Selama berabad-abad, kita seringkali hanya sibuk mencari bantuan ketika kondisi mental sedang sangat buruk. Kesehatan bergerak menyesuaikan di mana rentang antara benar-benar sehat atau benar sakit.
Saat kita sedang menunda pengobatan kala merasakan “sakit”, sebenarnya kita sedang melakukan upaya yang tidak efisien secara waktu dan biaya. Sehingga, pola perilaku ini perlu diubah dengan menggeser prinsip kuratif (mengobati) menjadi preventif (mencegah). Termasuk dalam ilmu psikologi yang menjadikan prevensi bukan soal menghindari tapi bagaimana mempersiapkan diri.
Tiga Lapis Benteng Pertahanan Mental
Dalam kesehatan masyarakat, kita mengenal tiga tingkatan prevensi yang bisa menjadi strategi bersama:
1. Prevensi Primer
Prevensi Primer sebagai langkah pertama dan paling progresif untuk dilakukan selama kondisi kesehatan stabil atau prima. Tujuannya adalah mengubah lingkungan dan meningkatkan kemampuan diri dalam memahami gangguan.
2. Prevensi Sekunder
Prevensi Sekunder fokusnya pada identifikasi dan intervensi cepat untuk mencegah gangguan terus belanjut atau guna mengurangi durasi gangguan dan membantu orang untuk kembali berfungsi dalam masyarakat.
3. Prevensi Tersier
Prevensi Tersier sebagai langkah yang cenderung pada aktivitas rehabilitasi pada gangguan kronis dan membantu individu untuk kembali berfungsi serta membaur dengan masyarakat.
Selain prevensi atau pencegahan, terdapat sebuah aktivitas yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental, yaitu promosi. Kegiatan ini ditujukan kepada khalayak ramai atau masyarakat umum-mulai dari bayi hingga lansia-mencakup seluruh kegiatan dan pembinaan serta informasi yang diperlukan guna mencegah gangguan mental terus berkembang.
Sehingga, individu dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki. Kegiatan prmosi ini dibagi menjadi beberapa kelompok usia sebagai berikut:
1. Bayi
Mencakup kegiatan yang diberikan kepada orang tua dengan kegiatan program perawatan harian, pelatihan dan pendidikan pengasuhan, serta pendidikan dan informasi pemberian makanan.
2. Anak-anak
Mencakup kegiatan yang diberikan kepada orang tua dengan kegiatan berupa pemberian informasi dan pendidikan perawatan-pengasuhan, pendidikan dan sekolah dasar, serta pemberian kesempatan bermain.
3. Remaja dan Pemuda
mencakup kegiatan olahraga dan beraktivitas, belajar menjalankan peran baru di lingkungan sosial, serta bimbingan dan konseling pranikah.
4. Dewasa
Mencakup kegiatan penempatan kerja yang sesuai, pengurangan dan managemen stres kerja, serta peningkatan interaksi dengan anggota keluarga.
5. Lanjut Usia
Mencakup kegiatan konseling berkaitan dengan usia dan resiko kesehatan mentalnya, pemberian peran yang relevan dengan masa lalu, serta peningkatan kontak sosial keluarga dan lingkungannya.
Contoh Kegiatan Prevensi Kesehatan Mental dalam Membangun Keluarga
Lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kesehatan individu adalah keluarga. Dalam pola asuh keluarga yang hangat, penuh rasa aman, kasih sayang, komunikasi terbuka, dan rasa penerimaan akan membuat keluarga menjadi faktor protektif yang kuat untuk gangguan mental setiap individu.
Sebaliknya, apabila keluarga dipenuhi dengan rasa tidak aman, konflik berkepanjangan, kurangnya dukungan emosional, atau terdapat pola asuh otoriter dapat menimbulkan masalah atau gangguan psikologis untuk setiap individu.
Dalam hal ini, berbagai jenis program untuk membangun keluarga memiliki andil yang penting sebagai bentuk dari prevensi keluarga kesehatan mental. Salah satu program prevensi Kesehatan mental yang nyata dapat ditemukan pada program Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Ponorogo.
Melalui program seperti Kampung Keluarga Berkualitas atau sering disebut dengan kampung KB. Program ini bertujuan membekali remaja dengan pengetahuan tentang perkembangan diri, kesiapan mental, dan keterampilan dalam mengambil sebuah keputusan dalam hidup.
Selain itu, program ini juga berisi tujuan dalam mencegah adanya pernikahan dini. Fenomena pernikahan dini ini memiliki implikasi besar terhadap Kesehatan mental, mengingat pernikahan dini kerap berkaitan dengan tekanan psikososial, konflik rumah tangga, dan rendahnya kesiapan emosional.
Jika ditinjau dari sudut pandang teori psikologi, pendekatan ini sejalan dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yang menunjukkan pentingnya dalam pemenuhan kebutuhan seperti akan rasa kasih sayang atau rasa cinta, rasa aman, serta pentingnya memiliki fondasi kesehatan mental.
Simpulan
Kegiatan pencegahan bukan berarti memiliki hasil yang tampak instan dan terlihat dengan jelas, namun pencegahan merupakan sebuah investasi jangka panjang yang bijaksana guna meningkatkan kesehatan mental. Dengan meningkatkan upaya pencegahan dan promosi, kita tidak hanya ‘bebas dari penyakit’ namun dapat hidup menjadi lebih produktif dan berkontribusi kepada komunitas.
Penulis:
- Oktaviana Khoirun Nisa
- Ardyna Ayu Mahardhien
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













