Anak Sering Ngamuk dan Melawan? Yuk Kenali ODD Secara Gampang dan Nggak Ribet!

Anak Sering Ngamuk
Ilustrasi Anak Tantrum (Sumber: MMI)

Hai Moms & Paps!

Moms and paps, pasti pernah ya menghadapi si kecil yang tiba-tiba membantah, marah, atau tidak mau mengikuti aturan. Tenang, itu hal yang wajar kok dalam proses tumbuh kembang anak bukan karena mereka “kurang diajari sopan santun”, tapi karena mereka sedang belajar mengenali perasaan dan mencoba menunjukkan bahwa mereka bisa mandiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tapi… kalau perilaku membangkang itu terjadi terus-menerus, hampir setiap hari, dan mulai mengganggu aktivitas di rumah atau di sekolah, ini saatnya kita lebih peka. Bisa jadi ada kondisi yang perlu kita pahami bersama, yaitu Oppositional Defiant Disorder (ODD) ini adalah gangguan perilaku yang membuat anak lebih mudah marah, menentang, dan sulit mengendalikan emosinya.

Berdasarkan hasil survei kecil yang penulis lakukan, ternyata banyak orang tua yang belum mengenal ODD. Banyak juga yang menganggap perilaku menentang pada anak itu hal yang wajar dan pasti hilang sendiri. Padahal, kalau terjadi berkepanjangan dan mengganggu aktivitas, perilaku ini bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius dan butuh penanganan lebih awal.

Yuk, moms and paps, kita kenali ODD lebih dalam. Bukan untuk menakuti, tapi supaya kita bisa lebih memahami, bukan menyalahkan, dan tahu bagaimana cara membantu anak tumbuh lebih baik. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa jadi support system terbaik untuk mereka.

 

Apa itu Oppositional Defiant Disorder?

Moms and paps, ODD adalah kondisi di mana anak menunjukkan pola perilaku yang lebih sering cepat marah, menentang, dan susah banget diatur dibanding anak lain seusianya. Ini bukan terjadi sesekali ya Moms and paps, tapi berulang selama 6 bulan dan cukup mengganggu aktivitas anak, baik di rumah maupun di sekolah. 

Moms & Paps, anak dengan ODD biasanya punya “gaya” perilaku yang kelihatan jelas banget dalam kesehariannya. Kira-kira bentuknya seperti ini:

  • Cepat tersinggung dan marahnya lama reda.
  • Sering ngeyel, menantang aturan, dan melawan otoritas.
  • Cenderung menyalahkan orang lain dan kadang melakukan “balas dendam kecil” saat kesal.
  • Sering berkata “nggak mau!” bahkan sebelum mendengar instruksi lengkap.
  • Sengaja melanggar aturan kecil atau melakukan hal yang dilarang.
  • Kalau ditegur justru makin ngegas atau menantang balik.
  • Bisa kabur, membanting barang, atau misuh ketika emosinya meledak.
  • Tidak mau mengakui kesalahan dan sering memancing reaksi orang tua atau guru.
  • Sering kehilangan kesabaran.

Perlu Moms & Paps ingat, anak dengan ODD bukan nakal, mereka hanya sedang kesulitan mengatur emosi dan responnya.

 

Kenapa ODD Sering di Salah Pahami? 

Banyak orang tua, guru, bahkan orang di sekitar kita sering salah menilai perilaku anak dengan ODD, bukan karena mereka jahat atau cuek tapi karena kurangnya pemahaman tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kadang tanpa sadar, anak diberi label seperti “nakal”, “bandel”, “nggak bisa diatur”, atau dianggap sengaja bikin masalah. Orang tua pun ikut kena imbas, dianggap “kurang tegas” atau “nggak becus mendidik anak”. Padahal, semuanya nggak sesederhana itu.

Anak sebenarnya sedang berjuang mengendalikan emosinya malah sering disalahpahami dan dijauhi. Orang tua juga jadi serba salah, merasa malu, cemas, bahkan takut pergi ke tempat umum karena khawatir akan komentar yang muncul seenaknya.

Padahal Moms & Paps, anak dengan ODD bukan anak nakal. Mereka hanya belum bisa mengelola emosinya dengan baik dan orang tua bukan gagal mendidik, mereka justru sedang berusaha sekuat tenaga menjadi pendamping terbaik untuk anaknya.

Itulah kenapa dukungan lingkungan sangat berarti. Lingkungan yang memilih untuk memahami daripada menghakimi, bisa membuat perjalanan orang tua lebih ringan dan membuat anak merasa diterima.

Karena itu, yuk mulai ubah cara pandang kita. Bukan lagi buru-buru memberi label, tapi memberi anak ruang untuk belajar mengelola emosinya. Bukan sibuk menyalahkan, tapi mencoba memahami apa yang sedang ia hadapi. Dan bukan menilai dari luar, tapi hadir sebagai pendamping yang sabar, yang mau berjalan bersama anak di setiap prosesnya.

 

Mengapa Anak Bisa Mengalami Oppositional Defiant Disorder?

Moms & Paps, penting untuk kita pahami bahwa ODD muncul karena adanya berbagai faktor yang saling berhubungan. Yuk kita lihat beberapa penyebab yang paling umum:

1. Anak Kesulitan Mengatur Emosi

Sebagian anak lebih sensitif dan mudah marah karena belum bisa menenangkan diri atau menyampaikan perasaan dengan baik, mereka sering mengekspresikannya lewat perilaku melawan atau membantah.

Baca juga: Pentingnya Memperkenalkan Emosi pada Anak

2. Pola Asuh yang Tidak Konsisten

Aturan yang berubah-ubah, terlalu keras, atau terlalu longgar dapat membuat anak menjadi bingung sehingga jadi lebih mudah menentang atau menolak.

3. Lingkungan yang Penuh Konflik

Suasana rumah yang sering tegang atau penuh pertengkaran dapat memicu anak menirukan atau melampiaskan stresnya melalui perilaku menentang.

4. Pengalaman Buruk di Sekolah atau Lingkungan

Anak yang merasa tidak nyaman, sering ditegur, dibully, atau kesulitan belajar bisa mengekspresikan stresnya lewat perilaku membangkang.

5. Faktor Biologis atau Bawaan Sejak Kecil

Beberapa anak memang memiliki temperamen yang lebih kuat atau ada kondisi bawaan yang membuat mereka lebih mudah bereaksi berlebihan terhadap situasi tertentu.

Apa dampaknya kalau tidak ditangani?

Moms & paps, penting untuk memahami bahwa ODD bukan sekedar anak suka membantah. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa berdampak pada berbagai aspek kehidupan anak. Berikut dampak yang paling sering terjadi:

  • Sering berkonflik dengan orang tua dan keluarga
  • Kesulitan mengikuti aturan di rumah maupun sekolah
  • Penurunan prestasi atau masalah belajar
  • Sering ditegur atau diberi sanksi di sekolah
  • Kesulitan menjalin dan mempertahankan pertemanan
  • Mudah dijauhi atau disalahpahami teman
  • Anak semakin mudah stres, frustasi, dan merasa tidak dipahami
  • Meningkatnya resiko perilaku agresif atau melawan saat remaja
  • Menurunnya kepercayaan diri dan kemampuan mengelola emosi.

Makanya moms & paps, mengenali dan menangani ODD lebih cepat akan sangat membantu masa depan anak.

 

Bagaimana Cara Membantu Anak dengan Oppositional Defiant Disorder?

ODD bisa ditangani dengan cara yang tepat dan konsisten. Berikut langkah-langkah yang paling membantu:

1. Konsultasi dengan Profesional

  • Membawa anak ke psikolog anak atau terapis perilaku.
  • Profesional akan membantu anak belajar mengontrol emosi dan memberi panduan untuk orang tua.

2. Terapkan Aturan yang Jelas dan Konsisten

  • Buat aturan sederhana dan mudah dipahami.
  • Jelaskan konsekuensi yang tetap dan tidak berubah-ubah.
  • Hindari ancaman berlebihan atau aturan yang tidak realistis.

3. Berikan Pujian untuk Perilaku Baik

  • Fokus pada hal positif, sekecil apa pun.
  • Memberi pujian dapat membuat anak merasa dihargai dan lebih mau bekerja sama.

4. Hindari Berdebat Panjang

  • Saat anak membantah, tetap tenang.
  • Jangan terpancing emosi karena anak bisa semakin melawan.

5. Bantu Anak Melatih Pengendalian Emosi

  • Ajak anak untuk mengatur pernapasan, mengambil waktu tenang (cooling down).
  • Menggunakan kata-kata untuk menyampaikan perasaan.
  • Mengenali kapan mereka mulai kesal.

6. Berikan Rutinitas yang Teratur

  • Jadwal yang konsisten membuat anak merasa aman dan terarah.
  • Rutinitas membantu anak tahu apa yang diharapkan setiap hari.

7. Ciptakan Lingkungan Rumah yang Tenang

  • Kurangi teriakan, kritik, dan konflik di depan anak.
  • Lingkungan yang hangat membuat anak lebih mudah belajar memahami diri.

8. Bangun Komunikasi yang Hangat

  • Dengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi.
  • Tunjukkan bahwa moms & paps memahami perasaannya.

Baca juga: Pendidikan Moral Anak Usia Dini: Peran Penting Orang Tua dalam Membentuk Karakter

Moms & Paps, setiap anak punya cara berbeda dalam menunjukkan apa yang mereka rasakan. Untuk beberapa anak, ekspresinya mungkin terlihat “keras”, tapi sebenarnya mereka sedang butuh bantuan untuk memahami diri sendiri. Dengan kita sebagai orang tua yang mau belajar, mau mendengar, dan mau hadir tanpa menghakimi, proses mereka akan terasa jauh lebih ringan.

Ingat, memahami ODD bukan soal mencari siapa yang salah, tapi tentang bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk belajar mengelola emosinya. Setiap langkah kecil yang dilakukan seperti melatih kesabaran, memberikan batasan yang konsisten, atau mencari bantuan profesional itu adalah bentuk kasih sayang yang sangat besar untuk perkembangan mereka.

Semoga tulisan ini bisa jadi pegangan sederhana buat Moms & Paps dalam mendampingi si kecil. Yuk terus berjalan dengan hati yang tenang, pikiran yang terbuka, dan niat baik untuk tumbuh bareng anak-anak kita.

 

Penulis:

  1. Hanayra Yulza Pertiwi
  2. Bintang Adriani Sianturi
  3. Tasya Ananda Wana
  4. Adelia Ruth Tesa Sitepu

Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses