Transformasi digital sering kali diperkenalkan sebagai solusi dari permasalahan pembangunan, seperti peningkatan produktivitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendidikan, dan lainnya.
Begitu pun juga dengan kebijakan nasional, seperti visi Indonesia Emas 2045, yang menjadikan digitalisasi sebagai fondasi, dengan asumsi bahwa kemajuan teknologi membuka peluang kesetaraan di seluruh wilayah.
Namun, yang terjadi menunjukkan paradoks, di mana, transformasi digital juga berpotensi memperdalam ketimpangan antarwilayah dan antarkelompok sosial.
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan data bahwa tingkat penetrasi internet di Pulau Jawa telah melampaui 80 persen, namun banyak provinsi di Indonesia Timur masih berada jauh di bawah angka tersebut.
Dengan kata lain, transformasi digital berlangsung dalam struktur ketimpangan yang sudah ada sebelumnya.
Dalam konteks pendidikan, laporan Bank Dunia menegaskan bahwa salah satu faktor penting dalam meningkatkan mobilitas sosial dan menurunkan tingkat kemiskinan adalah pendidikan berkualitas.
Namun, pendidikan berkualitas dengan teknologi yang memadai cenderung terkonsentrasi di wilayah dengan infrastruktur, institusi, dan sumber daya yang sudah relatif maju. Indonesia bagian timur berada dalam posisi yang rentan dalam paradoks ini.
Walaupun beberapa wilayah sudah mengalami peningkatan dalam akses internet dan penetrasi teknologi, ketimpangan kualitas akses dan kesempatan tetap besar.
Intervensi kebijakan yang kuat sangat diperlukan untuk mencegah terciptanya bentuk baru dari ketergantungan dan eksklusi.
Dalam keadaan inilah, program pelatihan teknologi berstandar global sering dipandang sebagai solusi instan untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Namun, jika tidak dirancang secara kritis dan inklusif, program semacam ini berisiko menjadi bagian dari paradoks itu sendiri.
Oleh karena itu, diskursus transformasi digital akan terus disertai pertanyaan mendasar tentang keadilan: digitalisasi untuk siapa, dan siapa yang justru tertinggal di belakangnya?
Sulawesi Selatan: Potensi Besar, Akses yang Tidak Merata
Dalam pembangunan kawasan timur Indonesia, Sulawesi Selatan kerap menjadi posisi kunci dengan modal geografis yang signifikan.
65% penduduknya berada dalam usia yang produktif, dan menjadi peluang emas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya manusia.
Ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar, adalah pusat perdagangan, pendidikan, jasa, dan menjadi simpul yang menghubungkan wilayah barat dan timur Indonesia.
Namun, potensi struktural tersebut tidak serta-merta berbanding lurus dengan pemerataan akses terhadap pendidikan dan keterampilan digital.
Meskipun penetrasi internet di Sulawesi Selatan meningkat pesat, distribusi aksesnya timpang antara kawasan perkotaan dan pedesaan.
Ketimpangan ini semakin jelas ketika dikaitkan dengan akses terhadap pendidikan teknologi tingkat lanjut.
Sebagian besar pelatihan digital, inkubator startup, dan fasilitas pendidikan berbasis teknologi terkonsentrasi di kota besar dan institusi tertentu.
Dalam keadaan tersebut, transformasi digital di Sulawesi Selatan berisiko menghasilkan satu kelompok kecil yang terintegrasi dengan ekonomi digital global dan menikmati manfaat inovasi teknologi, dan kelompok besar lainnya yang tertinggal sebagai pengguna pasif tanpa peningkatan kapasitas yang signifikan.
Tantangan utama Sulawesi Selatan bukan terletak pada ketiadaan potensi atau minimnya infrastruktur awal, melainkan pada bagaimana potensi tersebut dikelola secara adil dan inklusif.
Apple Developer Academy: Peluang atau Reproduksi Eksklusi?
Kehadiran program Apple Developer Academy di Indonesia, terlebih lagi di Sulawesi Selatan, berkesan sebagai terobosan penting dalam usaha mempercepat pengembangan talenta digital nasional.
Kesan ini beriringan dengan program tersebut yang membawa kurikulum berstandar global, akses ke ekosistem teknologi internasional, dan peluang koneksi generasi muda dengan industri digital dunia.
Dengan kondisi institusi pendidikan lokal yang menyediakan pelatihan teknologi lanjut terbatas, Apple Developer Academy menjadi harapan baru, terlebih lagi di kawasan yang bukan pusat-pusat ekonomi nasional.
Namun, peluang tersebut tidak bersifat inklusif sepenuhnya. Ini berhubungan dengan logika dasar bahwa, program pelatihan berstandar global secara alamiah berjalan dalam sistem seleksi yang ketat, baik dari sisi kemampuan dasar teknologi, kesiapan waktu, dan akses terhadap informasi.
Kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan baru, bukan karena niat eksklusif, namun perbedaan yang sudah dari awal pada titik sosial dan ekonomi calon peserta.
Dilema pembangunan digital muncul pada kondisi tersebut, sehingga, kebijakan pendukung yang memadai sangat diperlukan untuk menghindari konsentrasi terhadap kelompok yang sudah relatif siap saja.
Tantangan tersebut tidak dapat diletakkan pada aktor korporasi saja. Persoalan utamanya justru terletak pada bagaimana negara dan pemerintah daerah memposisikan program tersebut dalam kerangka pembangunan lokal.
Jika dirancang dengan strategis, program Apple Developer Academy dapat menjadi katalis pemerataan.
Misalnya, melalui kebijakan afirmatif bagi peserta dari daerah tertinggal, penguatan pra-pelatihan berbasis komunitas lokal, atau integrasi kurikulum dengan institusi pendidikan daerah.
Pendekatan-pendekatan seperti demikian akan berpeluang lebih dari mencetak talenta unggul secara individu, namun juga memperkuat ekosistem digital secara kolektif.
Peran Negara dan Desain Pembangunan Berkeadilan
Negara tidak dapat diposisikan sekadar sebagai fasilitator yang bersifat pasif dalam inisiatif ketika membicarakan pembangunan berkelanjutan.
Negara harus memiliki peran krusial, terlebih lagi ketika melibatkan aktor korporasi multinasional yang logika ekonomi dan pasarnya sangat dominan.
Krusialnya peran negara juga terdapat dalam memastikan bahwa transformasi digital selaras dengan prinsip no one left behind yang menjadi inti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengembangan talenta digital tidak memperdalam ketimpangan struktural yang telah ada.
Ini mencakup bagaimana pemerintah negara harus mampu membuat kebijakan yang menjangkau kelompok marjinal, seperti pemuda dari wilayah desa, masyarakat berpendapatan rendah, dan latar belakang pendidikan nonteknologi.
Negara harus memastikan bahwa program pelatihan global terintegrasi secara struktural dengan sistem pendidikan nasional dan daerah.
Integrasi ini penting agar transfer pengetahuan bersifat memperkuat kapasitas institusi lokal secara berkelanjutan, tidak bersifat sementara dan khusus.
Dengan demikian, negara bukan sekadar penerima manfaat dari arus globalisasi, tetapi aktor yang bernegosiasi, mengatur, dan membatasi kepentingan global agar selaras dengan agenda nasional.
Keberhasilan transformasi digital di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur secara umum akan ditentukan oleh sejauh mana negara mampu memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat emansipasi sosial.
Kesimpulan: Digitalisasi untuk Siapa?
Apple Developer Academy di Sulawesi Selatan memang dapat menjadi peluang strategis dalam pengembangan talenta digital di Indonesia Timur.
Namun, peluang ini hanya akan bermakna jika ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang berkeadilan.
Untuk menjaga keadilan tersebut, diperlukan kehadiran negara dengan regulasi yang kuat, desain inklusif, dan keberpihakan pada kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Sehingga, program global semacam ini tidak berisiko memproduksi ketimpangan digital yang sudah ada selama ini.
Tantangan utama pembangunan digital di Indonesia tidak sebatas tentang menghadirkan teknologi atau program berstandar global.
Lebih jauh dari itu, kita harus dapat memastikan bahwa manfaat transformasi digital dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Transformasi digital yang berkelanjutan bukan diukur dari seberapa cepat Indonesia mengikuti arus teknologi global, tetapi dari seberapa adil akses dan dampaknya bagi seluruh lapisan masyarakat, serta ketahanannya sebagai fondasi keberlanjutan.
Penulis: Matthew Anggi Halomoan Napitupulu
Mahasiswa Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












