Tantangan dan Harapan Sistem Komunikasi Indonesia di Era Digital dalam Pasar Tradisional

Tantangan sistem komunikasi Indonesia
Gambar: Dok. MMI

Di tengah derasnya arus digitalisasi, tidak semua sudut Indonesia bergerak dengan kecepatan yang sama.

Di beberapa kota, bahkan di ruang ruang yang begitu dekat dengan pusat aktivitas ekonomi, masih terdapat wajah lain dari sistem komunikasi kita, salah satunya terlihat di pasar pasar yang berada di pinggiran rel kereta api.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di sana, komunikasi berlangsung sederhana, di mana suara pedagang dan pembeli yang bersahutan tawar-menawar secara langsung, dan informasi yang yang menyebar dari mulut ke mulut.

Pemandangan ini menghadirkan refleksi penting tentang tantangan dan harapan sistem komunikasi Indonesia di era digital 

Pasar di pinggir rel kereta api bukan sekedar ruang ekonomi informal, tetapi juga cermin kesenjangan komunikasi.

Ketika sebagian masyarakat sudah terbiasa dengan transaksi digital, dan pemasaran melalui media sosial, hingga akses informasi secara real-time, tapi sebagian lainnya masih bergantung pada pola komunikasi tradisional.

Baca Juga: Mengapa Informasi Kesehatan di Media Sosial Mudah Dipercaya Meski Tanpa Bukti

Kesenjangan ini bukan semata soal teknologi melainkan juga soal akses, literasi, dan pemerataan. 

Salah satu tantangan utama adalah rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat kecil, banyak pedagang yang belum sepenuhnya memahami cara memanfaatkan teknologi komunikasi untuk mengembangkan usaha mereka.

Padahal, dengan penggunaan sederhana, seperti aplikasi platform jual beli online, jangkauan pasar mereka bisa jauh lebih luas.

Namun, karena keterbatasan pengetahuan tentang penggunaan aplikasi digital membuat peluang ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu sistem komunikasi publik juga masih memiliki celah, informasi penting seperti keselamatan di area rel kereta api, aturan peringatan bahaya sering kali tidak tersampaikan secara efektif kepada masyarakat pasar di sekitaran rel kereta api.

Ini menunjukan bahwa komunikasi tidak hanya soal kecepatan, tapi juga soal ketepatan sasaran.

Baca Juga: Apakah Komunikasi Digital Mendekatkan atau Menjauhkan Masyarakat Indonesia?

Di era digital ini, kehadiran teknologi seharusnya mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang sudah paham dengan digitalisasi. 

Namun di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat harapan yang tidak bisa diabaikan. Perlahan, perubahan mulai terlihat.

Beberapa pedagang mulai menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan pelanggan, menerima pesanan, atau sekedar mempromosikan dagangannya.

Ini adalah tanda bahwa perubahan digital tetap memiliki peluang untuk berkembang secara bertahap.

Harapan lainnya terletak pada peran pemerintah, media, institusi, dan pendidikan dalam membangun sistem komunikasi yang lebih merata.

Edukasi tentang penggunaan media sosial harus diperluas, tidak hanya menyasar ke generasi muda, tetapi juga seluruh masyarakat tanpa pandang bulu.

Selain itu, penyampaian informasi publik perlu dirancang lebih terbuka dan mudah dipahami oleh semua kalangan. 

Baca Juga: Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Adaptasi dan Ancaman Kemunduran?

Pasar di pinggir rel kereta api pada akhirnya menjadi simbol bahwa di tengah kemajuan teknologi, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.

Sistem komunikasi Indonesia tidak hanya dituntut untuk maju, tetapi juga merangkul semua kalangan, era digital seharusnya tidak menciptakan jurang melainkan jembatan penghubung untuk seluruh masyarakat. 

Jika komunikasi adalah nadi kehidupan sosial, maka memastikan alirannya merata adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.

Dari ramainya pasar di pinggir rel kereta api sampai sepinya layar ponsel, Indonesia sedang belajar untuk menyatukan dua dunia tradisional dan digitalisasi dalam satu sistem yang adil dan merata kedepannya.

Keberhasilan sistem komunikasi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjangkau masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan.

Tanpa upaya serius untuk pemerataan akses dan dan literasi, digitalisasi hanya akan menjadi simbol kemajuan semu.

Sudah saatnya sistem komunikasi benar benar menjadi alat pemberdayaan masyarakat, bukan sekedar kemudahan sebagian kalangan saja. 

Artikel opini ini disusun oleh Mokhamad Tegar Surya Pratama dari Prodi Ilmu Komunikasi sebagai bentuk kesadaran terhadap sistem komunikasi Indonesia di era digitalisasi yang sekarang dibimbing langsung oleh Dosen Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.


Penulis: Mokhamad Tegar Surya Pratama (NIM 1152500010)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses