa et al. (2016), anak yang mengalami defisiensi gizi sejak dini berpotensi mengalami hambatan perkembangan kognitif yang sulit dikompensasi di kemudian hari. Sementara itu, Santrock (2011) menegaskan bahwa stimulasi dan pola asuh yang tidak responsif terhadap kebutuhan emosional anak akan berdampak pada pembentukan kepribadian yang tidak stabil.
Namun demikian, berbagai penelitian dan survei menunjukkan bahwa masih banyak keluarga, khususnya di daerah pedesaan, yang belum memahami pentingnya ketiga aspek tersebut secara utuh. Kekurangan gizi pada anak sering kali dianggap sebagai hal wajar, bukan sebagai ancaman serius terhadap masa depan anak. Selain itu, pendekatan emosional dan psikologis terhadap anak belum banyak dipahami oleh ibu balita, padahal hal ini sangat memengaruhi pembentukan karakter dan kecerdasan emosional mereka. Begitu pula dengan minimnya stimulasi sensorik dan motorik yang semestinya dapat diperoleh anak melalui permainan edukatif yang sederhana namun bermakna.
Realitas ini diperkuat oleh kondisi yang ditemukan di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Desa ini merupakan salah satu wilayah dengan karakteristik masyarakat agraris, di mana ibu balita cenderung berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik sehari-hari dan belum banyak mendapatkan akses informasi mengenai pola pengasuhan berbasis ilmu. Banyak dari mereka yang belum mengetahui konsep gizi seimbang, mengandalkan pengetahuan turun-temurun dalam pengasuhan, dan tidak memiliki media stimulasi anak yang layak.
Hal ini menjadi dasar bagi Tim KKN Subkelompok 2 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang difokuskan pada peningkatan kapasitas ibu balita. Program ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi teori, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif peserta melalui praktik langsung pembuatan dan pemanfaatan Alat Permainan Edukatif (APE) Busy Board. Busy Board merupakan media yang berisi berbagai benda rumah tangga yang disusun menjadi alat permainan untuk melatih motorik halus, koordinasi tangan-mata, serta stimulasi sensorik anak.
Busy Board dipilih karena sangat cocok digunakan oleh anak usia 1–5 tahun, mudah dibuat, serta tidak membutuhkan biaya besar. Lebih dari itu, Busy Board dapat dirancang secara kreatif oleh ibu-ibu sendiri dengan memanfaatkan benda bekas pakai yang aman, sehingga mendorong kemandirian keluarga dalam menyediakan media stimulasi anak di rumah. Dengan kegiatan ini, diharapkan ibu-ibu balita memiliki pemahaman dan keterampilan praktis dalam mendampingi tumbuh kembang anak mereka secara optimal, serta mampu menjadi agen perubahan dalam lingkungan keluarga dan komunitas masing-masing.
Tujuan Kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini disusun dengan landasan kebutuhan masyarakat Desa Simbaringin untuk meningkatkan kapasitas orang tua, khususnya ibu balita, dalam pengasuhan anak yang holistik dan berbasis ilmu. Tujuan dari kegiatan ini tidak hanya terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup pembentukan sikap dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara langsung di rumah. Dengan pendekatan edukatif yang aplikatif, diharapkan ibu balita dapat menjadi agen utama dalam tumbuh kembang anak yang optimal.
Secara umum, tujuan kegiatan ini adalah:
Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan ibu balita tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang, psikologi perkembangan anak usia dini, serta stimulasi sensorik dan motorik melalui alat permainan edukatif.
Tujuan khusus kegiatan ini meliputi:
- Memberikan pemahaman dasar tentang konsep gizi seimbang, jenis makanan bergizi, serta bahaya kekurangan gizi (malnutrisi dan stunting).
- Meningkatkan pengetahuan peserta mengenai tahapan-tahapan psikologis dan emosional anak usia dini, serta pentingnya pola asuh yang responsif dan mendukung perkembangan anak.
- Memberikan pelatihan praktis kepada ibu-ibu dalam membuat dan menggunakan APE Busy Board sebagai media stimulasi sensorik dan motorik halus anak usia dini.
- Mendorong keterlibatan aktif ibu dalam mendampingi dan membimbing anak secara kreatif dan menyenangkan melalui pendekatan bermain yang terstruktur.
- Membentuk komunitas ibu balita yang saling mendukung dan dapat menjadi jaringan pembelajaran berbasis masyarakat di desa tersebut.
Metode Pelaksanaan
Kegiatan ini menggunakan pendekatan partisipatif dengan metode edukatif yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta. Setiap rangkaian kegiatan dirancang untuk membangun pemahaman konseptual, keterampilan praktis, serta komitmen peserta dalam menerapkan pola pengasuhan yang ilmiah, sehat, dan berkelanjutan di lingkungan keluarga. Pendekatan ini dipilih agar proses belajar tidak hanya bersifat satu arah, tetapi mengedepankan interaksi, diskusi, dan refleksi yang mendorong perubahan perilaku.
Metode pelaksanaan kegiatan ini dirancang secara sistematis dan terbagi dalam beberapa tahapan utama:
Tahap Persiapan
Tim KKN melakukan survei awal untuk memetakan tingkat pemahaman ibu balita terkait gizi anak, psikologi perkembangan, serta stimulasi motorik dan sensorik. Survei dilakukan melalui wawancara singkat dan kuesioner yang disebarkan kepada warga sasaran.
Koordinasi dilakukan dengan pihak Puskesmas Pembantu Desa Simbaringin dan perangkat desa guna menyusun jadwal pelaksanaan, menyiapkan tempat kegiatan, serta menentukan jumlah peserta dan teknis pelaksanaan.
Persiapan materi meliputi penyusunan modul penyuluhan gizi dan psikologi, serta pengadaan alat dan bahan untuk pelatihan pembuatan Busy Board, seperti papan plywood, kancing, velcro, resleting, saklar, dan alat pertukangan sederhana.
Tahap Pelaksanaan
Kegiatan utama dilaksanakan selama satu hari penuh, dibagi ke dalam empat sesi edukatif dan aplikatif, yaitu:
a. Sesi 1
Penyuluhan Gizi Seimbang Pada sesi ini, materi disampaikan oleh petugas gizi dari Puskesmas Pembantu. Metode ceramah interaktif digunakan dengan bantuan media visual seperti poster dan contoh bahan makanan lokal. Diskusi kelompok juga dilibatkan agar peserta bisa bertanya secara langsung. Materi utama mencakup:
- Konsep dasar gizi seimbang dan manfaatnya bagi anak usia dini.
- Pengenalan makanan lokal bergizi tinggi dan terjangkau.
- Teknik menyusun menu harian anak berbasis kebutuhan gizi dan ketersediaan bahan pangan di sekitar rumah.
b. Sesi 2
Psikologi Perkembangan Anak Sesi ini difasilitasi oleh anggota Tim KKN yang telah mempelajari teori perkembangan anak. Metode yang digunakan berupa presentasi, permainan peran (role play), serta studi kasus nyata. Materi yang dibahas mencakup:
- Tahapan perkembangan emosi anak usia 1–5 tahun menurut teori psikososial Erikson.
- Dampak pola asuh terhadap pembentukan kepribadian dan kebiasaan anak.
- Teknik mengatasi tantrum, membangun disiplin positif, dan memperkuat komunikasi dua arah antara ibu dan anak.
c. Sesi 3
Pelatihan Pembuatan Busy Board
Dalam sesi ini, ibu-ibu dibagi menjadi kelompok kecil untuk membuat Busy Board mereka sendiri. Setiap kelompok difasilitasi oleh anggota Tim KKN yang membantu dari proses desain, perakitan, hingga penyelesaian akhir. Peserta menggunakan alat dan bahan yang sudah disiapkan untuk menyusun berbagai komponen stimulatif seperti:
- Saklar, kancing, grendel, dan resleting untuk latihan motorik halus.
- Peluit, roda, lampu tekan, dan lego baut untuk mengenalkan fungsi dan bentuk.
Semua komponen ditempel secara aman di papan dasar dan diberi sentuhan warna menggunakan cat waterbased agar menarik bagi anak.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kreativitas dan kemampuan teknis ibu dalam menciptakan alat permainan edukatif sendiri di rumah.
d. Sesi 4
Evaluasi dan Refleksi
Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan soal pilihan ganda sederhana yang mengukur perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan. Refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi terbuka, di mana peserta menceritakan kembali pengalaman, kesan, serta rencana tindak lanjut di rumah masing-masing.
Rincian Komponen Busy Board
Busy Board yang dirancang dalam kegiatan ini menggunakan papan plywood berukuran 30×40 cm sebagai dasar utama. Pemilihan ukuran ini mempertimbangkan kenyamanan anak dalam menjelajah alat, sekaligus kepraktisan saat dipasang di rumah atau ruang belajar. Alat permainan ini terdiri dari berbagai komponen yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, namun tetap mengutamakan aspek keamanan dan kelayakan penggunaan bagi anak usia dini.
Busy Board ini tidak hanya berfungsi sebagai media bermain, tetapi juga sebagai sarana stimulasi sensorik dan motorik yang dirancang khusus untuk mendukung tumbuh kembang anak. Melalui prinsip belajar sambil bermain, setiap komponen dalam Busy Board memiliki tujuan edukatif yang spesifik. Berikut adalah komponen-komponen utama beserta fungsi edukatifnya:
- Resleting: Melatih keterampilan membuka dan menutup serta meningkatkan koordinasi tangan dan mata, yang penting untuk kegiatan sehari-hari seperti memakai pakaian.
- Velcro: Mengasah kekuatan jari, melatih genggaman, serta mengenalkan tekstur kasar dan halus kepada anak secara langsung.
- Lampu pencet: Memberikan rangsangan visual yang menarik dan sekaligus mengenalkan anak pada konsep sebab-akibat melalui aksi menekan.
- Fidget spinner: Digunakan untuk meningkatkan fokus dan ketenangan, terutama bagi anak yang memiliki kebutuhan sensorik tertentu.
- Engsel dan grendel pintu: Komponen ini melatih kemampuan manipulatif serta kekuatan tangan, sekaligus memberikan sensasi membuka dan menutup yang memicu rasa ingin tahu.
- Meronce tali: Aktivitas ini sangat efektif dalam mengembangkan koordinasi mata-tangan serta keterampilan motorik halus yang krusial dalam masa pertumbuhan.
- Ball tracker dan bola: Berguna untuk melatih konsentrasi, pelacakan visual, dan koordinasi gerakan mata dengan arah lintasan bola.
- Lego baut: Mengenalkan konsep rotasi dan kekuatan cengkeraman, serta melatih keterampilan konstruktif anak secara sederhana.
- Bel sepeda: Memberikan rangsangan sensorik auditori sekaligus memperkuat hubungan antara gerakan tangan dan keluaran suara.
- Saklar lampu (tanpa listrik): Alat ini berfungsi untuk mengasah motorik halus, logika sederhana, dan mengenalkan fungsi dasar dari benda sehari-hari.
- Kunci lemari: Melatih kemandirian anak dalam membuka dan menutup objek, serta memperkuat kepercayaan diri anak ketika berhasil menyelesaikan tantangan kecil.
- Roda hidup: Komponen ini membantu anak mengenali gerakan memutar serta memperkuat keterampilan koordinasi tangan.
- Peluit: Selain memberikan stimulasi suara, peluit juga berguna untuk melatih kontrol pernapasan dan kekuatan otot oral anak.
- Cat waterbased & kuas kecil: Digunakan untuk proses finishing warna, yang tidak hanya memperindah tampilan papan tetapi juga aman digunakan karena berbahan non-toksik.
- Tali gantung & paku kecil: Disiapkan untuk memudahkan pemasangan Busy Board di dinding rumah atau ruang bermain secara aman dan rapi.
Dalam proses pembuatannya, setiap peserta diberi kebebasan untuk menyusun dan mengombinasikan komponen sesuai dengan kreativitas dan preferensi masing-masing.
Hal ini dimaksudkan agar setiap Busy Board menjadi unik dan mencerminkan kebutuhan serta minat anak secara personal.
Prinsip utama dari desain ini adalah mengedepankan keamanan penggunaan, keanekaragaman fungsi, serta stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Dengan alat ini, diharapkan anak tidak hanya terhibur, tetapi juga terasah kemampuan motorik, kognitif, dan sensoriknya secara menyeluruh.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap, dan pengembangan keterampilan ibu balita sebagai subjek utama dalam pengasuhan anak usia dini. Sebelum pelaksanaan kegiatan, dilakukan pre-test kepada seluruh peserta untuk mengukur tingkat pemahaman awal mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar ibu belum memahami secara utuh konsep gizi seimbang, tahapan perkembangan psikologis anak, serta pentingnya stimulasi motorik dan sensorik yang tepat. Hanya sekitar 25% peserta yang mampu menjawab benar lebih dari separuh soal yang diberikan.
Setelah pelaksanaan kegiatan, dilakukan post-test dengan soal yang sama. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan, dengan lebih dari 80% peserta mampu menjawab benar lebih dari 75% soal. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif dan aplikatif mampu mendorong proses belajar yang efektif. Peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan praktik pengasuhan sehari-hari, seperti menyusun menu seimbang untuk anak, memahami penyebab anak tantrum, hingga mengenali pentingnya permainan edukatif.
Pada sesi pelatihan pembuatan Busy Board, seluruh peserta dapat menyelesaikan alat tersebut dengan baik. Tim KKN mendampingi secara teknis dan mendorong peserta untuk menuangkan kreativitas masing-masing. Komponen yang mereka pilih dan susun sangat beragam, mulai dari resleting, saklar, velcro, roda, engsel, kunci lemari, hingga bel sepeda. Peserta merasa bangga dan puas dengan hasil karya mereka, yang langsung dapat dibawa pulang dan digunakan di rumah.
Dampak lain yang terlihat dari kegiatan ini adalah munculnya dinamika sosial positif di antara para ibu. Mereka saling membantu saat proses perakitan, berbagi pengalaman mengasuh anak, serta menunjukkan minat untuk melanjutkan aktivitas serupa secara mandiri di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan edukatif semacam ini juga mampu memperkuat jaringan sosial antarwarga dan membentuk komunitas belajar yang kolaboratif.
Busy Board dinilai sebagai alat yang tidak hanya bermanfaat untuk anak, tetapi juga mendorong keterlibatan langsung orang tua dalam proses belajar anak. Beberapa peserta menyatakan bahwa selama ini mereka kesulitan menemukan permainan edukatif yang murah dan aman. Dengan pelatihan ini, mereka tidak hanya memiliki alat bermain yang sesuai usia anak, tetapi juga memahami fungsi dan cara menggunakannya dengan tepat.
Secara keseluruhan, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendekatan edukatif berbasis praktik langsung sangat efektif untuk mengatasi keterbatasan literasi dan fasilitas di pedesaan. Edukasi tidak harus mahal atau bersifat formal, melainkan cukup dengan metode sederhana, relevan dengan konteks lokal, dan disampaikan secara menyenangkan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu balita, melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan pengasuhan adalah langkah strategis dalam mewujudkan generasi masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh.
Kesimpulan
1. Kesimpulan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini terbukti berhasil memberikan dampak positif dalam meningkatkan kapasitas pengasuhan anak usia dini di Desa Simbaringin. Melalui rangkaian sosialisasi dan pelatihan yang dirancang secara aplikatif, para ibu balita memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait pentingnya gizi seimbang, aspek psikologi perkembangan anak, serta teknik-teknik stimulasi sensorik dan motorik. Salah satu bentuk nyata dari pelatihan ini adalah pembuatan Busy Board, yang tidak hanya menjadi media edukatif, tetapi juga sarana praktik langsung bagi ibu-ibu untuk menstimulasi perkembangan anak mereka secara kreatif dan menyenangkan.
Peningkatan signifikan terlihat dalam antusiasme peserta, pertanyaan-pertanyaan yang lebih kritis selama sesi diskusi, hingga hasil evaluasi sederhana yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Pendekatan partisipatif yang melibatkan ibu balita sebagai subjek utama, ditambah dengan suasana pelatihan yang komunikatif dan berbasis komunitas, turut memperkuat efektivitas kegiatan ini. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pengasuhan anak dan menjadi langkah konkret dalam upaya pencegahan stunting serta keterlambatan perkembangan anak di tingkat desa.
2. Saran
- Perlu ada replikasi kegiatan ini di desa lain, khususnya yang memiliki tingkat stunting tinggi dan minim edukasi orang tua.
- Diperlukan pelibatan kader kesehatan dan guru PAUD sebagai mitra dalam mendampingi pelaksanaan lanjutan.
- Pemerintah desa dapat mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung program edukasi ibu balita berbasis APE.
- Perlu dikembangkan modul pelatihan sederhana yang dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat.
- Disarankan adanya pelibatan ayah dalam program serupa agar pengasuhan lebih kolaboratif dan menyeluruh.
Penulis:
1. Dr. (Cand.) Fiky Two Nando, S.T., M.T.
2. Muhammad Agung Hudaya
3. Habibatul Awwaliyah
4. Mufti Gezag Satryawan
5. Nabilla Dyah Tristiarni
6. Amelia Wahyu Larasati
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Daftar Pustaka
Afriani, A., & Angraini, V. (2024). Pengaruh Media Busy Board terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak di TK Iqra’Tunggul Hitam Padang. Asia
Astuti, R. P. F., Prastiwi, C. H. W., Kholidah, N. R. J., & Zuhriah, F. (2023). Busy book tematik (media multiliterasi anak). Deepublish.
Syifa, N. H., Briawan, D., & Kustiyah, L. (2022). Pengetahuan gizi dan kesehatan, keragaman pangan serta aktivitas fisik mahasiswa Gizi IPB selama masa pandemi covid-19.
Santrock, J. W. (2011). Life span development 13th edition. McGraw Hill.
Supariasa, I. D. N., Bakri, B., & Fajar, I. (2016). Penilaian status gizi edisi 2. Jakarta: Egc.
Wiyani, N. A. (2014). Psikologi perkembangan anak usia dini. Yogyakarta: Gava Media, 123.
Erikson, E. H. (1950). Childhood and society, New York (WW Norton) 1950.
Prasetyo, A. F., & Rosidah, U. (2023). Pengembangan Media Animal Flash Card Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Kosa Kata Dan Pemahaman Bahasa Anak Usia Dini Di Ra Annuriyah Belikanget. Alzam: Journal of Islamic Early Childhood Education, 3(2), 1-8.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












